Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 48


__ADS_3

Lily terdiam karena ucapan Yeni barusan.


Pelakor!


Ya ampun. Apa seperti itu dirinya? Tidak! Lily bukan pelakor! Lily hanya diminta untuk menjadi istri kedua Bima. Lily tidak merebut Bima. Justru Dena lah yang meminta dia untuk menikah dengan suaminya.


Lily menghela nafas beberapa kali. Mencoba untuk menguatkan hatinya. Hanya satu tahun, setelah itu dia akan menjalani hari-harinya seperti biasa. Lagipula mereka tidak tahu siapa yang menjadi istri Bima. Lily hanya perlu menutup mata dan telinga dari pembicaraan orang-orang mengenai dirinya.


***


Dua bulan sudah Lily menjalani pernikahan ini. Pagi ini dia menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sudah tiga hari Bima menginap disana. Tentunya dia tidur dikamarnya sendiri.


Tok. Tok.

__ADS_1


Lily mengetuk pintu kamar Bima. Tidak ada jawaban.


Dengan perlahan Lily membuka pintu yang tidak di kunci itu. Bima masih tertidur dengan begitu damai. Wajahnya terlihat sangat menawan bahkan saat dia menutup kedua matanya.


Lily berjongkok di tepi ranjang dan melihat Bima, yang sedang tidur miring ke kiri, lebih dekat lagi hingga wajah mereka berjarak satu jengkal. Rasanya Lily semakin jatuh cinta pada suaminya ini. Meskipun dalam perjanjian di sebutkan tidak boleh jatuh cinta pada pasangannya tapi toh perasaan jelas tidak bisa di pendam. Justru semakin hari Lily semakin menyukai suaminya. Bolehkah Lily menyebut Bima sebagai suaminya?


"Apa?!" Lily tersentak ke belakang saat tiba-tiba Bima bersuara, matanya terbuka.


"Eh, enggak mas. Ini aku lagi cari emm jepit. Iya jepit aku tadi jatuh!" Lily berpura-pura menunduk dan meraba lantai di bawahnya dengan salah tingkah.


"Mas, aku udah siapin sarapan." Lily berdiri, masih dengan dada yang berdentum keras. Lily Menundukan pandangannya.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Bima yang kini sudah mengubah posisi menjadi telentang.

__ADS_1


"Jam tujuh, mas."


Bima bangun dari tidurnya dan menurunkan kakinya ke bawah. Dia terdiam beberapa saat matanya terpejam, menghalau rasa malas yang menderanya akhir-akhir ini.


Lily membuka tirai hingga sinar matahari masuk melalui jendela kaca besar. Bima yang terkena sinar matahari merasa silau, dia menghalangi matanya dengan satu tangan. Hal itu tidak luput dari pandangan Lily, semua yang di lakukan Bima terasa indah di mata Lily. Wajahnya, tubuhnya, bahkan pergerakannya pun terlihat seksi.


"Siapkan air mandiku." titah Bima membuat Lily terbangun dari lamunannya. Lily segera pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Bima. Tidak lupa menambahkan aromaterapi ke dalam bathtub.


Bima masuk ke dalam kamar mandi hanya mengenakan celana bokser, membuat jantung Lily berdetak tidak karuan. Ya ampun. Harusnya Bima sadar diri jika tidak boleh membuat orang lain jatuh cinta dia tidak boleh seenaknya berkeliaran dengan pakaian minim seperti itu.


"Sudah?" tanya Bima. Lily mengangguk pandangannya tertunduk.


"Sudah mas. Aku tunggu di dapur." jawab Lily.

__ADS_1


"Kamu makan saja duluan. Gak usah nunggu aku mandi." Lily mengangguk lagi lalu pergi dari sana dengan dada yang masih berdebar.


Hampir satu jam lamanya Bima mandi. Lily masih setia menunggu Bima di meja makan. Meskipun perutnya sudah lapar, tapi ini waktu yang tidak akan di sia-siakan Lily. Perasaan Bima sedang baik sekarang. Biasanya dia dingin dan tidak banyak bicara. Tapi pagi ini meskipun masih dengan sikapnya, tapi Bima lebih banyak bicara dari biasanya.


__ADS_2