
Lily termenung di kamarnya, sepulang dari kantor di jam istirahat ia berbaring telungkup memeluk bantal guling, sambil menatap foto pernikahan dirinya dengan Bima dari hpnya.
Semalam rencananya untuk berbicara tentang kelanjutan hubungan mereka malah berakhir dengan aktifitas yang sangat panas. Lagi-lagi Lily kembali membayangkan hal yang 'iya-iya'.
'Apa nanti malam mas Bima akan pulang lagi kesini? Apa nanti aku akan tidur sekamar lagi sama mas Bima? Apa nanti akan...'
"Ahh ya ampun. Otakku! Kenapa ini?" Lily berteriak sendiri di dalam kamarnya sambil menghantamkan kepalanya ke bantal guling yang ada di bawahnya. Bayangan itu tetap tidak mau pergi meski Lily berusaha keras. Semakin membuat pipinya terasa panas.
Padahal semalam Lily akan memutuskan untuk pergi dari kehidupan Bima. Menjalani kehidupannya seperti dulu meskipun mungkin rasanya tidak akan sama lagi sebelum Bima sudah terlanjur tersemat di dalam hati Lily. Tapi kejadian semalam membuat Lily merasa bingung. Mungkinkah Bima sudah berubah dan mulai membuka hatinya?
Senyum Lily berkembang di wajah cantiknya.
*
Bima menatap gundukan tanah di hadapannya. Bunga baru yang masih segar baru saja ia taburkan di atas tanah pemakaman sang istri.
Ia berjongkok di depan tempat peristirahatan terakhir Dena. Menatap nanar pada nisan yang bertuliskan nama istrinya.
Air matanya keluar tanpa bisa di cegah. Merasa sedih, bingung, kecewa, dan marah di saat yang bersamaan pada dirinya sendiri. Jika saja Dena masih ada pastilah semua ini tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
Lily bisa mendapatkan kebebasannya dan Bima juga tidak akan merasa menghianati Adit yang mencintai Lily.
"Apa yang harus aku lalukan, Na?" taya Bima pada nisan yang tak mungkin menjawab. Bima mengusap pelan nisan kayu seakan membelai lembut pipi Dena.
"Aku sudah banyak bohong sama kamu. Dan sekarang aku merasa melukai kamu semakin dalam kan? Aku udah hianatin kamu, Na. Maaf." ucap Bima lalu kembali mengusap nisan itu perlahan. Sepuluh menit kemudian ia memilih untuk pulang. Pulang ke tempat kediamannya bersama Dena.
Mobil berhenti di garasi. Biasanya Dena akan menyambutnya dengan senyuman manis yang mengembang di bibirnya, tapi kali ini tidak ada lagi.
Hati Bima merasa sakit, merasa hampa, kehilangan sudah pasti. Apalagi saat mulai melangkahkan kaki ke dalam kamar mereka. Hanya bayangan Dena saat duduk di depan cermin riasnya sedang mengeringkan rambut dengan hairdryer, lalu beralih pada ranjang, dimana Dena sedang sengaja berbaring menggodanya dengan memakai gaun tidur satin yang seksi.
'Siapa yang akan menenangkanku sekarang kalau tidak ada kamu, Na!' batin Bima sambil mengusap foto Dena di tangannya.
Lily kecewa, sudah hampir jam sebelas malam tapi tidak ada tanda-tanda Bima akan pulang. Setiap suara mobil yang mendekat Lily akan berlari ke arah kaca, mengintip keluar, tapi yang di harapkannnya tidak juga datang.
"Apa yang aku harapkan?" lirih Lily. Meskipun semalam mereka melakukannya toh Lily tidak melihat raut wajah bahagia pada Bima. Atau jangan-jangan semalam Bima melakukannya karena merindukan Dena?
Lily tersenyum kecut. Tiba-tiba saja memikirkan hal itu bisa membuatnya sakit hati. Tapi semalam jelas yang disebut Bima adalah namanya. Bukan nama Dena. Sebenarnya ada apa ini?
Tiga minggu Bima tidak pernah pulang ke rumah Lily. Oke, fine. Tak masalah untuk Lily, tapi perasaan Lily yang bermasalah sekarang!
__ADS_1
Di kantor juga Bima bersikap tak acuh pada Lily, entah kenapa membuat Lily merasa sakit yang tak berdarah. Hatinya terasa sakit saat Bima jelas-jelas berusaha menghindar darinya.
"Kenapa sih Ly?" tanya Yeni saat mereka sedang makan siang bersama di kantin. Wajah Lily sedari tadi di tekuk, menekuri piringnya yang masih utuh.
"Gak pa-pa." lalu kembali mengaduk isi piringnya tanpa berniat untuk memasukannya ke dalam mulut.
"Kamu lagi ada masalah?"
"Yen. Lily jahat gak sih?" pertanyaan Lily sontak membuat kening Yeni berkerut menatap Lily heran. Sedangkan yang di tatap hanya memandang kosong pada piring yang ada di hadapannya.
"Jahat apa nya?"
"Lily harusnya senang apa sedih mbak Dena meninggal?"
Hening, Yeni juga tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Kamu gak salah kok. Semua pasti akan ada jalannya."
"Tapi mas Bima sekarang cuek sama Lily. Lily rasa mas Bima gak akan pernah sepenuhnya cinta sama Lily." Yeni hanya mengelus pundak Lily pelan.
__ADS_1