
Ratih merutuki kelakuan anaknya, dia membuat leher Lily di penuhi bercak merah. Lily hanya diam menunduk malu, wajahnya merah.
"Mbak, ini bisa di tutupin kan?!" tanya Ratih sedikit khawatir pada MUA yang di tunjuk Bima. Orang yang sama dengan yang tadi pagi merias Lily.
"Tentu bisa bu."
"Agak cepat ya! Tolong!" Ratih terus mendumel tidak jelas karena mereka telat tadi, harusnya kedua mempelai sudah dari jam empat tadi sudah datang dan bersiap untuk dirias. Tapi mereka malah tidur terlelap dan sulit di bangunkan.
Bima hanya mendelik melihat sang mama yang terus menatap dan mencerca dirinya.
"Namanya juga udah halal mah, colek dikit gak pa-pa kan lagian juga gagal karena keduluan sama yang lain!" jawab Bima yang membuat mamanya bingung. Sedangkan Lily mengepalkan tangannya.
Awas saja kalau hal itu juga di ceritakan sama mama! batin Lily geram.
"Apa maksud kamu?!" tanya Ratih. Lily semakin ingin mengelamkan Bima ke dalam laut.
"Gak jadi karena yang di cari Lily roti jepang!" Sontak hal itu mendapat kekehan dan tawa yang di tahan dari beberapa orang disana. Tentu mereka tahu karena semua orang disana adalah perempuan, kecuali Bima dan periasnya.
MUA yang merias Lily dan dua asistennya menahan tawa, dan juga lelaki gemulai yang merias Bima terkikik dengan tawa kuntinya.
"Mas Bima!!! MALAM NANTI TIDUR DI LUAR!!!" teriak Lily geram plus malu dari kursi riasnya. Pecah sudah tawa di ruangan itu, dan seketika pria gemulai yang selalu menjaga suaranya agar tetap lembut kini tertawa dengan gagahnya. Tidak lagi terlihat tangan keriting dan gemulainya, yang ada sosok kelelakiannya yang memang tampan keluar.
Acara malam itu berjalan dengan lancar. Lily terlihat sangat cantik dengan balutan dress putih berwarna gading, dan rambut yang diikat setengah, di buat bergelombang. Di atas kepalanya terdapat tiara yang di pesan secara khusus dengan beberapa berlian dan batu rubi. Bima juga terlihat sangat tampan dan gagah meski kini usianya sudah memasuki kepala tiga.
Yumna terlihat sangat cantik duduk di antara mereka, dengan balutan dress yang sama seperti Lily. Rambut ikalnya di kucir kuda, dan menyisakan sedikit di bagian depan. Di kepalanya juga sama terdapat tiara yang di buat khusus oleh pengrajin ternama.
Ucapan selamat silih berganti berdatangan dari para tamu undangan. Baik itu dari kolega bisnisnya, kerabat, maupun teman-teman yang lain.
__ADS_1
Tiga hari yang lalu Bima mengadakan konferensi pers, dia tidak mau ada berita miring mengenai dirinya di kemudian hari yang bisa membuat Lily dan Yumna repot dengan pemberitaan miring. Mengenai siapa Lily dan Yumna, tidak ada yang di tutupi Bima saat itu. Berita mengenai dirinya tersebar luas di keesokan harinya. Ada pro kontra, dan sisi positif dan negatifnya, tapi Bima dan Lily memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan pemberitaan tersebut.
"Selamat bro! Akhirnya, semua yang elo lakukan selama ini gak sia-sia!" ucap Yoga sambil menepuk bahu Bima senang di temani Wanda yang menggandeng anak laki-laki tampan berusia lima tahun.
"Makasih elo dah nyempetin datang." ucap Bima.
"Datang dong, gue kan mau sekalian lamar anak elo buat jadi menantu gue!" sontak ucapan suaminya membuat Wanda mencubit pinggang Yoga gemas!
"Aww, apaan sih mami!" Yoga mengelus pinggangnya yang terasa panas.
"Papi nih, anak-anak masih kecil juga main jodoh-jodohin segala!" Wanda yang di buat garang wajahnya.
