
Lily menyimpan kue tersebut ke dalam kulkas dan pergi untuk mandi di kamar Bima. Baju Lily belum di pindahkan juga soalnya. Dan rasanya Lily sekarang mulai malas tidur di kamarnya sendiri!
Selesai mandi Lily kembali ke dapur, dia kembali mengambil kue yang sama sekali belum di potongnya. Hari ini dia akan sarapan kue saja. Semalam sebenarnya dia ingin sekali berbagi kebahagiaan ini dengan Bima dan Dena, tapi Lily juga tidak mau mengganggu mereka karena ini waktunya Bima untuk bersama Dena.
Telfon berdering. Lily senang saat melihat nama yang tertera di layar hpnya. Lily menggeserkan layarnya ke atas, seketika terlihat tiga orang yang ia rindukan di memenuhi layar hpnya.
"Selamat ulang tahun, mbak Una!" seru mereka bersamaan dengan gadis yang berada paling depan memegang kertas dengan gambar dan hiasan kue bertuliskan 'UNA' dan angka dua puluh empat.
"Trimakasih semuanya." Lily terharu dan tersenyum senang.
Mereka menyanyikan lagu Happy birthday bersamaan dengan di akhiri tepuk tangan meriah dari semua orang.
"Selamat ulang tahun, nduk. Semoga kamu dan suami bahagia disana. Panjang umur, murah rejeki, sehat selalu ya nduk!" ucap wanita paruh baya yang sebaya dengan ibunya Lily. Lily terharu hingga meneteskan air mata.
"Iya mbak, semoga mbak cepet dapet momongan!" tambah gadis manis yang duduk di depan. Lily tersenyum masih belum bisa berkata apa-apa.
"Pak ngomong loh pak sama mbak Una. Mbok ya jangan diem aja!" gadis itu protes pada sang ayah yang hanya diam menatap layar di depannya.
"Pakdhe." panggil Lily seraya melambaikan tangannya ke arah kamera depan. Lily sangat merindukan keluarga itu, tapi Lily belum bisa pulang karena kesibukannya.
"Kamu baik kan, nduk?" Akhirnya pria dengan kumis baplang itu bicara.
"Una baik pakdhe!" sekali lagi Lily mengusap air matanya.
"Maafin Una, belum bisa pulang dan ketemu sama semuanya." air mata Lily berderai tidak bisa ia tahan.
" Udah nduk, jangan nangis! Budhe sama pakdhe disini baik. Kamu juga jaga kesehatan disana. Kamu jangan khawatir, yo!" ucap Budhe yang bernama Nani dengan logat jawa kentalnya. "Mana suami mu? Budhe pengen lihat dia!"
__ADS_1
Lily merasa bingung.
"Emm suami Una, lagi di luar kota budhe." dusta Lily.
"Jadi kamu di tinggal sendirian?" seru pakdhe yang bernama Yudha.
"Suami Una lagi sibuk, pakdhe, budhe."
Pakdhe Yudha, dan budhe Nani manggut-manggut.
"Mbak kapan-kapan bawa suaminya kesini ya." ucap gadis bernama Mentari.
Lily mengangguk, namun dalam hatinya tidak bisa berjanji.
"Bulan mana budhe? Udah berangkat sekolah?" tanya Lily saat sosok seorang gadis kecil tidak terlihat disana.
"Bulan masih saja malu sama Una!" ucap Lily, yang di angguki semuanya.
Hampir sepuluh menit mereka saling melepas rindu lewat video call. Dan berakhir karena Mentari harus segera berangkat ke sekolah.
Lily berjalan keluar ke arah pos satpam dengan membawa sebuah piring kecil berisi kue yang ia potong.
"Pak Dani!" yang di panggil keluar dari tempatnya.
"Iya mbak?!" tanya Pak Dani lalu menunduk hormat. Lily tidak mau di panggil 'nyonya' atau 'nona', jadilah Pak Dani memanggil Lily dengan sebutan 'mbak'.
"Ini buat pak Dani." Pak Dani melongo melihat kue yang disodorkan di depannya.
__ADS_1
"Kue ulangtahun ya mbak?" Lily mengangguk. "Siapa yang ulangtahun mbak?"
"Pak Dani!" seru Lily membuat pak Dani bingung pasalnya tanggal kelahirannya masih sangat jauh.
"Lily pak. Bingung ya?" Lily tertawa terkekeh melihat raut wajah orang di hadapannya yang terlihat salah tingkah.
"Trimakasih loh, mbak." ucap Pak Dani sambil menerima kue itu dengan senyum bahagia, sembari mengucapkan doa terbaik untuk majikannya itu.
"Pak, kalau ada ojol nanti panggil saya ya . Lily masih beres-beres berkas di rumah."
"Loh mbak gak pake kendaraan sendiri?" tanya Pak Dani.
"Nanti sore ada meeting. Mas Bima yang akan antar pulang." Pak Dani manggut-manggut.
"Mbak." panggil Pak Dani saat Lily hendak melangkah.
"Iya?" Lily menatap heran pak Dani yang gelisah di tempatnya.
"Eemm anu..."
"Apa pak Dani?"
"Saya.. mau minta izin..Tapi kalau mbak ngizinin itu juga." ucap Pak Dani dengan terbata.
"Kenapa? pak Dani sakit?" tanya Lily.
"Bukan, anu.. Anak saya di kampung masuk rumah sakit. Semalam istri saya telfon katanya si bungsu kena demam berdarah. Kalau boleh saya mau izin pulang dua hari."
__ADS_1