Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 202


__ADS_3

Bima mengambil sebuah kertas dan pulpen dari dalam laci nakas. Dia mulai menuliskan rencana-rencana untuk membuat hati Lily luluh padanya.


"Oke. Akan aku buat kamu jatuh cinta lagi sama aku!" Yakin Bima pada dirinya sendiri.


"Lihat saja, Una. Aku akan buat kamu suka sama aku." ucap Bima sambil mencoret-coret kertas dengan tinta. Bima tersenyum, membaca beberapa tulisan yang sudah ia buat lalu menggulingkan dirinya ke samping. Tak cukup puas, Bima berguling lagi ke kanan lalu ke kiri.


"Kalau kamu jadi istriku. Aku akan jadikan kamu bantal guling." Bima menjadi gemas sendiri. Lalu dengan menggenggam kertas di tangannya dia memejamkan mata lalu tertidur.


*


Lily berada di dalam kamarnya, dia baru saja menidurkan Yumna. Setelah mencium kening Yumna Lily beranjak menuju balkon.


Lily tersenyum sendiri ketika mengingat tadi siang saat Bima mengajaknya makan. Ternyata Bima hapal dengan makanan kesukaannya. Lobster dan kepiting.


Lily memegangi dadanya yang terus berdetak kencang sedari tadi. Lalu tersenyum sendiri. Selama lebih dari seminggu disini Lily selalu mendapat perhatian dari Bima. Dia ingin tahu sebesar apa usaha Bima akan membuatnya jatuh cinta lagi seperti dulu.


***


Bima mengajak Lily dan Yumna ke pasar malam. Meskipun Mama Ratih khawatir tentang kesehatan Lily, tapi Bima berhasil meyakinkan sang mama.


Bima menggendong Yumna di atas pundaknya, sedangkan satu tangannya menggenggam tangan Lily. Mereka layaknya keluarga bahagia. Menaiki segala permainan yang ada.


Yumna menunjuk ke arah sebuah permainan kereta mini. Bima dan Lily mendekat ke arah sana. Karena kereta itu penuh, Yumna tidak bisa langsung naik. Yumna hanya bisa menunggu dengan mata yang berkaca-kaca dengan bibir bawah yang tertarik ke atas.


"Papa. Yuma mau naik! Mau naik!" rengeknya tak sabar sambil menggerakkan kedua kakinya.


"Iya sayang, sebentar ya nanti gantian! Kita beli itu dulu mau gak?" tunjuk Bima pada sekumpulan permen kapas yang tak jauh dari mereka. Mata Yumna berbinar seketika tersenyum. Dia mengangguk hingga poninya bergoyang.


"Na, kamu tunggu disini sebentar ya! Jangan kemana-mana, ingat!" peringat Bima, Lily menganggukan kepalanya. Lily menunggu di tempat itu sambil memperhatikan beberapa anak yang sedang asyik tertawa sambil melambaikan tangannya pada orangtua mereka.


Sekelibat bayangan terlintas di benak Lily. Seperti deja vu baginya, tapi entahlah apakah Lily pernah seperti dalam bayangan itu?


Seperti Lily pernah membalas lambaian tangan seorang gadis padanya. Persis seperti yang anak itu lakukan. Lily ingat di sebelahnya ada seorang pria, tapi siapa?


Lily terlalu fokus hingga tidak sadar, Bima sudah kembali dengan dua buah permen kapas di tangannya.


"Belum selesai juga?" Lily menggelengkan kepalanya sembari menerima permen kapas berwarna pink itu.


Bayangan lain terlintas kembali. Seseorang masuk ke dalam mobil dengan membawa permen kapas untuknya.


Lily menggelengkan kepalanya dengan cepat mencoba untuk kembali pada kesadarannya.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Bima.

__ADS_1


"Enggak. Apa kita pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?"


Bima menggeleng. "Kita gak pernah kemana-mana. Pernah sekali, dulu ke Bali. Itu juga karena urusan pekerjaan."


"Kamu pernah belikan aku ini?" tunjuk Lily pada permen kapas di tangannya. Lagi. Bima menggelengkan kepala.


"Kenapa? Kamu ingat sesuatu?"


"Seperti pernah, tapi gak tahu juga." ucap Lily.


'Mungkin ingatan Una saat bersama Azka. Aku gak pernah ajak Una kemana-mana dulu.' batin Bima, ingat cerita Adit kalau selama ini Azka selalu menjaga Lily. Bima merasa bersalah dan sangat menyesal karena dulu tidak memperhatikan Lily dengan semestinya.


Kereta mini berhenti, kini Yumna bisa naik dan menyunggingkan senyum bahagianya. Dengan permen kapas di tangan Yumna melambaikan tangan pada Lily dan Bima.


"Mamaa. Papaaaa..." tangan mungil Yumna melambai di balas oleh Bima dan Lily dengan lambaian dan senyuman.


