
Lily dan Azka sedang mengajak Yumna berjalan-jalan di mall terbesar di Surabaya. Mereka layaknya keluarga yang bahagia. Selesai dari area permainan dan sudah menunjukan tengah hari, akhirnya mereka makan di foodcourt untuk mengisi perut mereka.
Yumna terlihat sangat manja pada Azka, bahkan selama ininselalu menggelayuti jika bertemu dengan Azka.
"Sini aaa." ucap Azka yang sedang menyuapi Yumna, Yumna dengan senang hati membuka mulutnya menerima suapan dari papanya. Kakinya mengayun di bawah kursi hingga tubuhnya tidak bisa diam. Rambutnya yang di kuncir dua bergerak-gerak mengayun.
"Yumna, kalau makan diam sayang." Lily mengingatkan. Yumna menurut, kali ini makan dengan tenang. Lily mengambil sendok di piring Yumna dan akan menyuapi anaknya.
"Gak mau!" seru Yumna. "Suapin papa!"
"Yumna, papa lagi makan sama mama dulu ya. Sini, ayo ini pesawat datang. Nguuuungg aaaaa." Lily menyuarakan suara pesawat, biasanya itu berhasil untuk Yumna membuka mulutnya. Tapi Yumna memalingkan mukanya dengan bibir yang mengerucut.
"Yumna, gak boleh gitu sayang!"
"Udah sini, aku yang suapin." Azka merebut sendok dari tangan Lily.
"Tapi mas..."
"Udah kamu cepat habisin makanan kamu, sesudah ini kita akan berangkat lagi."
"Kemana?"
"Ada aja!" ucap Azka kemudian menirukan pesawat untuk menyuapi Yumna. Tumna dengan senang hati menerima makanannya.
"Azka?" panggilan seorang wanita membuat Azka dan Lily menoleh bersamaan. Lily tersenyum, sedangkan Azka raut wajahnya mulai berubah.
"Apa kabar?" tanya wanita itu sambil mencium pipi kiri dan pipi kanan Azka, hati Lily rasanya nyeri seperti ada yang mencubit.
"Baik. Kamu ngapain kesini?" nada suara Azka datar terkesan tidak suka.
"Ahh, aku lagi belanja. Kamu sama siapa?" wanita itu mengalihkan pandangan ke arah Lily.
"Kenalin saya Sasha, mantan tunangan Azka." ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Lily.
"Saya Lily..." menyambut tangan Sasha.
"Dia calon istri saya!" ucap Azka memotong.
"Calon istri ya?" terdengar tawa kecut dari bibir Sasha, lalu melepaskan tangannya.
"Ternyata selera kamu udah berubah ya Ka." Dia tersenyum miring. "Apa kamu sangat frustasi saat aku tinggal dan sekarang selera kamu turun sama janda yang sudah punya anak? haha." Sasha tertawa mengejek. Lily merasa semakin sakit hatinya.
"Jangan menghina calon istri saya. Dia seribu kali lebih baik dari pada kamu yang udah berhianat! Pergi menjelang hari pernikahan dengan pria lain!" Azka sudah berdiri dari duduknya. Para pengunjung melihat ke arah mereka saling berbisik dengan perdebatan yang terjadi.
__ADS_1
"Mas, udah." Lily menggenggam tangan Azka yang mulai terkepal di kedua sisi tubuhnya.
"Tapi itu karena kamu juga Ka. Kamu kaku. Kamu gak tahu apa yang aku butuhin kan? Kamu gak bisa bersenang-senang seperti yang lainnya."
"Itu karena dulu aku sayang sama kamu, aku gak mau ngerusak kamu! Tapi kamu sama sekali gak ngerti! Dan aku bersyukur berpisah dari kamu. Mungkin aku gak akan ketemu sama cinta aku!" Rahang Azka sudah mengeras, matanya memerah.
"Ayo Lily!" Azka meraih tubuh Yumna ke dalam gendongannya dan tangan Lily untuk segera berlalu dari sana. Lily merasakan tangannya sakit karena genggaman kuat Azka.
Sasha menatap kepergian Azka dengan senyum penuh luka. Menyesal pun tak ada gunanya.
Brakk
Azka menutup pintu mobil dengan keras, lalu menyalakan mobil dan segera menancapkan gasnya. Lily merasa takut karena Azka mengebut. Memanggil Azka pun rasanya percuma karena sepertinya dia sedang diliputi emosi. Dan hampir saja mereka bertabrakan.
Yumna melingkarkan kedua tangannya pada leher Lily dengan erat, wajahnya sudah ketakutan hampir menangis karena tidak biasanya Azka membawa mobil seperti ini.
Kenapa dia datang lagi? setelah sekian lama ini aku berhasil melupakan dia. Kenapa harus datang lagi?
"Mas!" Lily memegang tangan Azka di atas kemudi. Baru lah Azka sadar, menurunkan kecepatannya dan menoleh ke arah Lily.
"Lily?" Ya ampun kenapa aku sampai lupa dengan Lily? batinnya saat melihat wajah tenang Lily dan wajah takut Yumna.
"Maaf, Lily. Maaf." bodoh! kenapa aku sampai lupa pada Lily dan Yumna, aku hampir saja mbuat mereka celaka karna mengebut.
