Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 216


__ADS_3

Bima merutuki sikapnya, memukul kemudi hingga tangannya terasa sakit, tapi dia tidak peduli.


Suara klakson dan umpatan pengendara lain terdengar meneriakinya. Lagi-lagi Bima tidak peduli, dia hanya ingin menemui Lily!


Satu jam yang lalu, apa saat Bima dan Sofie berdiri di depan jendela?


"Sial! Sial! SIALL!!!" teriak Bima frustasi.


Pantas saja Lily tidak jadi masuk. Mungkin dia melihat aku sedang bersama Sofie dan kami terlihat seperti sedang bermesraan! Bima merutuki dirinya sendiri. Lily tidak pernah bertemu dengan Sofie sebelumnya.


Bima melajukan mobilnya ke arah rumah sang mama. Berkali-kali menelfon Lily tapi tidak di angkat.


"Lily tolong angkat!!" teriak Bima pada ponselnya. Bima terlihat sangat frustasi. Dia benar-benar tidak tahu Lily akan datang karena Lily tidak mengabari sebelumnya.


Suara telfon berbunyi nyaring. Bima langsung mengangkat panggilan di telfonnya tanpa melihat siapa yang memanggil.


"Halo Lily!"


"Pak ini saya!" suara yang berbeda, Pak Dani.


"Mbak Lily di rumah, pak. Pingsan!" tanpa mendengar kelanjutan dari pak Dani Bima melempar asal hpnya ke kursi penumpang di sebelahnya lalu memacu mobilnya lebih cepat untuk mencari jalan putar balik.

__ADS_1


Lily, kenapa kamu? maaf! sesal Bima.


***


Rumah sakit.


Bima berjalan mondar-mandir di depan ruang perawatan Lily. Dokter sedang memeriksa keadaan Lily di dalam.


Ratih dan Adi berlari menghambur ke arah Bima. Yumna di tinggal di rumah dengan kepala pelayan.


"Bima! Una kamu apain lagi huhh?! Kenapa dia bisa sampai pingsan?" teriak Ratih tepat di depan wajah Bima. Adi mengusap lengan istrinya agar sedikit tenang. Wajah Ratih merah memendam amarah.


"Una ke kantor mah, mungkin dia tadi lihat aku sama Sofie!" ucap Bima sambil mengusap wajahnya.


"Iya, Sofie dan Edward datang ke kantor. Mungkin Una lihat aku sedang memeluk Sofie dan Edward tadi sedang di kamar mandi."


Ratih lemas mendengar penjelasan Bima. Lalu sedetik kemudian kekuatannya kembali dan dia memukuli lengan Bima berkali-kali.


"Kan udah mama bilang, kamu itu dan Sofie bukan anak kecil lagi! Kalian harus bersikap seperti orang dewasa. Kalian harus punya malu! Jangan seenaknya berpelukan. Trus gimana sekarang dengan Una, huhh?? Ish, Dasar anak kurang ajar, gak pernah dengerin kata mama!!" tak hanya pukulan Bima juga mendapatkan jeweran dari sang mama.


"Aaahh sakit ma!" tangan Bima menahan tangan sang mama, gawat kalau telinganya tercabut saat dia sebentar lagi akan menikah.

__ADS_1


"Apa? kamu takut telinga kamu lepas, huhh?!"


"Udah ma, kalau telinga Bima ilang kan gak ganteng pas nikah kupingnya cuma satu!"


"Mama gak peduli!!"


Fix, gue anak pungut!!batin Bima


Adi hanya membiarkan amarah istrinya mereda sendiri. Dia tidak mau kalau sampai dirinya juga kena semprot bahaya kan? Bisa-bisa jatah malamnya di kurangi!


Dokter keluar. Bima menghela nafas lega, setidaknya telinganya terlepas dari jeweran sang mama.


"Lily gimana dokter?" serempak ketiganya bertanya.


"Tidak apa-apa. Kejadian biasa untuk pasien hilang ingatan. Kepalanya sakit dan agak syok. Mungkin Lily mengingat sebuah peristiwa. Kalau dia sudah bangun panggil saya." Dokter pamit, lalu ketiga orang itu masuk ke dalam ruangan Lily.


Lily terbaring dengan infus di tangannya. Wajahnya pucat, keningnya berkeringat.


Lily tidur tidak tenang, sesekali bibinya bergerak memanggil seseorang dalam tidurnya, tapi Bima dan orang tuanya tidak bisa mendengar Lily dengan jelas.


"Una, bangun. Ini aku. Bima!" bisik Bima di samping telinga Lily.

__ADS_1


Mata Lily tiba-tiba terbuka lebar, seketika air mata mengalir meluncur melewati telinganya.


__ADS_2