
"Kamu udah siap?" tanya mama Puspa yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Lily sedang mematut dirinya di cermin. Dia terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih yang indah dengan bawahan batik khas Jogja, rambutnya di sanggul di belakang dengan hiasan di kepala. Adat khas Jogja untuk acara akad sedangkan gaun pengantin untuk acara nanti malam.
"Aku gugup ma!" Lagi, untuk ke sekian kalinya Lily mengusap pelan keningnya yang berkeringat. Bahkan sang make up artis ternama sampai beberapa kali kembali membenahi make up pada riasan Lily.
Padahal aku menikah bukan cuma kali ini, tapi kenapa gugup?
"Mamaa..!!" Yumna berlari menghampiri Lily, di belakangnya Melati yang juga ikut menghampiri.
"Mama cantik kayak plincess!" ucap Yumna saat Lily mengangkatnya ke dalam gendongan.
"Kamu juga cantik kayak Elsa!" Ucap Lily menyebutkan nama tokoh kartun kesukaan Yumna, dan tatanan rambut Yumna memang kali ini di buat persis seperti Elsa, hanya saja dengan gaun putih yang senada dengan sang mama.
"Kamu cantik Ly." Melati berdiri di belakang Lily dan mengusap bahu Lily pelan. Matanya berkaca-kaca.
Baru beberapa bulan yang lalu Lily memakai gaun pengantin dan bersanding bersama Azka, tapi hari ini mantan menantunya ini kembali akan menikah dengan pria lain yang tentunya juga sama mencintai Lily.
"Mama senang akhirnya kamu bahagia." Melati mengusap sudut matanya yang basah.
Lily menurunkan Yumna dari pangkuannya dan berdiri, memeluk mertua yang ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
"Azka pasti bahagia kalau kamu juga bahagia." ucap Melati yang terisak di belakang bahu Lily.
"Sayang sekali kamu dan Azka tidak lama berjodoh, tapi kamu adalah jodoh Azka hingga akhir hayatnya. Dia sangat bahagia sudah bisa menikah sama kamu. Semoga bahagia nak, hingga akhir hayat kalian. Lahirkan banyak cucu buat kami!"
"Trimakasih karena mama sudah merestui aku dan Bima."
Puspa yang melihat adegan sedih di depannya itu ikut berlinangan air mata. Dia tahu bagaimana kisah perjuangan Azka selama tiga tahun hingga akhirnya mereka menikah.
__ADS_1
Tok. Tok.
Pintu terbuka.
Celia datang bersama Adit. Di belakang mereka ada Budhe Nani dan Tari. Keluarga pakdhe Yudha sudah datang sejak tiga hari yang lalu.
"Mbak Una, cantik." seru Tari sambil mengayunkan kedua tangan Lily senang, "Tari kapan, bu?" kini menoleh pada sang ibu.
"Lah, kamu emang udah ada calon toh nduk?" tanya budhe Nani.
"Hehe, belum sih!" Tari cengengesan sendiri menularkan hal yang sama pada yang lainnya.
"Mempelai wanita apa sudah siap?" tanya Celia dengan senyuman.
"Aku gugup Cel!" ucap Lily.menatap Celia.
"Lily sayang, kamu itu bukan baru pertama kali menikah!" ucap Adit.
"Itu fakta! Ayo turun sebelum Bima pingsan di bawah sana!" Ajak Adit lalu mengangkat Yumna ke dalam gendongannya.
"Wajah Bima sudah pucat sedari tadi. Sepertinya dia juga gugup. Hihi." bisik Celia sambil tersenyum.
Lily dan yang lainnya turun dari lantai atas. Akad memang di laksanakan di kediaman keluarga Mahendra. Tamu yang di undangpun hanya keluarga dan kerabat terdekat. Dan tak lupa kedua otangtua Dena juga mereka undang. Acara akan di lanjutkan dengan resepsi yang akan di laksanakan di hotel nanti malam.
Perlahan Lily turun, menapaki undakan tangga satu persatu. Lantai bawah sudah di ubah sedemikian rupa menjadi sangat indah. Berbagai hiasan bunga dan kain-kain yang menjuntai dari atas hingga ke lantai berwarna soft pink dan biru langit.
Semua tamu sangat terpesona dengan sang mempelai wanita. Bima sampai berdiri, mulutnya terbuka, karena melihat calon istrinya yang terlihat sangat menawan, meski tidak ada riasan yang berlebihan di wajahnya. Di belakangnya mengikuti para mama yang menjadi dayangnya dan Juga Celia dan Adit yang menggendong Yumna, Budhe Nani dan Mentari.
Suara tepuk tangan riuh terdengar saat Lily mulai mendekat ke meja akad.
__ADS_1
Lily tersenyum malu, melihat Bima yang tidak berhenti menatapnya. Ya ampun, Bima persis seperti Yumna yang heran dan takjub saat melihat warna merah di campur biru. Lalu dia menerbitkan senyum bahagia nya.
"Cantik!"
Wajah Lily semakin merona.
Mereka duduk berdua di depan meja akad. Bima tidak bosannya menolehkan kepala ke arah samping, tidak percaya akhirnya hari yang di nanti datang juga. Lily hanya menundukan kepalanya malu, dirinya juga tidak menyangka akan segugup ini padahal ini kedua kalinya ia menikah dengan Bima.
Pakdhe Yudha selaku wali nikah Lily, kini menjabat tangan Bima yang tidak berhenti gemetar sedari tadi. Tangan dan dahi Bima sudah basah karena keringat. Pakde Yudha tersenyum geli melihat Bima, kurang lebih sama seperti dirinya sewaktu menikahi sang istri.
Ratih mengambil tisu dan mengelap kening Bima yang basah.
"Sudah siap, Mas Bima? Mbak Lily?" tanya penghulu.
"Si-Siap." ucap Bima gugup.
"Yang tegas dong. Masa' kayak gitu! SIAPP!! Gitu dong mas!" ucap penghulu dengan lantang pada Bima. Para tamu yang hadir tertawa mendengar pak penghulu yang masih ingin menggoda Bima. Bima hanya terkekeh malu.
"Sekali lagi saya tanya. Mas Bima sudah siap?!"
"SIAAPPP!!" ucap Bima dengan lantang akhirnya. Kegugupannya agak sedikit menghilang.
"Oke bapak silahkan selaku wali nikah mempelai wanita."
Pakdhe Yudha bersiap.
"SAUDARA BIMA SATRIA MAHENDRA BIN ADI MAHENDRA, SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN LILY ARUNA ATMAJA BINTI DERI ATMAJA DENGAN MASKAWINNYA BERUPA SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN EMAS DUA PULUH GRAM. TUNAI."
Bima menarik nafas panjang.
__ADS_1
"SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA LILY ARUNA ATMAJA BINTI DERI ATMAJA DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT DIBAYAR TUNAI."
Semua orang terdiam, membuat Bima harap-harap cemas. Lagi satu bulir keringat turun dari dahinya.