
Lily Aruna.
Entah sudah berapa lama aku disini. Sepanjang luas mata memandang hanya hamparan rumput hijau yang asri, di kejauhan sana terlihat gunung yang menjulang tinggi dengan permukaan di tutupi es di pucuknya. Seperti eskrim coklat yang di tambah dengan ekrim vanila di atasnya. Apakah aku sedang berada di luar negeri? Ah ya Mas Azka mau membawaku bulan madu kan? tapi ke pantai, bukan ke padang rumput dengan latar belakang gunung seperti ini. Lalu ini dimana?
Disini aku selalu bersamanya, sedetikpun tidak pernah dia melepaskan tanganku. Senyumnya indah merekah di wajah pucatnya. Tapi aneh selama disini aku tidak pernah melihat malam, yang ada hanya langit senja, indah!
Aku selalu bertanya."Yumna kemana, mas?" dia hanya menjawab. "Yumna sedang bermain sama mama." lalu dia menarik tanganku berjalan kembali tapi entah kemana, karena aku tidak melihat apapun selain hamparan luas rumput hijau.
Lalu dia berhenti, membuat aku otomatis juga berhenti."Janji jangan pernah nangis ya! Jaga diri kalian baik-baik." dia memegang kedua tanganku. Tangannya terasa mulai dingin, tidak sehangat tadi.
Kenapa mas Azka bilang gitu?
"Trimakasih, kamu telah menjadi bagian terbaik dalam hidup aku." aku menggeleng tidak mengerti. Kenapa kata-kata ini terdengar seperti kata perpisahan?
"Masih belum waktunya untuk kamu, sayang. Hidup lah dengan baik." mataku mulai berair, tapi aku tidak bisa berbicara, seolah suaraku hilang entah kemana, dan kata-kataku lenyap begitu saja dalam otakku.
__ADS_1
"Aku mungkin bukan jodoh kamu. Tapi kamu lah jodoh aku Lily."
'Apa maksudnya ini?' sial! Kenapa aku tidak bisa bicara? Suaraku tertahan di kerongkongan!
Kenapa dia bicara seperti itu, seakan dia tidak ingin melindungi aku dan Yumna lagi. Apa dia gak cinta aku lagi?
"Jalan kesana. Kamu akan ketemu Yumna." tunjuknya, sesaat tiba-tiba ada jalan setapak dengan alas batu kerikil yang aku sendiri merasa heran sejak kapan jalan itu ada, padahal sebelumnya hanya padang rumput. Ajaib!
Aku menggelengkan kepalaku, dan menahan tangannya. Entah sejak kapan dia punya kemampuan untuk bisa melayang. Kakinya terangkat, tidak lagi menapak pada rumput di bawah hingga aku harus mendongak untuk bisa menatap matanya.
Dia menunduk, merengkuh pipiku, lalu mencium kening, seluruh wajah, hingga bibirku, rasanya dingin tidak sehangat kemarin. Sangat dingin, dan wajahnya sangat pucat.
"Ini belum waktunya sayang. Belum saatnya untuk kamu!" lirihnya dengan senyuman, air mataku tidak bisa di tahan lagi. Tiba-tiba saja dia mendorongku, aku terkejut karena aku kira aku akan jatuh. Bersamaan dengan itu perlahan aku melihat tubuh suamiku terlihat transparan lalu berubah menjadi gelembung dan berbaur dengan udara dingin.
Sedangkan aku, jatuh terlalu jauh, bahkan sepertinya aku jatuh pada tempat yang tak memiliki dasar.
__ADS_1
Lily pov end.
***
"Azkaaa!!!" suara pekikan terdengar jelas di salah satu ruangan rumah sakit elit itu. Melati jatuh terduduk di atas lantai dengan sang suami yang terus memegangi pundak dan lengannya. Mereka menatap nanar pada sosok yang kini terbalut kain putih menutupi seluruh tubuh putranya.
Rasa sedih dan kehilangan sudah pasti karena Azka putra mereka satu-satunya. Lima hari setelah kecelakaan itu dan Azka tidak bisa tertolong lagi. Benturan keras pada tubuhnya mengakibatkan dia terkena trauma besar di kepala dan tidak bisa tertolong.
"Azka sayang bangun, nak! Azkaaa..." tangis sang ibu pecah, masih banyak sisa air mata si balik mata wanita paruh baya itu. Sedari kemarin ia terus berdoa dan berhadap untuk keajaiban pada putranya, tapi ternyata Tuhan lebih sayang dengan mengangkat dia dari semua kesakitan ini dengan cara yang halus. Cara yang tidak pernah membuatnya sakit sama sekali.
"Pa. Azka pa... Azkaaa...hiks." Hadi mengangguk, menenangkan sang istri yang kemudian tak sadarkan diri.
Melati di bawa ke sofa, dan seorang perawat mencoba menyadarkan Melati dengan wewangian pada hidungnya, sedangkan Hadi mendekat ke arah tubuh sang putra yang terbujur kaku, membuka selimut yang menutupi wajah putranya kemudian menunduk mencium kening Azka dengan singkat.
"Selamat jalan anakku!" Di tatapnya dengan nanar wajah anaknya yang pucat, tapi kini dia lega tak ada lagi alat bantu kehidupan yang mengelilingi putranya.
__ADS_1