
Santi masuk ke dalam rumah dengan dua kotak kue di tangannya. Dia lalu membawa kue itu ke dapur dan menyimpannya di kulkas. Santi terdiam mengingat ciuman Ameera tadi. Di usapnya pipi kirinya. Bukan karena ciuman Ameera yang membuat Santi merasa aneh, tapi saat kedua lengan mereka beradu tadi ada sesuatu yang menggetarkan hatinya.
"Cie, Cieee... yang di anterin duren!"
Santi terkejut lalu segera menutup kulkas, dan berdiri. Lily sedang berada di meja pantry dengan segelas air di tangannya. Dia tersenyum menggoda.
"Eh mbak Lily? Katanya tadi mau keluar?" ucap Santi kikuk.
"Gak jadi ah. Panas di luar." ucap Lily. Lalu beranjak dari sana dan kemudian kembali lagi.
"Santi. Semangat!" ucap Lily dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Muka Santi merah. Bertahun-tahun bekerja bersama Lily dia sudah tahu sifat Lily, dan mengerti apa yang di maksud Lily tadi.
Jadi mbak Lily tadi sengaja? batin Santi. Dia merasa malu sendiri.
Lily tertawa pelan melihat Santi yang merah mukanya.
Sebelumnya Lily mendengar dari Syifa jika di sekolah dia punya teman bernama Ameera, dan dia sudah tidak punya ibu sejak lahir. Dan Ameera bilang ternyata ayahnya dan Santi berteman sejak kecil.
Lily jadi punya inisiatif. Mungkin saja mereka berjodoh. Maka dari itu sedikit kebohongan di hari ini tidak apa-apa kan?
Sejak saat itu Ridho terus gencar mendekati Santi. Dia juga menyatakan perasaannya. Baru Santi tahu soal perasaan Ridho. Santi kira cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, dan Ridho hanya menganggap dia sahabat, tapi ternyata Ridho juga punya perasaan yang sama terhadapnya.
Lily senang dengan kedekatan Santi dan Ridho. Santi terlihat lebih bahagia sekarang. Bima juga ikut merasakannya.
Tidak ingin menunda hal baik Ridho pun meminta izin pada Lily dan Bima untuk membawa Santi pulang kampung dan melamar Santi, sekaligus langsung menikah jika bisa. Keduanya memberikan izin dan memberikan selamat.
Satu minggu kemudian Lily mendapatkan panggilan video dari Santi. Santi sudah cantik dengan balutan baju pengantin. Lily, Bima dan keempat anaknya melihat Santi dari ponsel Lily bersama-sama.
Lily terharu melihat Santi yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri mendapatkan kebahagiaannya.
Ridho mungkin bukan seorang yang kaya seperti Bima, tapi ia yakin cintanya pada Santi sangat besar. Dan Lily harap mereka akan bahagia sampai akhir hayatnya. Lily juga bahagia dengan Ridho yang bisa menerima segala kekurangan Santi.
Bima duduk di sofa bersama Lily memperhatikan keempat anaknya yang sedang main bersama.
"Akhirnya semua bisa bahagia mas!" ucap Lily dengan linangan air mata. Bima mengangguk. Membawa kepala Lily ke dalam dadanya, mengelus kepala Lily dengan sayang.
"Iya, kita harus banyak bersyukur. Allah memberi kita semua kebahagiaan. Meskipun awalnya kita mendapat cobaan dan kesedihan tapi di balik itu semua pasti tersimpan kebahagiaan yang tidak bisa kita duga."
__ADS_1
"Trimakasih sayang, sedari awal kamu sudah bertahan mencintai aku dan tidak menyerah."
"Kamu ngejek aku mas?" Tanya Lily menatap suaminya.
"Ngejek apa?" tanya Bima bingung menatap manik mata Lily.
"Aku pernah nikah dengan orang lain, ingat?!" seru Lily.
"Itu cuma karena kamu sedang khilaf sayang!" jawab Bima santai. Lily menjauhkan dirinya dari Bima.
"Ooh jadi kamu bilang aku khilaf? Terus kamu sama Celia? Berarti kamu juga dong. Kamu sudah ngapain aja sama dia huhh?" tanya Lily emosi.
"Loh kok jadi bawa Celia?" Bima jadi bingung sendiri.
"Udah peluk? Cium? Terus apa lagi?" tanya Lily, nafasnya memburu. Lily merasa kesal jika mengingat masa lalu Bima, mengingat cerita Adit sifat Celia yang agresif terhadap suaminya dulu.
Lily bangkit karena Bima tidak menjawab. "Dasar nyebelin!" ucap Lily sambil menghentakkan kakinya ke lantai lalu pergi ke arah kamar.
Bima merasa bingung, tadi Lily bahagia, tapi sekarang Lily marah.
Bima pun ikut masuk ke dalam kamar, dan melihat Lily tengah berbaring di atas ranjang.
"Sayang?" Panggil Bima.
Lily membalikkan badannya membelakangi Bima. Dia masih kesal.
"Kamu kenapa sih?" tanya Bima pelan mengelus kepala Lily dengan sayang. Bima benar-benar bingung dengan sikap Lily.
Sedetik kemudian Bima terkejut karena Lily bangkit dan mendorongnya hingga Bima terjengkang ke belakang. Lily naik ke atas tubuh suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya bima bingung melihat istrinya yang sudah berhasrat. Lily tidak menjawab dia langsung menyambar bibir suaminya dan mencumbu Bima dengan lembut. Dan akhirnya... yah begitulah suami istri... menyatukan sesuatu yang ada di bawah, tidak peduli dengan hawa panas yang semakin panas.
END.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Eitts tunggu dulu!!
"Sayang?" panggil Bima setelah acara penyatuan mereka selesai. Bima mengeratkan pelukan pada sang istri.
"Hemm?" jawab Lily malas, jari telunjuknya tidak berhenti memainkan tonjolan kecil di dada Bima.
"Kamu kenapa sih hari ini?" tanya Bima pelan.
"Kenapa apanya?" Lily balik bertanya, bingung.
"Kamu aneh. Tadi senang, terus marah, terus bersemangat banget genjotnya. Apa mungkin karena aku akan puasa bulanan ya. Mood kamu jadi gak karuan?" Tanya Bima yang membuat Lily menghentikan aktifitas tangannya, kemudian membalikan badannya dengan cepat hingga selimut tertarik dari tubuh Bima.
Lily membulatkan matanya saat melihat kalender kecil yang ada di atas nakas.
"Oh tidak!" gumam Lily. Bima memeluk Lily dari belakang. Dia heran melihat Lily yang diam mematung.
"Ada apa? Ada yang salah?" tanya Bima.
Lily menoleh kan kepalanya.
"Mas apa mungkin aku..." Bima tersenyum saat mengerti apa yang di khawatirkan istrinya.
"Aku akan lihat langsung ke dalam, apakah benar ada atau tidak." ucap Bima dengan menyeringai nakal sambil mengarahkan miliknya kembali.
TAMAT.
__ADS_1