"Maafin papa ya, Yumna." Yumna tidak menanggapi malah semakin erat menyerukan kepalanya di leher Lily.
"Maafkan aku Ly."
Lily hanya tersenyum sambil mengusap punggung tangan Azka.
*
Maaf Lily, kita gak jadi pergi hari ini." sesal Azka karena Lily meminta pulang setelah kejadian tadi. Rencananya Azka akan pergi ke taman dan memberikan kejutan untuk Lily dan Yumna.
"Gak pa-pa, mas. Lain kali aja." senyum Lily membuat Azka merasa tenang seketika. Azka terdiam.
"Ya udah, Lily mau ajak Yumna tidur siang."
"Maaf." lirih Azka. Lily tersenyum dan mengusap lembut pipi Azka. Azka menyambut tangan Lily dan mengecup telapak tangan Lily dengan sayang.
Lily menatap kepergian Azka dengan nanar. Entah apa yang ada di dalam fikiran Azka, tapi Lily yakin Azka akan baik-baik saja!
*
__ADS_1
Hari ini Lily, Azka dan Yumna berada di dalam butik. Mereka akan mencoba gaun pernikahan. Yumna juga mendapatkan bagiannya. Gadis kecil itu akan membawakan buket bunga untuk sang mama.
"Cantik sekali sih kamu sayang!" goda Azka menciumi pipi Yumna dengan sayang, Yumna sudah memakai gaunnya dengan hiasan rambut pada kedua kuncirnya.
Pegawai butik itu tersenyum memandang gemas pada sosok Yumna, sebenarnya mereka ingin sekali mencubit pipi gembil itu. Hanya saja mereka takut jika sang papa akan marah. Tangan mereka sudah gatal sedari tadi.
"Mas." Azka yang masih menggoda Yumna menoleh pada panggilan dari belakangnya, dia terkesima. Seketika tubuhnya membeku melihat pada sosok yang berdiri di depannya.
Lily dengan gaun putih berlengan panjang serta beberapa kancing pada pergelangan tangannya. Rok nya menjuntai panjang ke belakang. Meski sekilas gaun satin berlapis tulle itu terlihat sederhana, tapi bila diperhatikan, sulaman renda bunga mawar di atasnya membuat gaun tersebut menjadi elegan.
Mata Azka tidak berkedip, perlahan dia berdiri masih pada tempatnya sementara Yumna sudah berlari ke arah sang mama dengan baju yang senada dengan miliknya. Senyumnya mengembang bahagia melihat dia dan sang mama sudah sama-sama cantik dalam balutan dress senada.
"Yumna, kamu cantik sayang." Ucap Lily pada sang putri yang kini memeluk kakinya. Lily mengusap lembut kepala Yumna yang menengadah padanya.
Azka masih terpaku di depan Lily, tidak menyangka Lily akan terlihat sangat cantik dan menawan dengan gaun itu. Apa lagi dengan rambut yang di ikatkan ke belakang membuat leher jenjang Lily terlihat semakin nyata. Seksi!
Lily pun sama, terpesona dengan penampilan Azka yang semakin gagah dengan jas berwarna putih. Rambutnya rapi tersisir ke belakang.
Azka mendekat ke arah Lily.
"Cantik. Sempurna!" ucapnya membuat Lily terasa panas di kedua pipinya. Sekilas mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia, sangat bahagia.
"Bapak, ibu. Bisa tolong lihat ke arah sini?" ucap seorang pegawai dengan kamera di tangannya, membuat kedua insan itu terseret kembali dari alam lain.
"Bisa lebih dekat lagi, pak. Adek nya juga, di depan sayang!" senyum pemuda itu, menularkan senyuman pada semua temannya yang lain yang sedang memperhatikan mereka dengan senyuman, dan rasa iri.
Calon mempelai pria yang gagah, dan calon mempelai wanita yang cantik. Meski disini entah yang punya anak siapa, calon dari si pria, atau calon dari si wanita, tapi mereka tidak peduli. Yang membuat mereka takjub adalah keindahan di depan mereka!
"Lebih dekat lagi ya pak bu."
Cekrekk.
Cekrekk.
Dan beberapa lagi. Lily merasa malu karena banyak yang memperhatikan. Salah satu layanan yang di berikan oleh butik ini untuk calon pengantin saat fitting gaun pengantin.
"Sudah ini kita ambil undangan." Lily mengangguk sekarang mereka sudah keluar dari dalam butik, Yumna berada dalam gendongan Azka, setengah mengantuk.
Azka dan Lily sudah selesai dengan urusan mereka, kini keduanya dengan Yumna tentunya, sudah berada di rumah saat menjelang sore hari.
Azka menggendong Yumna ke dalam kamar, dan menidurkan putrinya perlahan di atas kasur. Rasa sayangnya sudah tidak di ragukan lagi. Meski bukan darah dagingnya, tapi Yumna sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Rasa sayangnya tidak akan pernah bisa di bandingkan dengan yang lain.
Azka kembali ke ruang tamu, menemui Lily yang sedang menatap takjub pada lembaran undangan yang ada di tangannya. Indah dengan tinta emas yang tercetak disana. Undangan sudah siap untuk di sebarkan minggu depan. Sepuluh hari lagi akad sekaligus resepsi akan di adakan.
__ADS_1