Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 37


__ADS_3

"Mbak aku pamit ya!" Lily melambaikan tangan ke arah Dena, Dena dari teras rumah pun membalas lambaian tangan madunya yang berada di dalam mobil.


"Mbak kapan-kapan main ke rumah ya!" Dena membalas dengan anggukan kepala.


Mobilpun berlalu. Dena kembali ke dalam rumah.


Setengah jam kemudian, mobil sudah sampai di depan rumah. Lily turun dari mobil menyusul Bima yang sedang membuka pintu bagasi. Lily mengambil barang belanjaannya dengan susah payah dan berjalan menuju pintu rumah.


Bima yang melihat Lily kesusahan merebut plastik besar dari tangan Lily dan membiarkan Lily membawa belanjaan dengan plastik kecil. Lily segera membuka pintu.


"Aku akan pulang, kamu hati-hati di rumah!" ucap Bima saat sudah menaruh barang belanjaan di dapur. Lily mengangguk saat Bima mengingatkan.


"Iya pak!"


"Panggil aku bapak di kantor saja. Di rumah panggil aku 'mas'." ucap Bima sambil berlalu.


"Iya baik."

__ADS_1


Lily mengikuti Bima dari belakang hingga Bima telah sampai di depan mobilnya.


"Ingat jangan sampai ada tamu laki-laki masuk ke dalam rumah. Bahaya!"


Lily mengangguk senang, bibirnya tersenyum mendapat perhatian dari Bima. Bima membuka pintu mobilnya kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


***


"Mas tadi siang mama telfon aku katanya mama ngajak makan malam bersama di rumah, tapi mas perginya sama Lily ya. Aku ada janji sama Hesti. Gak pa-pa kan?" Dena membantu Bima membuka dasi yang melilit di lehernya.


"Kenapa Hesti?"


"Harusnya kamu tolak ajakan mama untuk makan malam."


"Gak enak lah mas. Masak keinginan mama di tolak. Mama itu kangen sama anaknya. Kamu juga udah lama kan gak ketemu mama sama papa? Dasar anak durhaka!" canda Dena sambil mencubit keras hidung Bima. Bima hanya tersenyum menerima perlakuan istrinya. Dia mengambil tangan Dena dan mendekatkan wajahnya. Menciumi wajah sang istri yang sudah lama menjadi candunya.


Dena terhanyut dalam permainan suaminya hingga ia tak sadar sekarang sudah berada di bawah tubuh suaminya di atas kasur. Mereka masih bercumbu, hingga Dena tersadar saat suara telfon berdering untuk ketiga kalinya.

__ADS_1


"Iya Hes?"


"..."


"Oh. Oke. Aku kesana sekarang!"


Telfon di matikan.


"Mas. Maaf aku tinggal sekarang ya. Jangan lupa jemput Lily." ucap Dena sambil memakai sweternya lalu meninggalkan Bima yang masih terpaku di atas kasur.


Akhirnya malam ini Bima pergi ke rumah otangtuanya mau tidak mau bersama dengan Lily karena sang mama juga menelfon Lily agar ikut makan malam bersama. Bima terpaksa menjemput Lily walaupun sebenarnya enggan.


"Maaf ma, Dena sibuk. Dia ada janji sama Hesti." Bima menyambut tangan sang mama dan menciumnya dengan khidmat, begitu pula dengan sang papa. Lily pun melakukan hal yang sama pada keduanya.


"Ya sudah. Dena atau Lily sama saja. Bahkan lebih bagus kalau keduanya yang datang. Senyum Ratih memgembang saat melihat Lily datang dengan Bima.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, berbincang sedikit lalu melanjutkannya ke meja makan. Ada banyak hidangan disana.

__ADS_1


Mereka makan dengan diam, aturan di meja makan tidak boleh bersuara, bahkan dentingan sendok pun sepertinya di larang terdengar.


__ADS_2