Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 64


__ADS_3

Dena tidak bisa tidur. Bayangan tentang Bima dan Lily terus hadir di otak cantiknya. Dia duduk di atas ranjang dengan memeluk kedua kakinya. Dagunya ia tumpukan di atas lutut. Secarik kertas di tangannya sudah kusut ia remas. Air matanya meleleh tidak mau berhenti.


'Kalau saja aku bisa memberikan keturunan aku pasti gak akan rela kamu sama orang lain, mas! Maaf karena aku tidak bisa menjadi wanita yang sempurna buat kamu! Aku harap kita akan mendapatkan anak dari Lily. Anak kamu dan Lily! Aku harap kamu akan bahagia sama Lily!'


Dena menelungkupkan wajahnya di atas lututnya, membiarkan air matanya jatuh meluncur bebas di pahanya.


Seseorang membuka pintu, tapi tidak membuat Dena mendongak untuk melihatnya. Orang itu duduk di tepian ranjang, dan memeluk Dena dengan sayang. Membelai rambut lembut Dena dan satu tangannya lagi menepuk punggung Dena, memberikan kekuatan pada wanita yang disayanginya ini.


"Kenapa harus aku mas?" lirih Dena di sela tangisnya.


Pria yang di panggil 'mas' itu hanya terdiam, dia tahu Dena tidak butuh jawaban. Pria itu mengecup puncak kepala Dena berkali-kali, lalu berakhir di keningnya. Dia membiarkan Dena menangis di dalam pelukannya, lama hingga akhirnya Dena menjadi tenang dan tertidur di dalam dekapannya.

__ADS_1


Di baringkannya tubuh Dena di atas kasur, dan menyelimutinya hingga sebatas dada. Lalu kembali mencium kening Dena dengan penuh kasih sayang. Di tatapnya Dena, wanita yang sangat berarti di dalam kehidupannya, yang semakin hari semakin kurus. Wajahnya tidak lagi berseri seperti dulu. Sinar matanya semakin meredup seiring dengan masalah yang di hadapi wanita ini. Dena adalah wanita yang kuat.


Dia tahu keputusan Dena untuk menikahkan Bima dengan Lily adalah keputusan yang tepat meskipun sebenarnya Dena pun tersiksa. Rasanya ia ingin menggantikan semua kesusahan Dena, atau setidaknya mengurangi beban yang ada di pundak Dena. Kembali ia melabuhkan bibirnya di kening Dena sebelum ia kembali ke rumah belakang untuk beristirahat.


***


Lily terbangun dari tidurnya, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya matahari yang membuat pandangannya terasa silau. Tidurnya sangat nyenyak semalam, dan Lily bermimpi indah. Entah kenapa rasanya sangat nyaman sekali hingga Lily rasanya enggan untuk bangun dalam pelukan hangat seseorang.


Lily melihat sebuah tangan melingkar di perutnya. Seperti tangan seorang pria. Dan Lily juga merasakan hangat nafas seseorang di lehernya. Punggungnya juga terasa hangat sekali.


Lily menolehkan kepalanya. Bima! Dan mereka tidur tanpa space bantal guling seperti semalam.

__ADS_1


"Aaaaa....!!" Lily refleks berbalik dan tidak sengaja kaki dan tangannya bergerak hingga Bima terdorong dan jatuh ke lantai.


"Awww!!" suara Bima dari bawah tempat tidur. Dia kemudian duduk sambil memegang kepalanya yang tadi terantuk ke lantai.


"Mas Bima ngapain disini?!" teriak Lily terduduk di atas tempat tidur sambil membungkus dirinya dengan selimut ke tubuhnya sampai kepalanya, dan hanya terlihat wajahnya saja. Matanya melotot ketika melihat Bima hanya tidur dengan menggunakan celana bokser. Bima masih belum tersadar sepenuhnya hingga ia merasa sakit telinga ketika mendengar teriakan Lily selanjutnya.


"Hei, lihat dimana ini! Ini kamarku!" teriak Bima membuat Lily terdiam lalu tersenyum malu bercampur bingung setelah mengedarkan pandangannya ke sudut kamar. Benar ini kamar Bima!


"Eh? Kenapa aku bisa ada disini?" lirih Lily bingung, masih memandang kamar Bima dari kiri ke kanan dan sebaliknya.


"Kayaknya semalam aku tidur di...ruang tv." ujar Lily pelan seraya berfikir. "Kok bisa ada disini?"

__ADS_1


__ADS_2