
Aku masih memperhatikan tidak ada niatan untuk mendekat dan menawarinya tumpangan. Biar saja. Memang apa peduliku?
Eh, tapi kenapa juga aku menunggu dia disini lebih dari satu jam ya?
Aku melajukan mobilku melewatinya, lalu berhenti beberapa meter dari halte saat melihat seseorang dengan motornya berhenti tepat di depan halte. Memberikan helm pada seorang gadis, lalu mulai maju melewati kendaraanku. Ku lihat gadis itu tersenyum sambil memeluk perut pria yang membawanya. Wajahnya merona bahagia. Aku mengeratkan pegangan ku pada kemudi mobil. Aku gak peduli. Aku gak peduli!!
Bayangan gadis itu terus mengikutiku kemanapun dan kapanpun. Bayangan saat pertama kali memberikan coklat di taman, lalu bayangan saat seorang pria memboncengnya dengan motor matic birunya.
"Hei, napa sih?" seorang sahabatku menepuk bahuku sampai aku terbangun dari lamunanku.
Aku hanya diam. Dia sudah mengerti sifatku.
"Kalau suka sama cewek tembak dong!" dia tersenyum.
__ADS_1
Suka?
No.
Aku tidak pernah suka dengan seorang wanita. Wanita itu aneh. Rewel. Manja. Ribet. Ngeselin. Bukan berarti aku gak suka cewek ya. Aku cuma gak suka punya hubungan sama mereka. Bukan juga berarti aku gak pernah pacaran loh, aku pernah pacaran dua kali, dan putus karena aku merasa hubungan kami hanya sebuah status yang tidak penting. Yang mereka mau cuma pamerin gue sama temen-temennya. Makan gratis. Anter jemput kemanapun mereka mau. Marah-marah gak jelas, padahal mereka sendiri yang buat salah. Harus on time, pokoknya... Uuughhh!!! 😠😠😠Banyak aturan!!!
"Gue gak suka dia!" ucap ku sambil masuk ke dalam mobilku. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu menyingkir dari depan mobilku.
Aku menyalakan mobil sportku, seketika lampu depan menyala dengan terang, menerangi jalanan yang gelap karena malam sudah sangat lewat, sesekali menggerung-gerungnya dengan kencang. Suara puluhan orang di luar sana terdengar sangat riuh, berteriak pada kami. Aku menoleh ke arah kanan, menatap lawan di sebelah mobilku dengan mobil sport berwarna hitamnya, dia sama menatapku dan tersenyum padaku. Kami saling tersenyum, tapi semua orang juga tahu kalau senyum kami adalah senyum saling ejek.
"Are you ready." teriaknya nyaring. Suara di luar semakin riuh. Aku mengacungkan jempolku, begitu juga dengan lawanku. Lalu setelahnya menaikan jendela mobil hingga tertutup rapat.
Aku fokus melihat bendera merah yang di acungkan di depan. Tapi sedetik kemudian fokus ku buyar karena seseorang tiba-tiba duduk di kursi penumpang di sampingku. Dia memakai seatbelt lalu duduk dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Ngapain kamu disini?" tanyaku sedikit berseru. Dia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Just look ahead!" ucapnya.
Aku kembali fokus ke depan.
"Oke pegangan!" ucap ku karena akan terlambat jika menyuruhnya keluar saat bendera sudah ada di atas seperti itu. Aku mengunci otomatis semua pintu mobilku.
Gas dan rem ku pijak bersamaan membuat ban belakang mobilku berputar di tempat, asap mengepul dengan tebal karena gesekan ban belakang dengan aspal dingin di belakang mobilku.
Bendera di turunkan, aku melaju dengan kecepatan yang sudah di persiapkan dan semakin menggila. Sesekali aku lirik gadis berponi di sampingku. Wajahnya tenang, tanpa sedikitpun ada rasa takut di matanya. Pandangannya lurus ke depan, memandangi jalanan gelap di depan kami, masih dengan posisi yang sama bersedekap seperti tadi.
Aku tidak habis fikir kenapa dengan gadis ini? Ada apa dengan dia? Ah. Masa bodoh lah. Aku tidak mau kehilangan uangku! Aku juga tidak mau kehilangan reputasiku karena kalah malam ini!
__ADS_1
Aku kembali fokus ke jalanan. Dengan kecepatan tinggi meninggalkan lawanku yang jauh tertinggal di belakang.