'Benar, aku pernah mengalami seperti ini. Tapi bukan dengan Bima. Apa mungkin Mas Azka?! batin Lily. Lily mencoba mengingat, Adit dan mama Puspa bilang Lily dulu dekat dengan Azka sebelum mereka menikah.


Lily mencoba menahan sakit pada kepalanya yang terasa sedikit berdenyut, tapi Lily masih tetap mencoba bertahan.


Selesai dengan kereta mini.


"Papa, mau itu!" tunjuk Yumna lagi pada sekumpulan boneka. Permainan lempar gelang pada botol kaca dengan hadiah boneka.


"Mau? Papa belikan yang besar ya?" tunjuk Bima pada pedagang boneka yang tidak jauh dari sana. Yumna menggeleng tetap menunjuk boneka yang di inginkannya.


"Una, aku gak pernah main kayak gitu!" terang Bima sedikit berbisik meminta pertolongan sebenarnya.


"Oke. Ayo papa kita main disana!" Bukannya membantu memberi alasan tapi perkataan Lily menyebutkan kata 'papa' seperti sihir, membuat hati Bima berbunga-bunga dan Bima menurut begitu saja saat Lily menariknya kesana.


"Na?!" Sekali lagi Bima meminta bantuan pada Lily, tapi Lily bersikap tak acuh malah di bibirnya tersungging senyuman.


Yumna berada dalam gendongan Lily sementara Bima memegang beberapa gelang di tangannya.


"Ayo PAPA cepat lempar!" seru Lily dengan menekan kata 'papa' pada kalimatnya. Bima tersenyum canggung karena dia juga di perhatikan oleh beberapa orang.


"Udah lempar aja. Gak menang juga gak pa-pa." hibur Lily kemudian.


"Aku cuma takut anak kita kecewa kalau aku gak menang."


"Kalau gitu harus menang!" ucap Lily menyemangati.


"Ayo, papa pasti bisa!" Seru Lily dengan mengangkat tangan Yumna ke udara.

__ADS_1


Bima memandang objek di depannya. Satu kali sentakan, gagal!


"Yaaaa... gagal!!" seru Lily. Tapi Yumna sama sekali tidak terlihat bersedih dia malah bersorak kegirangan. Berteriak untuk menyemangati Bima.


Bima yang tersulut semangat kemudian mencoba sekali lagi. Dan lagi, tapi masih gagal juga, dari lima gelang hanya dua yang berhasil melingkar di leher botol.


Seumur hidup dia selalu di sibukkan dengan bekerja dan mencari Una, lalu menikah dengan Dena, dan tidak pernah berfikir untuk menyenangkan dirinya dengan bermain.


Saat gelang di tangannya habis Bima mencoba sekali lagi, toh mengeluarkan beberapa lembar uang demi kebahagiaan anaknya tidak akan rugi kan? Dia tidak mau membuat Yumna kecewa!


Percobaan ketiga. Suara riuh terdengar saat Bima berhasil memasukan tiga di antara lima gelang di tangannya.


"Bima!" tangan Bima yang siap untuk melempar bola terhenti, dia menoleh dan mendapati Lily dengan Yumna yang tengah memeluk erat leher Lily.


"Udah, Yumna juga udah tidur." ucap Lily. Bima tidak tahu sudah berapa lama dia bermain hingga tidak menyadari kalau Yumna sudah tertidur. Dia terlalu bersemangat dengan permainan ini.


"Oke, sebentar." ucap Bima lalu dengan cepat melempar gelang yang tersisa.


Hap.


Hap.


Gagal!


Bima meringis malu pada Lily karena tidak berhasil.


Bima hanya mendapat satu boneka kecil berbentuk beruang pink dengan hati kecil berwarna merah di tangannya, itupun bonus dari pemilik stand.


Bima mengambil alih Yumna ke dalam gendongannya. Yumna hanya sedikit bergerak lalu kembali menutup matanya.


"Tangan kamu pasti pegel, ya?" tanya Bima. Lily hanya tersenyum.


"Beli boneka dulu buat Yumna." Bima menggandeng tangan Lily ke tempat penjual boneka yang tadi sempat di tunjuk Bima.


"Pilih yang Yumna suka. Maaf aku gak bisa menangin permainan tadi." sesal Bima.


"Gak pa-pa." Lily memilih boneka sapi berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tidak juga kecil untuk Yumna. Yumna sangat suka sekali dengan hewan penghasil susu itu.


"Kita gak sempet naik komidi putar Na!" sesal Bima. "Atau kamu mau naik?"


"Gak usah. Kamu pasti capek kalau gendong Yumna terus. Kita pulang?"


"Padahal, aku juga pengen banget naik bianglala sama kamu sama Yumna juga."

__ADS_1


Lily jadi merasa tidak enak melihat raut wajah Bima yang bersedih.


"Bianglala aja tapi ya. Udah itu pulang." Bima mengangguk lalu membawa Lily ke arah pembelian tiket. Beruntung mereka tidak lama menunggu. Mereka pun masuk dan mulai beranjak naik dengan perlahan.


__ADS_2