
Aku membuka pintu dengan kunci cadangan. Berjalan ke arah dapur dan menenggak minuman dingin disana. Rasanya enak sekali. Segar. Suasana rumah ini sepi, lampu-lampu sudah di matikan. Pastilah penghuni rumah juga sudah terlelap.
Ku buka kulkas di sampingku. Rasa lapar ini semakin mendera. Bisa-bisa maag ku kambuh kalau tidak segera mendapatkan asupan makanan. Pintu kulkas ku tutup kembali karena ingat aku sama sekali tidak bisa masak. Di lemari ada daging ayam berlumur bumbu kecap, tapi rasanya malas sekali untuk makan makanan berat. Beralih pada lemari yang menempel di atas. Ada beberapa roti yang selalu aku suka. Mengambil dua helai lalu menyapukan selai coklat di tambah susu. Sebenarnya lebih enak kalau ada selai kacang, tapi tidak pernah kulihat ada disini!
Aku mulai makan, satu suapan. Ahh nikmat sekali rasanya. Suapan kedua. Semakin terasa nikmat, lalu menenggak teh hangat yang tadi aku buat. Sempurna!
"Hei maling ya!" Belum sempat aku menoleh satu pukulan telak mengenai punggungku. Sakit. Aku merintih. Lalu di lanjut dua pukulan selanjutnya. Kejadian itu sangat cepat hingga lampu menyala. Pak Dani, di dekat saklar lampu dengan tangan masih menempel disana. Sedangkan aku mendengar suara sapu yang terjatuh di lantai.
"Mas Bima ngapain disini?" Aku menoleh ke belakang Lily menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Lily!" Aku menggeram, lebih menahan sakit daripada marah padanya.
Kami duduk di ruang tv bukan untuk menonton tv melainkan hanya diam dengan dua orang di depanku yang sama-sama menunduk.
__ADS_1
"Maaf mas, aku kira maling!" setelah beberapa saat lamanya terdiam.
"Kalau maling tentu pak Dani duluan yang turun tangan. Lagian mana ada maling di jam sembilan malam!" ujarku tetap kesal. Punggungku perih untuk bersandar ke kursi jadilah aku duduk tegak walaupun rasanya ngilu.
"Maaf pak Bima. Saya kurang cepat datang. Tadi telfonnya keburu di tutup sebelum saya bilang kalau pak Bima yang datang." sesal pak Dani semakin menundukan kepalanya.
"Sudah lah. Pak Dani kembali ke depan." ucapku. Pak Dani pamit dengan terburu-buru. Ku lihat sebelum pergi dia sempat menghirup nafas lega. Sedangkan Lily masih terdiam di tempatnya tidak bergerak masih di posisi yang sama seperti dua puluh menit yang lalu.
"Lagian mas juga kenapa gak nyalain lampu. Gelap-gelapan. Makan juga gak duduk. Aku kira kan maling!" ucapnya membela diri.
"Dengar gak!" Lily tersentak lalu segera bangun dari tempatnya mengikutiku ke dalam kamar.
Aku membuka bajuku dan tidur tengkurap. Tidak terasa apapun. Aku menoleh dan mendapati Lily masih berdiri di samping ranjang dengan meremas kedua tangannya di depan. Wajahnya terlihat cemas dan takut.
__ADS_1
"Kenapa diem aja? Kamu gak mau tanggung jawab obatin luka yang kamu buat?" Lily kembali tersadar.
"Iya." Lalu setengah berlari keluar dan tidak lama kembali lagi dengan kotak obat di tangannya.
"Aww. Pelan-pelan dong!" ucapku saat merasa perih saat Lily mengoleskan salep ke kulit punggungku yang memar.
Kenapa aku jadi cengeng gini? Biasanya juga gak pernah manja kecuali sama Dena sih!
"Maaf. Maaf. Lagian mas kenapa datang kesini? Tumben. Kan harusnya mas Bima sama Mbak Dena?" tanya Lily.
"Dena pergi!" ucapku datar sambil terus merasakan kesakitan karena perih di punggungku.
"Pergi kemana?"
__ADS_1
"Ke Bandung." Dan ku dengar dia ber oh ria lalu terdiam. Kali ini lebih lembut mengoles salep di punggungku, malah terasa seperti dia hanya memainkan jari-jarinya di atas punggungku.