
"Dasar Arkhan gila!" teriak Ameera. Arkhan hanya tertawa dan melambaikan tangannya tanpa membalikan badannya.
Ameera merasa marah karena merasa di permainkan, dengan segera Ameera melepas sebelah sepatunya dan bangkit lalu melemparkannya, tepat mengenai kepala Arkhan. Ameera tersenyum penuh kemenangan karena lemparannya tepat mengenai sasaran!
Arkhan yang merasa sakit di belakang kepalanya menoleh ke bawah, sepatu Ameera. Dengan segera Arkhan berbalik. Wajahnya merah, lalu dengan cepat Arkhan berlari ke arah Ameera.
Ameera yang melihat Arkhan mendekat segera melarikan diri dengan hanya memakai sebelah sepatunya. Tak lupa dengan belanjaannya yang ia dekap di dadanya.
"Meera!!" teriak Arkhan murka. Lalu mereka pun berlarian berkejaran di area basemen.
Hal itu tidak luput dari penglihatan adik kakak yang tidak jauh berdiri dari sana, mereka baru saja selesai makan dan akan menuju ke mobil.
"Kita harus bantu Meera!" Syifa hendak berlari, tapi tangannya ditahan dan ditarik oleh Azkhan kembali menjauh.
"Tidak usah, biarkan saja!" kata Azkhan.
"Tapi Az.. Meera..."
"Biarkan saja. Ayo pulang." Azkhan menarik lengan Syifa menuju pintu keluar.
"Tapi mobilnya disana." tunjuk Syifa sambil mengikuti adiknya.
"Kita pulang naik bis." ucap Azkhan yang membuat Syifa berbinar matanya.
__ADS_1
"Oke lah. Ayo!" Syifa sangat bersemangat, sedikit berlari hingga kini Syifa yang memimpin langkah mereka. Syifa memang tidak pernah naik bis dan sudah sudah lama dia ingin naik bis, tapi selalu di larang oleh Bima.
Ameera berteriak dan terus berlari menghindari Arkhan hingga tidak sengaja saat Ameera lengah dia menabrak papan peringatan dan terjatuh.
"Aww!" rintih Ameera, lalu duduk dan melihat kedua lututnya yang memar dan berdarah. Karna Ameera hanya memakai celana jeans setinggi paha.
"Kamu gak pa-pa?" tanya Arkhan mendekat dan berjongkok. Ameera menimpuk kepala Arkhan dengan keras menggunakan tas belanjaannya.
"Aww, sakit. Dasar cewek bar-bar!" Arkhan mengelus kepalanya yang terasa sakit.
"Kamu kira aku gak sakit? Lihat ini berdarah." teriak Ameera tepat di telinga Arkhan dan menunjuk lututnya.
"Ish, kamu nih. Volume suaranya bisa di kecilin gak sih?!" Arkhan menjauh dan menggosok telinganya yang berdengung.
"Dasar bar-bar!" gumam Arkhan yang masih bisa di dengar oleh Ameera.
Ameera yang sudah merasa sangat kesal dan menahan sesuatu di hatinya perlahan terisak dan menangis dengan kencang. Tidak peduli dengan beberapa orang yang memperhatikan mereka.
Arkhan panik. Ini kedua kalinya dia melihat Ameera menangis setelah waktu itu.
"Eh, jangan nagis dong. Masa gitu aja nangis sih!" Arkhan menjadi bingung bagaimana caranya menghentikan tangisan Ameera.
"Di lihatin orang tuh. Malu!" Nada suara Arkhan melembut.
__ADS_1
"Biarin!!!!" bentak Ameera lalu kembali meneruskan tangisnya. "Arkhan jahat!" teriak Ameera.
Arkhan semakin bingung.
Arkhan dan Ameera sedang duduk di sebuah bangku. Arkhan sedang mengobati kaki Ameera dengan alkohol lalu meniupnya saat Ameera merintih merasakan perih.
Perlakuan lembut Arkhan sangat berbeda sekali tidak seperti biasanya. Arkhan tengil dan jahil, selalu mengganggu Ameera dan Syifa. Tapi sekarang, Arkhan terlihat lebih tampan jika serius seperti ini.
"Jangan kelamaan lihat. Nanti jatuh cinta loh!" ucap Arkhan membuat Ameera tersadar dan memalingkan wajahnya ke samping, malu karena terciduk sedang mengagumi pria di depannya ini.
Mengagumi? Ish enggak! Ameera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Siapa juga yang lihatin kamu! Aku lihat lutut aku!" kilah Ameera.
"Gimana mau lihat lututnya kalau terhalang kepala aku?!" Arkhan menahan tawanya tahu kalau Ameera sedang berbohong.
"Sudah selesai!" ucap Arkhan yang baru saja menempelkan plester di lutut Ameera.
"Pulang?" Arkhan berdiri dan mengulurkan tangannya. Ameera mengangguk lalu menerima uluran tangan Arkhan.
"Aww!" Ameera meringis saat merasakan sakit di kakinya. Arkhan menghela nafas, lalu berjongkok di depan Ameera.
"Aku gendong, ayo!" Arkhan menepuk punggungnya.
__ADS_1
" Tapi..." belum juga Ameera berbicara Arkhan sudah menarik tangan Ameera hingga dada Ameera menubruk punggung Arkhan. Dan dengan segera Arkhan menggendong Ameera dan mulai berjalan menuju halte terdekat.