"Kan usaha mi. Bibit unggul. Mana lagi coba cari anak secantik Yumna? Kecil aja cantik apalagi nanti udah gedenya? Lihat anak kita, udah main pandang-pandangan aja!" Yoga membela diri dan menunjuk putra kesayangannya yang sedang tersenyum dengan pipi merona melihat Yumna, begitu juga Yumna yang terlihat malu bersembunyi di balik lengan Lily, tapi juga tidak bisa menyembunyikan pandangannya untuk diam-diam melirik Aldy, putra Yoga-Wanda.
Keempat orang dewasa itu tertawa pelan melihat tingkah keduanya.
"Gue gak bisa janji!" ucap Bima yang teringat tentang cerita sang papa, janji menikahkan dirinya dengan Una, hingga dulu Bima hampir gila. Apa mungkin salah satunya karena janji itu?
"Yaa elo nolak gue?" Yoga lesu.
"Bukannya nolak, tapi emang ke depannya siapa yang tahu. Kalau mereka jodoh suatu saat nanti gue bisa apa, besanan sama sobat somplak kayak elo?"
"Dasar elo 'karung bekatul'! sarkas Yoga kesal karena di bilang somplak. Para istri hanya bisa tertawa pelan melihat perdebatan dua sahabat itu.
"Waaah, kalian ninggalin gue nih!" suara seseorang datang. Roman bersama Nila yang datang dengan bergandengan mesra baru saja naik ke atas panggung pelaminan.
"Selamat ya, Bim. Akhirnya elo gak jadi penghuni rumah sakit jiwa!" ucap Roman sambil menarik Bima ke dalam pelukannya singkat.
__ADS_1
Bima mendorong tubuh kurus Roman.
"Elo juga sama, sakit jiwa saat cari Nila!" ucapan Bima membuat pipi Nila memerah.
"Gue hampir, tapi gak nyaris gila kayak elo!" cerca Roman.
"Emang apa bedanya hampir sama nyaris?" tanya Wanda yang selalu jutek pada Ramon. Pasalnya kalau Ramon sedang rindu sosok Nila dia akan mabuk dan berakhir dengan Yoga yang meninggalkan dirinya. Tak jarang Yoga membawa Roman yang mabuk ke rumah. Saat pagi menjelang rumah Wanda sudah sangat berantakan hingga seperti kena angin ****** beliung.
"Ya beda lah! Bedanya gue masih bisa berfikir waras dan jaga penampilan gue biar tetep ganteng! Lah dia persis mayat hidup!" Roman membela diri.
"Halahh ganteng dari mana?! Nil jangan terlalu percaya sama dia, sepupu gue ini playboy cap jempol ayam! Gak gentle, sok romantis! Masa waktu kemaren minta di siapin makan malam romantis kalian minta bantuannya sama gue! Dia pasti bilang, dia sendiri yang siapin kan?" tebak Wanda.
"Oh, jadi kemarin itu aku di bohongin!" Nila berkacak pinggang melotot pada sosok di sampingnya yang kini hanya nyengir persis kuda.
"Hehe, maaf yang." ucapnya lembut pada Nila, lalu beralih pada sosok sepupu juteknya. "Dasar sepupu gak ada akhlaq! Bukannya bantuin gue, malah jerumusin gue!" ucapnya dengan pelototan!
"Cihh, salah sendiri sok romance! Nama aja Roman nyatanya, kagak!! Lain kali kalau mau romantis belajar dulu!"
"Iya dong, kalian semua kalo mau belajar romantis dari gue!" sebuah suara lagi datang dan panggung pun penuh dengan sepasang pengantin dan para sahabatnya ini. Adit dan Celia yang baru saja datang. Semuanya bergantian saling berpelukan satu sama lain. Begitupun para istri.
"Baru datang lo?" tanya Roman.
"Hehe gue ketiduran tadi, gak ada yang bangunin gue. Untung mama telfon! Elo juga kenapa gak bangunin gue?!" Tanya Adit pada Bima.
"Mana gue tahu kalo elo juga belum bangun! Gue aja di seret mama tadi karena telat bangun karen... akhhh!" Lily menginjak kaki Bima. Kalau tidak segera di hentikan Bima bisa saja membuka hal yang seharusnya tidak di katakan.
"Kenapa mas?" tanya Lily dengan senyum menyeringai setengah melotot.
__ADS_1
"Ah enggak, kaki aku kayaknya ada semutnya!" ucap Bima sambil meringis pasalnya heels yang Lily pakai runcing dan membuat kakinya sakit.