Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 101


__ADS_3

"Tapi mas Adit penasaran deh. Kok bisa kamu gak tahu kalau suami Dena itu Bima?" tanya Adit saat Lily kembali duduk dari selesai mencuci piring bekas kue yang mereka makan. "Kalian kan sahabatan dari kuliah!"


"Mereka pacarannya LDR-an. Jadi jarang ketemu, karena Lily dan mbak Dena kan kuliah di Bandung. Trus, Mbak Dena pindah ke Jakarta saat semester lima. Dan mereka menikah saat mbak Dena masih kuliah ." jelas Lily. Adit manggut-manggut dari tempatnya. Adit masih penasaran.


"Tapi pernikahan mereka juga sudah empat tahun. Masa kamu sama sekali belum ketemu sama Bima sebelum itu." Lily kembali menggeleng.


"Hp Lily hilang. Kontak mbak Dena juga gak ada. Sampai waktu itu kami gak sengaja ketemu lagi satu tahun yang lalu. Mas Bima juga selalu sibuk gak pernah anterin mbak Dena kalau ketemuan sama Lily."


Malam semakin larut, tidak terasa sudah hampir jam satu malam.


"Sudah malam. Mas Adit pulang ya."


"Kayaknya mas Adit gak bisa pulang, deh." Alis Adit terangkat sebelah, lalu tersenyum nakal.


"Ih jangan mikir aneh-aneh, deh. Lily bilang gitu karena portal jalan pasti udah di tutup dari jam sebelas tadi!" seru Lily menjelaskan. Raut wajah Adit yang berubah seketika membuat Lily tertawa kecil.


"Kenapa Lily gak bilang dari tadi kalau portal di tutup jam sebelas?"


"Kan sebelum mas Adit masuk tadi Lily udah suruh mas Adit pulang."

__ADS_1


"Ya sudahlah. Gak ada salah ya juga kan sesekali tidur di rumah calon istri!" ucap Adit mengerling ke arah Lily.


"Apaan sih!" Lily berlalu menghindari Adit. Adit mengikuti Lily dari belakang.


"Terus mas Adit tidur di mana?" tanya Adit yang melihat Lily mulai naik ke kamar atas.


"Ya kalau gak mau sekamar sama mas Bima, mas Adit tidur di sofa lah." jawab Lily cuek.


"Maunya tidur sama Lily!" Lily berhenti seketika dan berbalik hingga wajah mereka sejajar karena Adit tepat berada satu tangga di bawahnya.


"Mas Adit!!" mata Lily melotot.


"Di sofa! Atau kalau gak mau, Mas Adit tidur di luar!"


Adit menundukan wajahnya dengan bahu yang merosot ke bawah, lalu berjalan mendekat ke arah sofa dan membaringkan dirinya dengan nyaman disana. Lily tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya pergi ke atas.


Untung bagi Adit dia tidak pernah masalah tidur dimanapun. Asal bisa berbaring maka Adit akan tertidur.


Baru saja Adit memejamkan mata beberapa menit tapi belum benar-benar tertidur, dia merasakan tubuhnya menjadi hangat. Sangat hangat. Adit membuka mata, dan melihat keindahan yang selama ini ia sukai.

__ADS_1


"Lily kira mas Adit udah tidur." ucap Lily yang baru saja menyelimuti Adit dengan selimut tebal.


"Emang udah."


"Maaf, Lily udah ganggu."


"Gak pa-pa." Adit tersenyum.


"Ya udah, mas Adit lanjut tidur lagi ya." Adit mengangguk.


Lily berjalan menuju tangga.


"Lily!" panggil Adit. Lily berhenti dan menoleh. "Selamat malam."


"Selamat malam!" balas Lily lalu kembali menaiki tangga.


Adit tersenyum. Mengingat bagaimana hancurnya dia tadi, saat mengetahui soal pernikahan Lily dan Bima. Takdir memang membingungkan! Takdir juga yang membuatnya ada di klub yang sama dengan Bima tadi sore. Adit tanpa sengaja melihat Lily sedang berbicara dengan bartender. Dia kira salah melihat karena Adit juga sudah dalam pengaruh alkohol meski sedikit, tapi belum terlalu mabuk. Otaknya masih waras untuk di ajak berfikir.


Lily menghampiri seseorang yang terlihat seperti Bima. Dan benar saja setelah Adit berusaha mendekat, jelas dia melihat Bima sedang di topang Lily. Adit berhenti melangkah saat seorang bartender yang tadi berbicara dengan Lily membantu membawa Bima keluar dari sana.

__ADS_1


Jelas merasa bingung. Adit fikir mungkin karena Lily sekretarisnya. Tapi perasaan Adit mengatakan lain. Maka dari itu Adit memutuskan untuk mengikuti mobil Lily dari belakang. Beruntung saat tadi Lily masuk ke dalam rumah pintu gerbang tidak di kunci. Entah lupa atau apa. Adit memasukan mobilnya ke dalam dan dia menguatkan hatinya untuk mengetuk pintu.


__ADS_2