Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 156


__ADS_3

Bima merasa frustasi sudah hampir seminggu ini dia mencari Lily. Bertanya pada semua teman yang mungkin tahu akan keberadaa Lily, tapi percuma. Lily tidak juga di temukan. Bima juga tidak terlalu tahu akan kehidupan Lily sebelum mereka menikah. Salahnya karena tidak peduli dengan Lily dulu!


Akan mencari ke Jogja, tapi kemana? Karena ktp Lily sebelumnya juga bukan ktp Jogja, tapi ktp Bandung dan Bima sudah mencari kesana. Rumah tempat tinggal Lily dulu dan hasilnya tidak ada. Mereka bilang sang pemilik sudah menjualnya dan pindah bertahun-tahun lalu.


Ya ampun. Kenapa hidup Lily sangat rumit sih? batin Bima.


Medsos yang di pakai Lily juga hanya aktif sesekali. Telfon dan pesan yang dikirim Bima tidak pernah di jawab. Yeni juga sama. Lily benar-benar pergi!


Kemana kamu Ly.


"Arrghht!! Sial!!!" pekik Bima menggema di ruangannya.


Bima menyugar rambutnya frustasi. Rasa perih di sudut bibirnya akibat pukulan Adit kemarin masih terasa di sana. Bima tidak bisa Menjaga Lily dengan baik! Dan Bima baru tahu kalau ternyata Lily dan Adit tidak punya hubungan apa-apa karena Lily sangat mencintai dirinya. Ya ampun. Benar-benar suami yang buruk! Bahkan Bima sudah benar-benar melukai perasaan Lily selama ini.


***


Beralih cerita.


Panas matahari mulai terik saat Lily baru saja sampai di kota kelahirannya. Bus malam yang ia tumpangi sudah sampai di terminal. Lily memutuskan untuk memesan taksi yang berada tidak jauh dari sana.

__ADS_1


Lily sangat menikmati perjalanannya, suasana Jogja yang sudah banyak berubah dari saat terakhir dulu dia datang berkunjung.


Hampir satu jam perjalanan, akhirnya Lily sampai juga di sebuah rumah sederhana bernuansa kuno. Rumah yang sedari dulu tidak pernah berubah menurutnya. Hanya saja sekarang lebih indah dengan adanya taman di depan rumah lengkap dengan kolam ikan dan gazebo yang nyaman. Lily menatap rindu dengan rumah di hadapannya ini.


Lily keluar dari dalam taksi, sedangkan sang sopir menurunkan barang bawaan Lily dari dalam bagasi mobil.


Lily tersenyum lalu merentangkan tangannya saat seorang gadis berlari sambil berteriak kepadanya, membuat orang-orang yang ada di dalam rumah berhamburan berlari keluar karena terkejut dan khawatir.


"Bu ini lho mbak Una datang!" seru seorang gadis belia. Orang yang di panggilnya ibu pun segera berlari menyambut Lily di susul dengan seorang pria seumuran ayah Lily yang berlari di belakangnya masih sambil membawa golok di tangannya.


"Ya ampun, ini kamu toh nduk?" Badan Lily di putar ke kanan lalu ke kiri. Dengan senyuman khas nya yang menawan membuat Lily merasa senang setiap kali berkunjung kesini. Lily mengangguk. Mereka berpelukan saling melepas rindu.


"Iya budhe!"


"Una, piye kabare nduk?" (Bagaimana kabarnya?) Una menyalimi pakdhenya khidmat, sahabat bapaknya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri, dan kemudian menyalimi budhenya bergantian.


"Pak, piye toh itu golok mbok ya disimpen dulu toh pak! Kok maleh di gowo rene pak!" (gimana sih, itu golok nya di simpan dulu pak. kok malah di bawa kesini). Seru budhe Nani saat sang suami masih memegang golok yang tadi di pakainya untuk membelah kayu. Lily hanya tertawa melihat perdebatan orang yang di kasihinya.


"Kamu kok gak telfon dulu kalau mau ke sini? Suami kamu kemana nduk? Koq sendiri?" tanya budhe sambil mengajak Lily masuk ke dalam rumah. Sedangkan pakdhe Yudha membawakan koper milik Lily.

__ADS_1


"Sibuk budhe. Suami Una lagi keluar kota beberapa hari jadi Una izin deh kesini sendirian. Maaf ya budhe, selama ini Una dan suami belum bisa sempat datang."


"Oh, ya wes lah nduk. Sing penting kamu dan suami mu sehat dan saling sayang, yo wes cukup lah buat budhe!"


Lily dan budhe Nani duduk di kursi kayu, tak lama setelah pakdhe Yudha menyimpan koper di kamar tamu dan menyimpan golok di dapur barulah pakdhe ikut bergabung dengan mereka.


"Silahkan di minum mbak teh angetnya." Mentari berjongkok di bawah meja dan menyimpan teh hangat untuk Lily. Setelah itu Tari duduk di sebelah Lily dan bergelayut manja pada sosok yang sudah lama dia rindukan.


"Makasih Tari. Bulan kemana budhe?" tanya Lily menanyakan anak bungsu budhe Nani.


"Ah biasa nduk. Bulan kalau jam segini masih main sama temen-temennya. Sebentar lagi juga pulang."


"Dia itu bandel banget mbak. Anak perempuan tapi sukanya mancing sama naik pohon!" timpal Mentari.


"Loh bukannya Tari juga suka ya naik pohon?" Lily mengingatkan membuat Mentari tersenyum sambil menunduk malu.


"Itu kan dulu mbak. Sekarang udah enggak." ucapnya sambil mencebikan bibir bawahnya.


"Alaahh kamu itu dulu bandelnya lebih-lebih dari adik kamu. Sampai-sampai Pak Budi, inget nduk rumah yang di ujung sana? Dia datang sambil jewer Mentari karena udah maling buah mangga muda punya dia!" pakdhe Yudha menambahi sambil menunjuk rumah yang di maksud dengan nada yang gregetan pula. Membuat Lily dan budhe tertawa melihat ekspresi pakdhe yang lucu dengan kumis baplangnya yang naik turun.

__ADS_1


"Ih bapak nih, gak usah di ceritain juga kali pak. Itu kan udah lewat." Mentari semakin malu dibuatnya.


'Mangga muda ya? Kayaknya enak tuh.' fikir Lily.


__ADS_2