Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 106


__ADS_3

"Ih mas Adit so sweet banget deh. Jadi pengen cubit. Gumusssshhhh." ucap Yeni di akhir kalimatnya dengan wajah yang di buat gemas karena perkataan Adit.


"Ini nih, yang harus kamu jadiin calon suami, Ly. Perhatian kayak mas Adit." ucap Yeni membuat Lily tersipu malu. Seandainya Yeni tahu kehidupan Lily sekarang.


Tidak berapa lama seorang pria dengan tubuh jangkung kurus datang menghampiri mereka bertiga.


"Bebeb datang tuh." Lily menyenggol lengan Yeni yang masih sibuk dengan isi mangkoknya. Yeni menoleh ke arah pandang Lily.


"A'. Mau pesen juga?" tanya Yeni saat sang suami duduk lesehan di depannya, di samping Adit.


"Enggak, beb. Cuma mau jemput ajah." jawabnya dengan logat khas Sunda yang kental. Yayan melihat ke arah Adit. Yeni tahu apa yang ada di dalam pemikiran suaminya. Semenjak dia hamil suaminya jadi sangat sensitif. Bahkan sedikit lebih cemburuan sekarang.


"Mas Adit, calon suaminya Lily!" perkataan Yeni membuat Lily terkejut, sedangkan Adit tersenyum mengangguk hormat pada pria di sampingnya meski usia mereka sama. Tapi terlihat perbedaan nyata di antara keduanya. Yayan yang seorang buruh pabrikan dan Adit pemilik perusahaan. Dari penampilan keduanya jelas berbeda. Postur tubuhnya juga. Yayan tidak perlu ke gym, karena pekerjaannya adalah bagian gudang di perusahaan garmen yang setiap harinya mengangkat barang-barang berat. Gurat wajahnya terlihat dia pekerja keras. Sedangkan Adit di usianya yang dua puluh tujuh tahun malah terlihat lebih muda.


Yeni berkedip ke arah Lily yang sedang melotot kepadanya, meminta Lily untuk meng'iya'kan. Dalam senyumnya seakan ia meminta maaf pada Lily, tapi dalam hatinya ia mengucapkan kata 'aamiin'.


"Makasih mas Adit traktirannya." ucap Yeni saat mereka sudah berada di luar tenda baso tersebut. Yayan sedang menyalakan motor nya yang sedari tadi tidak mau menyala.

__ADS_1


"Mas Adit. Boleh gak Yeni minta sesuatu?" tanya Yeni yang sudah tidak tahan.


"Iya?"


"Pengen cubit pipi mas Adit, boleh ya?" kening Adit mengkerut. Mata Yeni berbinar, senyumnya mengembang sempurna. Adit tidak tega kalau menolak, apalagi Yeni sedang hamil, mungkin bawaan bayi.


"Oke tapi jangan kencang-kencang ya."


Yeni mengangguk bersemangat saat Adit menundukan wajahnya sedikit. Yeni tersenyum senang saat mendapatkan apa yang dia mau. Di cubitnya kedua pipi Adit yang membuatnya gemas sedari tadi. Pelan menurut Yeni, tapi menurut Adit membuat pipinya terasa perih. Lily tertawa pelan melihat Adit menahan ringisannya.


Yeni pun pergi dengan suaminya menggunakan motor. Sedangkan Lily dan Adit segera naik ke dalam mobil.


"Sakit ya?" tanya Lily masih terkekeh melihat Adit sedari tadi mengusap pipinya. Adit hanya mengangguk sambil mencebikan bibirnya.


***


Bima dan Dena baru saja keluar dari dalam kamar saat makan malam. Mereka makan berdua dengan saling pandang dan tersenyum satu sama lain. Terpancar kebahagiaan yang sangat dalam dari keduanya. Kebahagiaan yang akan Dena rindukan meski suatu saat nanti dirinya...

__ADS_1


"Kok ngelamun, Na?" Bima telah selesai dengan makanannya sedangkan Dena baru makan beberapa suapan. Dena menggeleng seraya tersenyum.


"Mas, apa lebih baik kalau Lily tinggal sama kita?" ucap Dena tiba-tiba membuat Bima menatapnya heran.


"Kasihan Lily sendirian disana. Aku juga ngerasa gak adil karena tinggal di rumah sebesar ini, tapi Lily tinggal di rumah yang kecil." ucap Dena lagi.


Bima tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya diam.


"Mas, kok diem sih?"


"Kita tanya Lily apa dia mau tinggal disini." Dena tersenyum lalu mengangguk dan kembali melanjutkan makan.


Sebenarnya Bima ingin menolak, tapi entah kenapa dia tidak mau membuat Dena sedih.


Setelah selesai makan malam mereka kembali ke kamar. Dena mengeluarkan obat dari dalam laci terbawah, dan segera meminumnya saat Bima sedang ada di dalam kamar mandi.


***

__ADS_1


__ADS_2