Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 58


__ADS_3

Kami terdiam di meja makan sambil memandang makanan di depan kami. Gosong!


"Mas kamu gak pernah masak?" tanya Lily pandangannya tetap menatap makanan di depan kami.


"Pernah." jawabku asal. Kami masih terdiam, lalu aku mengambil piring tersebut dan membawanya ke tempat sampah, membuang makanan yang aku buat, piring aku letakan di wastafel, lalu kembali duduk di depan Lily.


"Aku minta pak Dani aja buat beliin makanan." ucapku lalu berdiri. "Kamu mau makan apa?" tanyaku kemudian.


"Nasi uduk aja. Pake tempe bacem sama kerupuk. Trus sambelnya yang banyak." jawabnya.

__ADS_1


Pak Dani, satpam kami, segera berangkat mencarikan makanan ke depan kompleks menggunakan sepeda. Motor ada di garasi tapi dia enggan pakai karena jarak ke depan dekat sekalian olah raga katanya, lagipula ini masih jam setengah tujuh. Oke. gak masalah, karena aku akan berangkat pada jam setengah delapan.


Aku bergegas mandi sembari menunggu makanan datang, Menyemprotkan minyak wangi di tubuh ku. Ku pakai kemeja berwarna biru langit dan dasi biru dengan corak senada dengan kemeja ku dan celana bahan berwarna navy, lalu terakhir jas warna navy dengan garis kecil lurus. Menyisir rambutku yang masih basah ke belakang. Sepertinya aku harus segera pergi ke barbershop. Rambut depanku sudah mulai mengganggu!


"Mas cepat makanan sudah datang!" ku dengar teriakan Lily dari arah dapur. Rumah ini tidak terlalu luas, berbeda dengan tempat tinggalku dengan Dena sehingga aku bisa mendengar suara Lily dengan jelas.


"Yes. I'm come!" seruku. Lalu memakai sepatu dan mengambil tas kerjaku, kemudian keluar menuju dapur.


Lumayan lah. Daripada berangkat ke kantor dengan perut lapar! Tapi aku rasa masih lebih enak nasi goreng buatan Lily tempo hari.

__ADS_1


Aku berangkat sendiri. Seperti biasanya sih karena Lily selalu nolak berangkat bersama. Dia juga lebih sering memakain sepeda motor daripada mobil yang aku sediakan untuknya Atau terkadang memakai taksi jika merasa malas berkendara. Entahlah, aku rasa Lily berbeda dari wanita kebanyakan. Dia tidak pernah neko-neko, padahal dia bisa pamer dengan mobil ku yang terbilang cukup elit dan biasa di pakai para pengusaha. Bukankah biasanya para wanita tidak pernah melewatkan fasilitas mewah yang biasa di sediakan? Dan kartu debit yang aku berikan, aku terkejut karena jumlah yang ia pakai hanya sedikit. Bahkan jika di banding dengan kebutuhan salon Dena tiap bulannya.


Ah sudahlah, beruntung juga punya istri yang tidak boros seperti Lily. Padahal aku juga tidak keberatan jika dia ingin berbelanja kebutuhannya, atau bahkan mengkoleksi tas atau sepatu yang bahkan hanya untuk menjadi pajangan di lemari. Toh aku juga gak akan jatuh miskin karena itu kan? Perusahaan ku ada beberapa, belum termasuk anak cabang yang berada di beberapa kota. Dan hotel yang ada di luar pulau jawa, meskipun baru di Bali saja yang berjumlah tiga dan di tambah dengan satu yang masih di bangun.


(Cihh, sombong!!😒😒) author.


😅😅😅


Bima pov end.

__ADS_1


***


Lily hanya berguling-guling di atas kasurnya. Tugas yang di berikan Bima sudah ia selesaikan dan ia kirim kembali via email. Rasanya bosan juga hanya di rumah, biasanya waktu makan siang Lily akan makan dengan Yeni. Kalau saja Bima tidak melarangnya bekerja. Lagipula Lily juga masih bisa berjalan. Kaki Lily tidak patah, hanya terkena cipratan air panas. Dasar Bima lebay!!


__ADS_2