Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 42


__ADS_3

Aku mengerjapkan mataku. Rasanya badanku ini sudah agak enakan, terasa segar. Tapi aku sedikit heran karena cahaya disini redup, lampu di atasku mati, hanya lampu di belakang meja kerjaku yang menyala.


Aku mencoba untuk duduk perlahan, mengedarkan pandanganku ke sekeliling, mataku menyipit saat melihat siluet seseorang sedang duduk bersandar di sofa di depanku. Lily kah itu?


Jika saja tidak ada orang lain mungkin aku tidak akan berdiri untuk manyalakan lampu. Aku akan lebih memilih melanjutkan tidurku hingga esok pagi, kurasa.


Dan benar. Lily. Masih dengan baju kantornya dia tidur bersandar di kursi. Entah kenapa dia masih disini di jam seperti ini. Harusnya dia pulang kan di jam lima tadi.


Tunggu.


What!!


Jam sembilan?!

__ADS_1


Ya ampun. Bukannya tadi Lily bilang aku ada pertemuan dengan Pak Wayan?!


Aku menggoyangkan lengan Lily, tapi dia tidak terbangun sama sekali. Ya ampun, nyenyak sekali tidurnya! Ku lihat di atas meja di dekatku ada sebuah buku dengan tulisan tangan yang rapi.


"Pertemuan di undur besok pagi. Maaf. Saya sudah lancang memundurkan pertemuan bapak dengan Pak Wayan, tapi sepertinya bapak capek. Pak Wayan juga sudah setuju."


Tanpa ku sadari aku tersenyum. Memang sekretarisku ini sangat bisa di andalkan. Tapi kenapa dia tidak pulang saja?


Mau membangunkannya pun aku tidak tega, karena ku lihat ada berkas lain untuk beberapa hari ke depan yang sudah ia persiapkan, mengenai jadwalku sehari-hari. Apakah Lily lembur tadi? Pasalnya aku juga belum tahu jadwal meeting ku besok hingga seminggu ke depan.


Tubuh Lily tidak besar hingga dengan mudah aku mengangkatnya dan memindahkannya ke kamar. Membaringkan Lily di atas kasur dan menyelimutinya. Lily bergerak memunggungiku, tapi matanya masih terpejam, bahkan suara dengkuran halusnya terdengar. Menggelikan!


Aku tidak pernah mengizinkan sembarang orang masuk ke dalam sini kecuali Dena tentunya, dan seseorang yang sangat aku percaya untuk membersihkan beberapa hari sekali. Tapi kali ini aku membiarkan Lily tidur disini. Akan sangat kasihan jika aku membawanya pulang ke rumah. Apalagi sepertinya Lily tidak membawa jaket. Perjalanan pulangpun pasti akan lama di tambah dengan kemacetan parah.

__ADS_1


Aku juga masih mengantuk. Tidur di sofa membuat badanku terasa tidak nyaman sebenarnya. Bolehkah aku tidur di ranjang? Pasti Lily juga tidak akan protes karena kami juga pernah tidur di atas ranjang yang sama, walaupun tidak melakukan apa-apa.


Suara telfon berdering beberapa kali. Dena! Hampir aku melupakan istri tersayangku ini. Aku menjauh dari tempat tidur, mendekat ke arah jendela yang basah karena terkena hujan. Ku katakan aku tidur di kantor malam ini, tapi aku tidak bilang bersama Lily. Aku takut membuat perasaan Dena terluka. Suara Dena tersenyum di seberang sana. Lalu mengatakan bahwa setidak boleh berlebihan dalam bekerja. Menyuruhku untuk segera tidur setelah telfonnya ia matikan. Aku tidak mau dia mematikan telfonnya.


"Jangan manja Pak Bima Satria." ucapnya saat aku baru saja merajuk. "Besok aku akan bawakan sarapan. Mau?"


"Tentu aku mau, nyonya Bima Satria." ucapku dengan kekehan. Telfon di matikan setelah sebelumnya Dena menjawab atas pernyataanku.


"I love you more, mr. Bima!"


Aku semakin jatuh cinta pada istriku sendiri.


Bima pov end.

__ADS_1


***


__ADS_2