Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 119


__ADS_3

Lily tidak bisa berbuat banyak, takut membangunkan Bima. Dia hanya terdiam melihat ke arah tv. Membiarkan Bima tidur dengan kepalanya masih bersandar pada pundaknya.


Pagi menjelang, di luar masih gelap. Udara masih terasa dingin. Bima terbangun dari tidurnya, rasa dingin menusuk ke dalam kulitnya. Dia tertegun melihat siapa yang berada di sampingnya. Bima lupa semalam dia meminta Lily untuk menemaninya nonton tv, menyandarkan kepalanya di bahu Lily, tapi baru sebentar Bima tertidur. Dan sekarang pun posisi Lily masih sama tidur bersandar pada kaki sofa. Kalau bangun pasti akan sakit semua badan Lily. Bima menggeserkan badan Lily ke atas kasur tipis, dan merebahkan kepala Lily di bantalnya. Lalu menaikan selimut tebal sebatas leher.


'Sebenarnya apa yang aku rasakan? Aku mencoba untuk menjauh, tapi aku juga tidak mau. Aku udah berusaha bersikap tidak peduli, tapi gak bisa! Sebenarnya bagaimana perasaanku ini? Kamu buat aku bingung Ly.'


Bima memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi. Menatap wajah Lily yang sedang terlelap tidur. Dia tersenyum, lalu ikut membaringkan dirinya di samping Lily.


Matahari sudah muncul di luar memberikan cahayanya yang hangat kepada para penduduk sebagian bumi ini. Suara burung berkicauan menyambut pagi. Kendaraan sudah mulai melaju satu persatu hingga memenuhi jalanan.


"Hoaamm." Lily menguap dengan satu tangannya yang menutupi mulutnya. Dia terdiam karena merasakan hangat dan aroma yang lain dari bawah hidungnya.


'Eh, ko?' Lily bingung. Pasalnya dia tidur beralaskan tangan seseorang, hidungnya hampir menempel dengan dada hangat. Kembali mengingat kejadian semalam. Tapi bukan posisi seperti ini kan? Lily tidur bersandar pada kaki sofa dengan kepala Bima di pundaknya. Tapi sekarang? Tangan Bima menjadi bantalnya.


Wajah Lily bersemu merah. Ini masih pagi dan Bima sudah membuat Lily merasa sesak.


Lily mencoba beranjak dari tidurnya, dia harus mandi dan menyiapkan sarapan. Tapi sebelum berdiri Lily menatap wajah Bima yang masih terlelap, dengan cepat dia mengecup kening Bima. Bima menggeliat, membuat Lily terkesiap salah tingkah. Jangan sampai Bima terbangun!


***


Tiga malam sudah Bima tidur di rumah Lily. Bima masih belum mengerti dengan perasaannya. Dia mencoba tidak peduli pada Lily, tapi saat Adit datang untuk bertemu, Bima jelas merasa tidak suka!


Bima, dan Roman sedang duduk berdua di kafe tempat biasanya. Mereka menyesap kopi masing-masing. Adit baru saja datang, dan Yoga belum terlihat batang hidungnya.


"Dasar! yang udah sibuk punya calon pacar. Datangnya telat trooosss!" sarkas Roman dengan senyum menyeringai. Adit hanya terkekeh sembari mengambil kentang goreng yang ada di depan mereka.

__ADS_1


"Gimana lo sama Lily? Lancar?" tanya Roman, sedangkan Bima mengalihkan pandangan ke samping, merasa jengah dengan pembicaraan mereka.


"Lancar dong. Entar malem gue ajak dia dinner. Ya itung-itung rayain ulang tahunnya dia minggu lalu." Bima menatap Adit yang sedang tersenyum ke arahnya, lalu kembali membuang pandangannya.


"Lily ulangtahun?" Adit mengangguk.


'Kenapa aku tidak tahu? batin Bima.


"Mau kasih hadiah apa lo?" tanya Roman lagi.


"Gue udah siapin hadiah yang bagus banget buat dia. Tapi gue juga gak yakin sih kalau dia suka." Bima tersenyum dingin dan hanya berdecih namun tidak mengeluarkan suara. Meskipun Adit tahu Lily tidak akan menerima hadiahnya, tapi Adit sengaja mengatakannya, dia ingin melihat reaksi Bima. Menyenangkan baginya mengganggu Bima, melihat wajahnya mulai merah dengan rahang mengeras.


Bima dan Adit saling berpandangan. Roman melihat kedua sahabatnya dengan kening mengkerut, tidak biasanya mereka berdua terdiam seperti ini. Seperti ada aura permusuhan diantara keduanya.


"Udah ah gue cabut dulu. Mau siap-siap mandi terus jemput yayang Lily!" ucap Adit dengan penekanan pada kata 'yayang'.


"Ogah! Kalau nunggu Yoga bisa-bisa gue di amuk yayang kalo telat jemput." ucap Adit lalu benar-benar pergi tanpa menghiraukan Bima yang sudah mengeratkan kepalan tangannya di atas pangkuannya.


Tak lama Yoga datang.


"Mana si Adit? Gak datang dia kesini?" Yoga langsung duduk di tempat Adit tadi. Tangannya langsung mengambil cangkir milik Roman dan langsung menyesapnya. Roman hanya diam pasrah sudah tahu kebiasaan sahabatnya yang satu ini.


"Udah balik tadi. Elo sih telat!" sarkas Roman memberi tatapan tajam pada Yoga. Yoga hanya terkekeh pelan tanpa merasa bersalah seperti biasanya.


"Ntar malem ke klub yuk!" ajak Roman.

__ADS_1


"Oke, gue akan datang! Jam biasa?"


"Cih. Giliran ke klub aja elo tepat waktu!" sarkasnya lagi.


"Iya lah kapan lagi bisa ke klub mumpung Wanda lagi pulang."


"Di tinggal lo?" Yoga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Wanda ngambek gak gue bagi kartu ajaib gue."


"Pelit amat sih lo jadi suami. Biarin aja kali dia pake."


"Masalahnya tu barang yang dia beli udah numpuk banget di rumah. Di pake enggak, cuma jadi pajangan doang di lemari. Gue gak larang, gue cuma bilangin dia buat beli yang dia butuhin, eh dia bilang yang dia beli semua itu yang dia butuhin, nanti di pake kalau arisan, kalau ada pesta, kondangan. Waktunya arisan atau kondangan dia minta di beliin lagi. Gue udah nambah satu ruangan baru buat khusus koleksi dia dan itu juga udah gak muat." cerocos Yoga tanpa jeda, hingga di akhir kalimat dia menarik nafas dalam-dalam.


"Gila. Hebat banget istri lo tau cara ngabisin duit lakinya." Roman tertawa melihat wajah kesal Yoga.


"Ati-ati lo kalau cari istri jangan yang boros." peringat Yoga, Roman hanya manggut-manggut


Bima bangun dari kursinya.


"Mau kemana lo?" tanya Roman.


"pulang!"


"Gak ikut ke klub?"

__ADS_1


"Dia sih mana berani. Suami takut istri!" Jawab Roman di sertai gelak tawa. Yoga ikut tertawa terbahak. Bima segera berlalu dari hadapan keduanya dengan perasaan kesal.


"Lo juga sama aja. Suami takut istri!" tunjuk Roman tepat di wajah Yoga.


__ADS_2