
"Budhe." panggil ku. Suara budhe menyahut dari dapur.
"Budhe kenal sama gadis ini?" tunjukku pada foto di depanku.
"Tentu aja ibu kenal, toh mas. Itu kan mbak Una mas, dia datang waktu wisuda Tari tiga bulan lalu." Mentari yang menjawab sambil lewat ke arah dapur.
Deg!
"Una?" tanyaku heran.
"Tapi ini...Lily kan?"
Mentari dengan cepat kembali lagi ke dekat ku dan memandang takjub foto di depan kami. Empat wanita cantik dan satu pria gagah dengan kumis baplangnya.
"Loh mas, jangan-jangan mas lupa. Nama mbak Una kan Lily Aruna Atmaja."
Deg!!
Una?
Lily?
Rasanya jantungku ini berhenti berdetak.
Una!
Lily!
Ya ampun takdir macam apa ini? Sekilas bayangan saat itu kembali terlintas di benakku.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Lily Aruna Atmaja dengan seperangkat alat solat dan uang senilai satu juta lima ratus ribu rupiah di bayar TUNAI."
Tiba-tiba lututku terasa lemas. Aku bertumpu pada meja di belakangku. Tari yang melihatku segera membantu aku berdiri dan memapahku ke sofa. Mulutnya bergerak, sekilas aku bisa membaca gerak bibirnya seperti menanyakan keadaanku, tapi suaranya sama sekali tidak terdengar olehku. Bayangan demi bayangan bergelayut di fikiranku. Ada apa ini? Kenapa tuhan memberikan kehidupan rumit ini padaku?
Bayangan yang lain muncul, saat dimana aku tidak pernah menganggap Lily ada. Saat dimana Lily mengutarakan rasa cintanya padaku, saat itu aku tolak dia, aku bentak dia, dan aku memecahkan foto pernikahan dengannya.
Dan saat itu aku masih ingat dengan perkataanku sendiri "Jangan Pernah Mengatakan Cinta Padaku, Karena Aku Tidak Akan Pernah Mencintai Orang Lain Selain Dena Istri Ku Yang Sesungguhnya." Lalu aku meninggalkannya dengan dia berurai air mata. Terakhir ku lihat sebelum meninggalkannya, dia memegangi dadanya.
Satu hal kejadian yang tidak akan pernah aku ampuni kepada diriku sendiri. Aku melukainya setelah aku bercinta dengannya.
Aku pergi saat itu, dan sebelum aku keluar dari rumah itu, aku berkata agar dia menunggu surat cerai dariku.
Aku jahat. Aku bodoh! Aku sudah menyia-nyiakan wanita yang mencintai dan menyayangi aku.
Aku menangis, menutup wajahku dengan kedua tanganku. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatku.
"Pakdhe..."lirihku.
Pakdhe hanya terdiam masih dengan seribu tanda tanya di matanya. Begitu juga dengan yang lainnya menungguku berbicara.
"Ternyata Una... selama ini dia yang menjadi istriku!"
Budhe dan Tari terkejut, menutup mulut mereka dengan kedua tangannya, mata mereka berkaca-kaca. Sedangkan pakdhe Yudha terdiam dengan tatapan kosong.
"Jadi, mbak Una sudah meninggal?" ucap Tari, setitik air mata turun dari mata indahnya. Budhe Nani juga sama malah beliau menangis tergugu di pundak suaminya. Pakdhe menatap tajam ke arahku, matanya juga sudah berkaca-kaca.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Bukan. Yang meninggal itu Dena. Istri pertamaku." Semua mata tertuju ke arahku meminta penjelasan.
__ADS_1
Mereka mendengarkan dengan seksama semua mengenai kehidupan kami. Tidak ada yang aku lewatkan termasuk saat aku menyakitinya perasaannya pagi itu.
"Aku gak pantas di ampuni pakdhe!" aku kembali menangis, biarlah jika dunia mengatakan kalau aku cengeng, aku tidak peduli. Aku hanya ingin Una-ku kembali.
Pantaskah aku masih menyebut dia sebagai Una-ku? Una. Lily yang sudah aku lukai perasaannya.
"Apa kamu cinta sama Una?" pakdhe bertanya dengan nada datar, tapi ada suaranya terdengar bergetar.
"Pakdhe tahu kan aku selalu cari Una dari dulu?"
"Yang saya tanyakan, apa kamu cinta sama Una?" pakdhe bertanya lebih tegas dari yang tadi.
Aku menunduk, lalu mengangguk pelan. Ya aku yakin aku mencintai Una, karena selama dengan Dena pun bayangan Una kecil selalu hadir dalam fikiranku.
Tapi sekarang. Bahkan aku yang membuat Una pergi lagi dalam hidupku. Membuat dia tersakiti. Kenapa aku bisa sampai lupa dengan namanya. Lily Aruna Atmaja. Lily. Una.
Aarrggh.
"Lily? Apa kamu cinta sama dia? Jika sebelum ini kamu tahu dia hanya Lily dan bukan Una?"
"Lily gadis yang selalu menghibur dan membantuku, dia selalu menyemangatiku, pakdhe. Tapi aku bodoh aku menyia-nyiakan kehadiran Lily karena aku merasa hanya Dena yang bisa membuat aku bangun dari rasa terpuruk ku karena tidak menemukan Una!"
Semua terdiam.
"Cari Una, mas Bima!" suara budhe akhirnya, setelah sedari tadi hanya menangis di bahu suaminya.
Mentari pun angkat bersuara. Menyerukan hal yang sama.
"Tapi apa Una akan maafin aku, pakdhe?"
__ADS_1