
Bima Satria.
Entah kenapa sejak beberapa hari bertemu dengan Yumna aku merasa berbeda, hatiku menjadi lebih hidup. Kekosongan yang selama ini aku rasakan sedikit demi sedikit terisi dengan nama dan wajah gadis mungil itu. Entah apakah karena dia mirip dengan Una? Atau karena nama mereka hampir mirip? Yumna-Una?! Hahhh ya ampun. Aku takut mulai gila lagi! Aku bosan bertemu dengan Rio!
Hari ini aku harus ke Singapura, untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan XX. Masih ada dua jam lagi pesawat akan terbang. Sebenarnya jika ketemu Yumna dulu pasti akan sempat, tapi pekerjaan di kantor juga tidak bisa aku abaikan.
Semenjak kepergian Una, aku belum lagi mendapatkan sekretaris yang cocok. Beberapa kali berganti, tapi tetap saja hanya Una yang menurutku terbaik di antara mereka. Entah aku hanya membandingkan atau karena aku juga menyukai Una? aku juga tidak tahu.
Pintu terbuka seseorang masuk dengan tergesa, ku lihat penampilannya sangat kacau, dengan wajah sembab dan mata memerah. Rambut acak-acakan. Adit.
Apakah dia sudah menangis? Mana Yumna?
"Mana Yum..."
"Tolongin gue Bim!" Adit memotong pertanyaanku. Aku mengernyit bingung.
"Please tolongin gue!" suaranya bergetar.
__ADS_1
"Ada apa sih?" tanyaku. "Duduk dulu deh!"
"Gak ada waktu. Elo harus ikut gue sekarang juga. Please gue mohon!" seorang Adit memohon? Luar biasa! Ada apa sebenarnya?
"Ikut kemana?"
"Yumna kecelakaan. Gue teledor tadi, maafin gue!" Aku terkejut hingga terbangun dari kursi ku. Adit menangis, dia menyesal karena perbuatannya.
Kecelakaan? Dasar Adit kenapa dia tidak bisa hanya menjaga anak kecil? Ya Tuhan bagaimana keadaan Yumna sekarang? Lalu kenapa dia di tinggalkan sendirian?
"Please bantuin gue, dokter bilang stok darah yang Yumna butuhin habis. Gue udah cari ke beberapa tempat, gue gak dapet, Bim. Cuma elo satu-satunya harapan gue. Please!"
Aku tertegun mendengar Adit memohon. Seketika teringat dengan sinetron dan beberapa film yang menayangkan adegan yang sama. Lalu pada akhirnya...
Ah gak mungkin!
"Please Bim, Yumna dalam keadaan kritis! Darah elo pasti sama dengan Yumna!"
__ADS_1
Aku semakin tidak percaya, dadaku semakin bergemuruh. Hati ini serasa sakit. Lututku juga terasa lemas dan bergetar.
Mungkinkah?
"Maafin gue Bim, gue udah nutupin semua ini dari elo. Yumna.. Yumna anak Lily. Dia anak Elo!"
Di luar udara sangat panas, tidak ada sedikitpun awan terlihat di atas sana, tapi kenapa rasanya aku mendengar suara petir dahsyat yang menggelegar.
Aku harap Adit bohong! Oke aku mulai menyayangi Yumna seperti anakku sendiri. Akhir-akhir ini dia selalu menyita perhatianku. Senyumnya, tawanya, cara merengutnya, selalu membuatku yang rindu akan sosok seseorang terobati lukanya. Dia selalu menghiasi mimpiku, hingga mimpi yang biasa kosong dan menyedihkan berganti menjadi indah. Semua karena Yumna, tapi...
"Bima, sadar!" teriak Adit, sepertinya aku terlalu shock mendengar Adit berbicara.
"Jangan bercanda Dit, gak lucu!" tapi bisa ku lihat dari sorot matanya Adit sepertinya sedang tidak bercanda sama sekali! Ya ampun. Ada apa ini?!
"GUE GAK BERCANDA, BIMA! YUMNA ITU ANAK ELO. DIA ANAK LILY!" Teriakan Adit lalu membuatku sadar dan segera melarikan kakiku.
Tunggu papa Yumna! Tunggu papa!
__ADS_1