
Hari-hari mereka lalui. Bima masih seperti biasa merasakan morning sick dan juga mengidam parah. Sedangkan Lily yang tidak merasakan apa-apa selain porsi makannya yang semakin bertambah sekarang.
"Mas, kamu gak pa-pa?" tanya Lily saat Bima sudah kembali dari kamar mandi. Wajah Bima pucat, badannya juga lemas. Semua isi perutnya sudah ia keluarkan di dalam kloset.
"Gak pa-pa." Bima merebahkan dirinya di atas kasur lalu menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.
"Maaf ya kamu jadi susah." ucap Lily yang kini duduk di sebelahnya.
Bima menarik tangan Lily dan mengecupnya.
"Gak pa-pa. Aku rela, yang penting kamu dan baby gak susah. Dulu sewaktu hamil Yumna apa kamu seperti ini?" Lily mengangguk.
"Tapi gak separah kamu! Cuma sedikit." Bima tersenyum.
"Sekarang aku juga bisa merasakan susahnya wanita hamil, meski aku tidak mengandung!" Bima menarik Lily ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala Lily. Lily tersenyum menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya, mendengar detak jantung Bima yang berdetak pelan. Tangan Lily bermain-main di atas dada Bima mencari tonjolan kecil dan berputar-putar disana. Tiba-tiba saja Lily merasakan panas dan aura lain. Dia membuka kancing piyama Bima. Dada putih Bima sangat menggodanya.
__ADS_1
Lily menciumi dada suaminya, lalu merambah ke leher, membuat tanda merah disana. Bima yang merasa heran dengan sikap Lily hanya bisa pasrah dengan tersenyum. Sesekali juga melenguh saat tangan Lily sudah merambah ke area sensitifnya yang sudah mengeras. Tangan Lily bermain-main disana. Bima menikmati permainan tangan Lily yang sudah lihai sekarang.
"Ssshh." Bima mendesah membuat Lily tersenyum.
"Cepat...sshhh.. aku... tidak ..tahan!" lirih Bima.
"Tidak tahan hem?" tanya Lily menggoda. Bima mengangguk, tatapannya mendamba. Lily semakin gencar memainkan tangannya di bawah sana, membuat Bima lagi-lagi bersuara.
"Please sayang! cepat!" mata Bima menutup meresapi dan menikmati sensasi tang di buat istrinya. Ciuman Lily turun ke bawah, leher, dada, perut, dan kemudian... pergi dengan senyuman.
Bima membuka matanya, karena tidak merasakan apa-apa lagi. Dia melihat Lily tertawa sambil berlalu keluar dari kamar.
"Mass, cepat mandi ini sudah siang nanti kamu terlambat!" teriak Lily melongokkan kepalanya di pintu.
"Kamu gak mau tanggung jawab?" seru Bima masih dari atas kasur.
__ADS_1
"Enggak! Lain kali aja!" teriak Lily dari luar.
Bima segera mandi dan menuntaskan segalanya sendirian.
Di meja makan. Bima, Lily, dan Yumna sedang menikmati sarapan bersama. Bibir Bima maju beberapa senti, Lily hanya memperhatikan sambil menahan senyum.
Selesai sarapan Bima pamit berangkat ke kantor, Lily mengantarkan sampai ke depan rumah.
"Awas saja nanti malam, jangan harap kamu bisa lepas!" bisik Bima di telinga Lily.
"Huuu takut." Lily memasang wajah takut. Bima menunduk ke dekat perut Lily, mengelusnya dengan sayang.
"Hello my baby, jangan nakal ya. Jangan buat mama repot. Papa gak sabar pengen lihat kamu besar!" ucap Bima lalu mencium perut Lily yang masih rata. Lily tersenyum mendapat perhatian dari Bima.
Bima kembali tegak berdiri. "Aku gak sabar pengen cepet anak ini lahir!"
__ADS_1
"Masih lama mas. Sabar!"
Bima mengecup kening Lily. Kemudian pergi dengan mobilnya. Lily mengusap perutnya sambil melambaikan tangannya.