Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 74


__ADS_3

Hari semakin siang. Lily mencoba bersandar pada sandaran kursinya. Kepalanya serasa semakin berdenyut, dan terasa sangat dingin di sekelilingnya, padahal AC sudah ia matikan. Lily memejamkan matanya sejenak, mencoba mengusir rasa sakit di kepalanya.


"Ly kamu sakit?" suara seseorang membuat mata Lily kembali terbuka.


"Eh, mbak? Mau ketemu pak Bima?" tanya Lily. Saat di kantor Lily menyebut Bima dengan sebutan 'bapak' meskipun dia saat ini sedang berbicara kepada Dena.


"Iya, aku mau antarkan makan siang buat Mas Bima. Kamu sakit? wajah kamu pucat!" seru Dena khawatir dan menyondongkan dirinya untuk menyentuh kening Lily.


"Kamu demam, Ly? Kenapa kamu kerja kalau sakit?" tanya Dena beruntun.


"Mbak. Aku gak pa-pa." ucap Lily sambil menepis tangan Dena dari keningnya dengan pelan.


"Udah minum obat kok. Gak usah khawatir." ucap Lily sambil tersenyum.


"Na?" Lily dan Dena serempak menoleh ke asal suara. Bima berjalan mendekat ke arah mereka.


Dena berdiri tegak lalu berbisik dengan suaminya.


"Kamu, mas. Lily lagi sakit kenapa gak di antar pulang?" tanya Dena berbisik dengan nada gemas. Bima yang tidak tahu apa-apa karena sedari tadi tidak bertemu dengan Lily juga karena Lily tidak ada perlu ke dalam ruangan kantornya.


"Aku gak tahu." Bima balas berbisik.

__ADS_1


"Masa gak tahu. Kerja barengan juga. Gak perhatian banget sih sama istri sendiri!" Dena mencubit lengan Bima dengan kesal.


"Sakit, Na!" usap Bima di lengannya yang tadi di cubit Dena.


"Mbak, mas. Udah. Jangan berantem." Lily berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati madu dan suaminya.


"Lily gak pa-pa kok. Lily mau ambil minum dulu di pantry. Permisi." pamit Lily setengah membungkukan badannya.


Bima dan Dena menatap kepergian Lily.


Brukk!!


"Ya ampun. Lily!" Seru Dena saat baru beberapa langkah Lily limbung dan ambruk di lantai. Dena dan Bima segera berlari ke tempat Lily jatuh tidak sadarkan diri.


Lily di baringkan di dalam kamar Bima, Dena membantu membuka sepatu Lily. Sedangkan Bima menunggu OB untuk membawakan wadah baskom dengan air hangat untuk mengompres kening Lily.


Dena dengan setia menunggu Lily sadar. Badan Lily semakin panas dan menggigil, keringat bercucuran di keningnya. Lily mulai meracau tidak jelas.


"Mas, lebih baik kita bawa Lily ke rumah sakit! Demamnya makin tinggi, mas." ucap Dena khawatir. Bima hanya terdiam di sisi ranjang yang lain melihat Lily yang sedang di kompres keningnya oleh Dena.


"Mas!" panggil Dena sedikit berteriak karena Bima seperti sedang melamunkan sesuatu.

__ADS_1


"Ah. Iya." ucap Bima.


***


Lily terbangun di sebuah ruangan berwarna putih. Bau khas obat-obatan tercium dengan jelas di hidungnya. Di tangannya kanannya terdapat infus. Lily memegangi kepalanya, rasanya berat sekali. Matanya masih berkurang-kunang. Lily memejamkan matanya, mengingat apa yang sudah terjadi padanya.


"Ly udah bangun?" Lily membuka mata. Dena datang dengan sebuah mangkuk di tangannya, bibirnya mengulas senyum.


"Gimana keadaan kamu?" taya Dena sembari mendudukan dirinya di kursi samping branka Lily.


"Aku baik kok mbak."ucap Lily masih sambil memegangi kepalanya.


"Pusing ya?!"


"He'em. Sedikit mbak!" Dena menyimpan mangkuk bubur ke atas nakas, lalu beralih duduk ke atas ranjang di samping Lily.


"Mbak, gak usah." tolak Lily saat Dena mulai membantu memijit keningnya dengan lembut.


"Gak pa-pa." ucap Dena sambil tersenyum.


"Mbak, gak usah. Lily jadi gak enak!"

__ADS_1


"Gak pa-pa Ly. Biasa aja kali!" seru Dena. Lily hanya terdiam menerima perlakuan Dena yang perhatian. Sedari dulu Dena memang baik dan selalu perhatian padanya.


"Mbak udah anggep kamu kayak adik mbak sendiri. Jadi kamu jangan sungkan ya!" Lily tersenyum dan mengangguk pelan mendengar penuturan Dena.


__ADS_2