Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 174


__ADS_3

"Selamat, sayang!" Nila datang sambil membawa buah tangan. Mereka saling berpelukan, rasa haru menyelimuti keduanya.


Lily telah di pindahkan ke ruang inap sejak siang tadi. Nila memandang wajah lelah wanita yang sudah ia anggap seperti adiknya ini. Wajah lelah tapi bahagia karna telah berjuang dan berhasil menjadi seorang ibu.


Sekilas pandangan Nila terpaku pada sosok dua pria di depannya. Seorang sedang menunggui bayi yang tertidur dengan senyuman, sedangkan seorang lagi sedang melipatkan tangannya, wajahnya suram, tapi tidak meninggalkan kesan tampan. Tetap tampan!


"Eh, kok si bos ada disini?" tanya Nila berbisik. Lily hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. Kemudian pandangan Nila beralih pada sebuket bunga dan parsel dengan hiasan cantik di atas nakas. "Waah tuh kan Aku bilang apa, si bos pasti naksir sama kamu!"


"Ssst diem deh mbak. Jangan ngada-ngada."


Mereka masih bicara dengan berbisik. "Mas Adit kenapa?" tanya Nila yang sudah mengetahui siapa Adit.


"Marah! Karena gak adzanin anak aku."


"Kok bisa? Bukannya yang nungguin lahiran Mas Adit?" tanya Nila bingung.


"Pingsan, hihi.." Lily menutup mulutnya agar tidak menyemburkan tawa, di ikuti Nila yang juga tidak bisa menahan tawanya. Geli!


"Udah, gak usah bisik-bisik. Mas Adit denger, kok." ucapnya tidak mengalihkan pandangan dari dinding. Memberengut sebal, persis anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang di inginkannya.


"Iya maaf. Hehe." ucap Lily. "Udah dong mas Adit jangan cemberut. Masa hari kelahiran ponakan sendiri malah cemberut gitu nyambutnya. Senyum dong!" Adit tersenyum, tapi senyum di paksakan. Dia masih tidak terima kalau Azka yang mengadzani keponakannya. Menatap sebal pada Azka yang kini masih tak berpaling dari sang ponakan yang tengah pulas tertidur.

__ADS_1


***


Bima menatap nanar pada kejauhan. Sepanjang mata memandang keluar jendela di kantornya, hanya bayangan Lily yang terus selalu mengikutinya.


Seharian ini ia merasa, entahlah. Telinganya terasa berdengung tapi semakin lama semakin mirip seperti tangisan bayi.


Apa Bima sudah mulai gila sekarang?


***


Nila tersenyum takjub untuk pertama kalinya ia menggendong seorang bayi mungil. Bayi itu sangat anteng, tidak menangis selama dalam pangkuannya. Mata Nila berkaca-kaca. Rasa bersalah karena dulu sempat menolak kehadiran anaknya meresapi relung hatinya hingga kini. Menyesal, pasti.


"Trimakasih." ucapnya, lalu mencium pipi bayi mungil di dalam gendongannya.


"Kamu mau kasih nama siapa?" tanya Azka sembari menoel pipi merah bayi itu.


"Yumna Azzura Mahendra."


Nila dan Azka mengangguk, sedangkan Adit hanya berdecih memandang tidak suka.


"Kenapa nama itu harus di bawa?" Lily menoleh pada Adit yang menatapnya. Nila dan Azka pun sama.

__ADS_1


"Mas, kita sudah membicarakan ini sebelumnya, kan?" Adit bangkit dari duduknya lalu menghela nafas berat, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana bahannya.


"Ya sudah, aku mau cari makanan dulu. Lapar!" ucap Adit mengalah pada akhirnya. Kemudian berlalu.


"Eh aku juga ikut mas Adit deh!" ucap Nila lalu menyerahkan baby Yumna ke pangkuan sang ibu.


"Mbak." Dalam tatapannya Lily memohon untuk tidak di tinggalkan bersama Azka.


"Aku juga lapar, Ly. Pulang dari kantor langsung kesini. Duluan ya pak, atau mau pesen sesuatu?" tanya Nila pada sang bos yang di jawab dengan gelengan kepalanya. Nila berjalan setengah berlari menyusul Adit yang sudah keluar dari ruangan itu.


"Mas Adit tungguin napa, ih!" seru Nila mendekat ke arah Adit yang tidak peduli.


*


"Umm, bapak juga lebih baik pulang. Maaf bukannya ngusir, emang iya sih ya, ngusir. Hehe. tapi bapak udah sedari siang disini. Bapak belum istirahat kan?" ucap Lily kikuk. Azka hanya terdiam menatap malaikat kecil sumber kebahagiaan Lily.


"Apa kamu masih cinta sama suami kamu?" tanya Azka. Liky terdiam, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Maaf, pak. Bapak gak perlu tahu kan. Ini..."


"Saya perlu tahu, Ly. Karena saya sayang sama kamu!" ucap Azka akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2