
Nila menggeser kursinya di samping Lily, menatap tajam pada setangkai bunga yang lagi-lagi ada di atas meja Lily, entah dari siapa tidak ada yang tahu.
"Ada lagi?" Lily mengangguk dan menyerahkan setangkai bunga mawar itu pada Nila.
"Udah tahu siapa yang kirim?" Kali ini Lily menggelengkan kepalanya.
"Senangnya ada yang penggemar rahasia." ucap Nila dengan senyum mengembang.
"Iya tapi Lily gak suka. Mendingan dia jujur sekalian!"
"Ya mungkin dia malu, atau takut di tolak?"
"Mbak Nila dan semua orang tahu kan kalau Lily belum urusin surat cerai Lily."
"Apa mungkin Pak Danu? Dia kan yang selama ini incar kamu?"
"Gak tahu deh ah, Lily pusing." ucap Lily akhirnya.
"Kalau kamu pusing pulang saja, istirahat!" suara bariton seseorang membuat Lily dan Nila menoleh bersamaan. Lily tersenyum sembari menganggukan kepala, sedangkan Nila terpaku di tempatnya. Terpesona dengan sosok bos gantengnya yang tiba-tiba saja ada di belakang mereka.
"Ayo, saya antarkan pulang!" ucapnya lagi.
"Eh, enggak pak. Saya bukan sakit karena pusing, tapi ini." ucap Lily menunjuk bunga yang ada di tangan Nila. "Ada yang simpan bunga ini lagi di meja Lily."
"Kamu alergi?" Tanya Azka dengan khawatir.
__ADS_1
"Enggak sih, tapi risih aja." ucap Lily jujur. "Ya sudah pak, Lily mau lanjut kerja aja. Trimakasih atas perhatiannya."
Azka kemudian pergi setelah mendengar Lily baik-baik saja.
"Eh, kayaknya bos perhatian banget sama kamu! mungkin dia suka." Nila menyenggol lengan Lily saat sang bos sudah pergi.
"Gak mungkin! Jangan halu deh mbak. Mungkin pak Azka perhatian karna Lily lagi hamil kali." sanggah Lily.
"Ya siapa tahu, kalau di lihat dari tatapannya waktu dia mandang kamu tuh beda, gimanaaaa gitu." Kekeuh Nila.
"Udah deh. Dah sana ah, Lily mau kerja!" ucap Lily sedikit mendorong lengan Nila.
"Ih, ngusir!" Nila mendengus kesal.
*
Gerimis tiba-tiba turun tanpa bisa di cegah. Udara semakin dingin dan Lily tidak membawa jaket. Sial, karena semakin lama gerimis itu semakin lebat, angkutan umum penuh berdesakan membuat Lily enggan naik karena terlalu beresiko menurutnya.
Menunggu dan menunggu, sudah hampir setengah jam, taksi juga tidak ada yang mau berhenti.
Suara klakson terdengar merdu beberapa kali membuat beberapa orang yang ada di halte menoleh.
Azka keluar dari dalam mobil dengan menggunakan payung di tangannya.
"Ayo, saya antar pulang!" serunya mencoba mengalahkan deru hujan yang terdengar semakin kencang.
__ADS_1
"Eh?"
"Ayo!" Bukan lagi memerintah, tapi sedikit memaksa dengan menarik tangan Lily ke arah mobilnya. Memayungi Lily, hingga dirinya tak peduli lagi dengan air hujan.
Lily menurut, masuk ke dalam mobil, menatap heran pada sosok bosnya yang sedang berjalan berputar ke kursi kemudinya.
"Pak, saya..." ucap Lily saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Sudahlah, saya tahu kamu mau nolak, tapi ini lagi hujan! Dan lagi, kamu juga gak bawa jaket. Kasihan anak kamu!"
Lili terdiam. "Tapi baju bapak jadi basah." Lily merasa tidak enak.
"Gak pa-pa, cuma jasnya aja." ucap Azka lalu membuka jas kerjanya dan kini hanya memakai kemeja berwarna biru laut, terlihat pas di tubuhnya, dasi dan dua kancing atas sudah ia lepaskan. Kedua lengan kemejanya ia gulungkan hingga di bawah siku. Dengan rambutnya yang basah terlihat Woww! (author bilang mah, tubuh si Azka nih seksi top lah pokoknya)
Lily terpaku melihat sosok di sampingnya. Bukan karena keseksian yang ia miliki, tapi warna kemeja ini yang mengingatkan Lily pada sosok lelaki yang ia tinggalkan.
Lily mengalihkan pandangannya, dan diam-diam mengusap air mata di pipinya.
*
"Sudah itu pak di depan." tunjuk Lily ke arah rumah sederhana dengan pagar putih. Azka menepikan mobil itu, lalu segera keluar untuk membukakan pintu mobil dan membantu Lily. Lily mengucapkan terimakasih yang di balas Azka dengan tersenyum, lalu dengan perlahan menuntun dan memayungi Lily hingga aman sampai ke teras rumah.
"Trimakasih, pak. Harusnya bapak gak usah repot-repot anter sampai sini." ucapnya tidak enak pada sang bos. "Bapak mau mampir?" tanya Lily sekedar basa-basi.
"Tidak, saya pulang saja. Sudah hampir malam. Lain kali saja saya mampir."
__ADS_1
Lily menatap kepergian sang bos hingga akhirnya mobil itu menghilang semakin dalam di telan hujan deras.