
[Kembali ke kantor sesaat setelah Lily pergi.]
"Aku benci Lily, dan aku menyesal sangat mencintainya!" wanita cantik di depan Bima tersenyum senang, dia sangat tahu apa yang ada di dalam fikiran Bima.
"Dia hidupku, Sof. Aku bisa mati kalau jauh dari dia. Dia itu seperti matahari bagiku. Dia dan Yumna segalanya. Aku akan sangat menyesal dan aku ingin mati saja kalau dia pergi lagi!"
"Yeah, I know. Aku tahu bagaimana gilanya kamu waktu dia gak ada." Sofie wanita di depan Bima ini tersenyum senang.
Seseorang baru keluar dari dalam kamar dan merapikan jasnya.
"Hei. Come on dude. Get your hands off my wife!!" serunya saat melihat sang istri yang sedang mengalungkan tangannya di leher Bima.
"Dia sangat pencemburu!" ucap Sofie. Bima melepaskan kedua tangannya dari pinggang Sofie.
Sofie adalah sepupunya yang sudah lama tinggal di luar negeri karena suaminya orang Amerika. Jauh-jauh datang ke sini ingin menghadiri pernikahan Bima dan Lily, dan mereka datang lebih awal karena sebelumnya mereka ingin bulan madu untuk kesekian kalinya.
"Come on honey, dia hanya sepupuku?" Sofie menghampiri suami posesifnya.
"Lihat bajumu basah!" Sofie mengambil sapu tangan dari saku jas suaminya lalu mengusap lembut bagian yang basah di bagian dada. Edward baru saja memakai kamar mandi milik Bima.
Edward merengut tidak suka, pipi pucatnya merah karena marah. Sofie selalu seperti itu jika bertemu Bima.
__ADS_1
"Hei, are you jealous!" goda Sofie menyentuh pipi dan menariknya hingga bibir Edward dengan telunjuknya. Edward selalu tidak tahan jika Sofie sudah melakukan hal itu. Apalagi wajah Sofie yang di buat seperti wanita nakal.
"Jangan menggoda ku, honey!" wajah Edward semakin merah menahan nafsunya.
"Kenapa hem? Kamu tidak tahan?" Sofie tidak menghentikan perbuatannya. Ia tahu suaminya sudah tidak tahan. Malah ia sengaja membawa tangan Edward untuk melingkari pinggang rampingnya. Dan Sofie sengaja menggesekkan perutnya ke perut sang suami.
"Kau yang meninta, honey!" Tanpa menunggu jawaban dari Sofie, Edward merengkuh kepala belakang Sofie dan ******* bibir seksi istrinya, mereka saling mencecap dan membelit lidah. Tangan mereka tidak bisa diam. Tidak peduli dengan Bima yang terkejut melihat adegan di depannya. Beberapa foto di meja terjatuh akibat ulah panas mereka. Bima memutar bola mata malas.
"Dasar bule!" gumamnya kesal.
"Hei get a room!" teriak Bima sebelum mereka lepas kendali dan bercinta di sofa kantornya.
"Ku pinjam kamarmu! Thank's." Ucap Edward, lalu kembali mencium sang istri dan masuk ke dalam kamar.
"Sialan!!" Umpat Bima tidak menyangka kalau dua bule itu akan masuk ke dalam kamarnya.
Bima melanjutkan pekerjannya, tapi dia tidak bisa konsentrasi karena terdengar suara teriakan nikmat dari dalam kamarnya. Bima mencoba tidak menggubris, tapi suara itu semakin lama semakin jelas terdengar. Dan lagi, seperti suara seseorang yang menubruk pintu, lalu pintu itu bergetar.
"Arghhh. Lain kali aku harus pasang peredam suara!" ucap Bima frustasi.
"Heran gue, bule kalau main berisik banget!" ucapnya lalu pergi dari sana.
__ADS_1
"Loh bapak sendiri?" tanya sekretaris Bima heran.
"Iya, biarkan tamu di dalam. Jangan ada yang masuk ke ruangan saya!" Bima lalu pergi.
"Eh pak. Bukannya tadi Bu Lily masuk ke dalam?" Bima berhenti, berbalik dengan kening mengkerut.
"Lily kesini?"
"Iya pak, tadi bu Lily kesini."
"Saya gak ketemu Lily. Kapan?"
"Ada satu jam yang lalu."
"Tapi gak ada. Terus kemana Lily?"
"Saya tidak tahu, soalnya setelah bu Lily masuk ke dalam saya ke toilet, saya kira bu Lily sudah ada janji sama bapak."
Bima mengingat, satu jam yang lalu...
"SIAL!!".umpat Bima lalu berlari meninggalkan sekretaris yang keheranan dengan sikap bosnya.
__ADS_1