Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 125


__ADS_3

Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk dua hati yang menyatu. Cantik sekali. Di dalamnya ada tulisan tangan yang indah. " Happy Birthday 24".


"Apa ini untuk aku?" Lily bermonolog sendiri. Tapi jelas jika dari tulisan itu dengan ucapan selamat serta umur yang tertera. Lily tersenyum sendiri lalu berjalan ke arah cermin dan memakainya di lehernya. Cantik.


***


Bima menatap Lily, leher Lily tepatnya. Dan dia tersenyum tipis saat melihat kalung yang ia beli menghiasi di sana. Lily semakin terlihat cantik.


Lily yang merasa di perhatikan pun mendongak, Lily faham kemana arah pandang Bima tertuju.


"Trimakasih hadiahnya. Kenapa mas gak ngasihin ini secara langsung?" tanya Lily.


"Lupa." ucap Bima cuek. Padahal waktu itu Bima ke atas untuk memberikannya secara langsung.


"Cantik." lirih Bima.


"Heh? Apa?" tanya Lily saat merasa ia salah dengar. Bima memujinya kah?


"Kalungnya. Aku gak sengaja lihat di toko. Adit bilang kamu ulangtahun." dalih Bima salah tingkah jadinya. Ia kira gumamannya tadi pelan tapi Lily bisa mendengarnya. Lily hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf 'o'.


"Ini pengajuan kerjasama untuk perusahaan XX. Pak Soni sudah saya hubungi tadi dan akan bertemu janji dua hari lagi. Mas Adit juga siap kapanpun." ucap Lily dan menunjuk map lain di atas meja Bima.


Bima mengangguk lalu melihat isi berkas dan membacanya kembali.

__ADS_1


Kerjasama yang akan melibatkan Adit di dalamnya dalam urusan hotel miliknya.


***


Malam ini Dena berangkat ke Bandung, meninggalkan Bima sendirian di rumah. Lagi. Bima heran dengan sang istri yang terlalu sering keluar kota untuk pekerjaan. Tapi Bima juga tidak bisa menolak atau melarang cita-cita Dena kan? Apapun untuk kebahagiaan Dena.


Mobil Bima berjalan menuju suatu tempat. Rasanya di rumah sangat sepi sekali tanpa kehadiran Dena.


Ting-tong.


Ting-tong.


Ting-tong.


Sepuluh menit menunggu si empunya rumah belum juga membukakan pintu. Bima kembali menekan bel berulang hingga akhirnya.


Ceklek...


"Apa sih lo. Ganggu gue tidur aja!" sarkas Adit yang melihat Bima dengan nyalang. Wajah Adit berantakan karena baru saja tidurnya terganggu dengan kehadiran Bima di apartemennya. Adit hanya terlihat mengenakan bokser di tubuhnya.


"Ngapain lo kesini? Di usir istri pertama? Di marahin sama istri kedua?" tanya Adit lagi dengan senyuman mengejek.


"Sialan lo!" ucap Bima seraya masuk dengan sengaja menubruk bahu Adit, meski Adit belum mempersilahkan dirinya.

__ADS_1


"Lagian baru jam delapan juga udah molor aja!" sarkas Bima duduk di atas sofa setelah mengambil minuman dingin di dalam kulkas.


"Gue cape." Adit ikut duduk di single sofa miliknya. "Tadi habis ke luar kota. Baru aja balik. Tidur. Dan elo ganggu aja. Ngapain sih kesini?" cerocos Adit.


"Ngurusin bini orang?" ejek Bima lalu menenggak bir dalam kaleng satu tegukan.


"Sialan. Gue udah gak ngurusin bini orang!"


"Cihh. Gak ngurusin bini orang tapi bini gue lo deketin juga!" senyum mengejek Bima.


Adit menatap Bima tajam.


"Elo kesini, ganggu tidur gue cuma mau protes soal Lily? Cemburu lo? Lebih baik lo pulang deh. Enek gue lihat muka elo!" Adit melempar bantal sofanya ke arah Bima, yang di tangkap Bima sebelum mengenai mukanya.


"Gue nginep sini ya." Adit mengerutkan keningnya.


"Lo beneran di usir sama dua istri lo?" tanya Adit heran.


"Gak lah. Gue cuma lagi sepi di rumah. Akhir-akhir ini Dena sering banget keluar kota." Bima mengadu.


"Iya lah. Usaha istri lo kan lagi naik daun sekarang. Apalagi banyak temennya juga kan yang orang Bandung." Adit mengingatkan.


"Tapi sering banget Dit..."

__ADS_1


"Udah ah. Gue mau lanjut tidur. Kalo lo lapar ada mie instan, eh gue lupa lo alergi. Roti ada tuh." ucap Adit lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Bima yang masih duduk diam di sofa.


__ADS_2