
Masih Bima.
Dasar Adit, bed*b*h!
Adit limbung ke belakang saat satu bogeman aku layangkan dari tanganku. Tidak. Rasanya satu pukulan tidak akan cukup untuk semua yang dia sembunyikan dariku selama ini.
Teganya dia. Selama ini dia menyembunyikan keberadaan Una dan anakku. Dia tahu kan selama ini aku mencarinya seperti apa? Semua cara sudah aku kerahkan, bahkan aku hampir kehilangan semuanya karena terpuruk. Apa dia balas dendam padaku? Apa dia senang melihat aku menderita, huhh!!
"Gue minta maaf, Bim. Ini semua permintaan Lily." ucapnya. Kami berada di luar ruang rawat Yumna sekarang.
Aku hanya bisa memijit pangkal hidungku yang terasa berdenyut hebat sedari tadi. Lengan ku yang ku pakai untuk meninju Adit juga semakin terasa sakit dan terasa pegal setelah sebelumnya perawat mengambil darah tadi.
"Elo dendam sama gue Dit?" tanyaku. Nafas ku memburu karena emosi.
__ADS_1
"Awalnya iya." Dasar Adit sialan!! "Tapi setelah melihat Lily selalu nangisin elo, gue jadi kasihan sama dia."
"Jangan-jangan yang kirimin surat pengadilan itu juga elo?!" Adit mengangguk. Tersulut dengan emosi, aku meraih kerah baju Adit yang baru saja tegak berdiri. Kalau saja Adit tidak melakukannya pastilah semua ini tidak akan terjadi. Una menikah dengan orang lain, dan Yumna akan celaka. Ah tidak! Berarti Una... yang sedang koma?
"Dasar... KENAPA ELO LAKUIN INI SAMA GUE, HUHH??! ELO MASIH CINTA SAMA LILY?" Adit hanya diam membuang mukanya saat aku berteriak keras di depan wajahnya.
Beberapa orang yang melintas di depan kami hanya memperhatikan pertengkaran kami sekilas lalu pergi.
Kemudian Adit menatap tepat ke dalam bola mataku.
Tangan dan lututku lemas, cengkeraman ku pada kerah lehernya mengendur. Tidak bisa menahan tubuhku lagi, aku bergerak mundur dan duduk di bangku yang berderet. Adit ikut duduk menyisakan satu bangku yang menjadi space di antara kami. Dia masih mengusap sudut bibirnya yang tadi berdarah karena ulahku.
"Elo tahu, kenapa Lily gak jadi ketemu sama elo?" ujarnya, lalu dia mendecih. "Karena dia merasa bersalah udah egois. Dia tahu elo cari dia sampai elo kurus, dekil, dan hampir bangkrut. Dia batal ke Jakarta, karena kalau dia balik lagi tentu elo gak akan batalin petunangan elo dengan Celia, lalu perusahaan elo? Karyawan elo? Dia akan semakin merasa bersalah dengan nasib ribuan karyawan elo kalau mereka jadi pengangguran."
__ADS_1
Adit kembali mendecih, masih dengan nada kesal.
"Sialan! Ternyata badan udah kurus tapi tenaga elo masih sama ya!" ucapnya lalu bangkit.
"Gue mau cari kopi, mau nitip gak?" meskipun aku tahu dia masih merasakan sakit pada rahangnya tapi dia tetap bersikap cool, dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana bahannya.
"Terserah!" ucapku. Lalu Adit berbalik dan melangkah.
"Sayang!!" suara Celia datang memburu setengah berlari. Pastilah setelah aku telfon tadi dia langsung datang kesini. Adit memandang Celia yang melewatinya lalu mendekat ke arahku. Sedikit melirik ke arah kami dan kemudian dia pergi melanjutkan langkahnya.
Aku tahu, para sahabatku kurang suka dengan Celia. Sikap Celia seperti anak remaja labil, suka marah, gampang cemburu, dan sikapnya yang seenaknya sendiri. Dan jangan lupakan sifat posesifnya yang membuat ketiga orang itu selalu mengeluarkan komen yang aku sendiri tidak mau menanggapinya.
"Kenapa sayang, kamu gak pa-pa? siapa yang celaka?" Celia duduk di sampingku, merengkuh kedua pipiku dengan tangan halusnya. Matanya menyorotkan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Putriku!" Mata Celia seketika terbelalak. Ekspresi wajahnya langsung berubah pias.