
Aku pergi tanpa pamit pada Lily, karena ku lihat Lily sedang tidur di atas ranjangnya. Aku tidak mau mengganggu istirahatnya.
Dengan segera aku keluar dari dalam rumah, dan masuk ke dalam mobil yang sudah menungguku. Sopir menutup pintu dan kemudian setengah berlari menuju kursi kemudinya.
Aku melambaikan tangan ke arah Mas Bima yang mengantar ke hingga ke teras, dan dia membalas lambaian tanganku dengan wajah yang sendu.
Mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah Lily. Satpam sudah menutup pintu pagarnya.
"Kemana kita?" tanya sopir di depanku. Wajahnya terlihat khawatir saat melihat aku dari kaca spion di depannya.
"Wina!" ucap ku. Kurasakan mobil sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Aku tahu dia membawa mobil ini dengan kecepatan tinggi, karena khawatir padaku, tapi dia pengendara yang handal sehingga aku tidak khawatir dengannya bahkan saat dia membawaku mengebut di jalanan. Dia pernah membawa mobil dengan kecepatan lebih dari ini sebelumnya. Dengan aku di dalamnya. Dalam arena balap mobil liar!
Semenjak mas Bima menikah dengan Lily aku tidak lagi takut dengan kematian. Jika memang saatnya tiba, entah bagaimana caranya aku mati. Aku tidak takut. Bahkan jika saat ini mobil yang membawaku celaka pun aku akan menutup mataku dengan senyuman.
__ADS_1
Maafkan aku mas Bima, aku sudah banyak berbohong sama kamu!
Dena Abigail pov end.
***
Lily sebenarnya tidak tidur, dia hanya merebahkan dirinya di kasur. Pemandangan yang tadi dilihatnya membuat hatinya merasa sakit. Salah baginya karena berada di dalam kehidupan orang lain. Harusnya waktu itu Lily tidak menerima lamaran Dena!
Lily meremas seprai dengan kuat, air matanya meleleh. Rasanya dia tidak tahan. Apakah Lily harus menyerah dengan keinginan Dena? Di satu sisi dia bahagia bisa dekat dengan Bima, tapi di sisi lain dia merasa buruk karena sudah menjadi orang ketiga dalam pernikahan sahabat yang sudah ia anggap saudaranya sendiri. Lily merasa jahat karena seringkali berfikir untuk Bima bisa mencintai dirinya. Itu berarti, ia menginginkan Bima untuk mencampakan Dena? Lily ingin Bima seutuhnya, bukan kah Lily jahat? Sedangkan Dena sangat menyayangi Lily seperti adiknya.
Pintu tertutup, lalu terdengar pintu lain terbuka lalu tertutup kembali. Suara air mengucur dari sana. Pastilah Bima sedang mandi, fikir Lily.
Lily mencoba menguatkan dirinya. Mungkin malam ini dia akan membicarakannya dengan Bima!
__ADS_1
Lili mencoba memejamkan matanya, karena merasakan pusing yang kembali menderanya.
Bima memanaskan bubur yang tadi siang di buat Dena. Sesekali mengaduknya. Lalu setelah di rasa cukup panas, Bima mematikan kompor dan memindahkan bubur itu ke dalam mangkok kaca.
"Mas." Bima mendongak saat mendengar namanya di sebut.
"Kenapa kamu keluar?" tanya Bima saat melihat Lily berjalan ke arahnya dengan perlahan, wajahnya masih pucat.
"Lily bosan di kamar, mas." ucap Lily seraya menarik kursi dan duduk disana. Kedua tangannya bersedekap di atas meja makan.
"Ini, makan. Tadinya mau aku bawa ke kamar." ucap Bima sambil menyodorkan bubur yang masih panas ke hadapan Lily. Lily tersenyum.
"Dena yang bikin!" terangnya. Tanpa Bima bicara pun Lily juga sudah tahu!
__ADS_1
Bima duduk setelah mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka makan dalam diam, tidak ada yang berbicara satu sama lain.