Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 109


__ADS_3

Pagi ini aku pergi ke kantor sebentar, untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.


Tok. Tok.


suara pintu di ketuk dari luar, lalu terbuka dan terlihatlah seorang gadis yang membawa beberapa map di tangannya.


Dia menyerahkan map itu padaku, tapi wajahnya tidak seperti biasanya. Dia gugup dan gelisah.


"Kenapa kamu? sakit?" tanyaku saat dia saling meremas jari tangannya. Ku buka dan ku baca isi map itu.


"Umm. Apa... mas udah bilang yang... kita bicarain kemarin?" keningku mengkerut. Kemarin?


"Yang itu... soal aku mau mundur dari kalian!" ucapnya lagi terbata. Aku menghela nafas berat. Aku lupa!


"Belum." ucapku. Air mukanya berubah sendu. "Dena sedang sibuk akhir-akhir ini. Aku gak bisa ganggu dia sekarang dengan masalah ini." ku serahkan beberapa map tadi padanya lagi. Dia masih mematung dengan map yang kini di pelukannya. Seperti ada hal lain yang akan dia katakan, tapi sulit.


"Apa lagi?" dia menggeleng lalu pergi. Aku meneruskan pekerjaanku lagi.


Ah ya ampun. Bagaimana ini. Aku juga tidak ingin memaksa Lily dengan pernikahan pura-pura ini, tapi semalam malah Dena membuatku merasa akan sulit menjauhi Lily dengan keinginan Dena yang ingin Lily tinggal bersama kami.


Aku berdiri dan menuju jendela, kopi di tanganku ku sesap perlahan. Menikmati pemandangan di luar yang biasanya bisa membuatku sedikit rileks, tapi kali ini tidak!

__ADS_1


Ku dengar pintu kembali terbuka, tapi aku sudah tidak ada minat untuk melihat siapa yang datang.


"Mas." panggilnya. Aku menolehkan kepalaku perlahan. Lily dengan sikap yang sama gugup dan gelisah.


Aku memutar diriku dan bersandar pada dinding, menatapnya tajam. Satu tangan terlipat di depan perutku dan satu tangan lagi memegang cangkir kopi di depan mulutku.


"Aku akan ke Bali dan pulang lusa. Bisa kamu atur ulang jadwal ku?" Lily terdiam.


"Oke. Aku akan bicarakan ini sama Dena, tapi setelah aku pulang dari Bali." kali ini Lily mengangkat kepalanya dan tersenyum.


"Trimakasih mas." ucapnya lalu pergi meninggalkan aku sendiri.


Ah biarlah. Justru itu akan lebih baik kan. Pisah dengan Lily dan aku bisa fokus untuk memberikan waktu dan perhatianku pada Dena.


Dua hari aku pergi ke Bali untuk mengurus pembangunan hotel yang macet. Ah sudahlah pusing jika harus ku uraikan bagaimana kejadian disana.


Aku kembali lagi ke Jakarta. Dena menyambut kepulanganku seperti biasanya. Dia menjadi obat lelahku selama ini. Senyumannya, kasih sayangnya, dan perlakuan lembutnya.


"Na. Besok malam kamu ada waktu? Aku dan Lily ingin bicara sesuatu sama kamu. Kita makan malam di tempat biasa." ucapku saat Dena menaikan selimutnya. Dena mengangguk.


"Oke, aku juga ingin bicara sesuatu sama kalian."

__ADS_1


"Apa?" tanyaku.


"Rahasia!" ucapnya dengan senyum menggoda lalu membelakangiku. Ku peluk dia dari belakang, dan ku ciumi pundaknya beberapa kali, membuat dia terkekeh geli.


"Kamu belum cukuran ya? Geli tahu!" ucapnya terkikik. Bukannya berhenti aku malah menyerangnya lagi dengan ciumanku.


Bima pov end.


***


Malam ini Bima, Dena, dan Lily sedang duduk di restoran ternama. Mereka duduk di meja yang melingkar. Hidangan mewah sudah tersedia di depan mereka. Mereka makan malam terlebih dahulu sebelum perbincangan yang akan mereka bicarakan.


Mereka bertiga selesai makan, dan kini menikmati dessert.


"Ah ya, sebelumnya aku punya sesuatu untuk kalian." ucap Dena lalu mengambil papperbag yang ada di bawah meja. Bima dan Lily saling pandang, lalu pandangan mereka beralih pada papperbag yang kini ada di tangan Lily.


"Coba buka." Dena tersenyum.


Lily mengambil isi dari dalam sana dan melihatnya dengan seksama. Setelan baju jas kecil abu-abu dengan pita kupu-kupu di bawah kerah bajunya. Bima hanya diam melihat apa yang di pegang Lily. Satu lagi. Lily mengeluarkan satu lagi yang ada di dalam sana. Kini baju dress lucu dengan warna soft pink, dengan renda dan aksen bunga-bunga mawar di seluruh bagian atasnya.


"Aku gak tahu nanti anak kalian laki-laki atau perempuan. Jadi aku buat keduanya." Dena tersenyum bahagia, membuat Bima dan Lily kembali saling berpandangan.

__ADS_1


__ADS_2