
Sudah tiga hari ini Lily tidak masuk kerja. Bima juga tidak berusaha menghubungi Lily. Pastilah Lily marah padanya karena ucapannya pagi itu. Bima terlalu mudah memutuskan. Harusnya dia bicarakan ini dengan Lily baik-baik bukan?
Jam pulang kantor tiba-tiba saja seseorang menghampiri Bima.
"Pak, maaf." Bima berhenti lalu membalikan tubuhnya. Seorang wanita yang dulu pernah menginap di rumahnya, wanita yang dulu tengah hamil besar, tapi ia lupa siapa namanya.
"Temannya Lily?" tanya Bima, Yeni mengangguk senang karena Bima masih mengingatnya.
"Iya pak. Umm mau tanya. Lily udah gak masuk beberapa hari kenapa ya? Apa sakit? Atau pulang kampung? Soalnya gak biasanya Lily gak angkat telfon Yeni pak. Pesan juga gak di balas." tanya Yeni, wajahnya terlihat khawatir. Sedangkan Bima hanya terdiam entah memikirkan apa, Yeni jadi bingung karena diamnya Bima.
Tiba-tiba saja Bima berlari meninggalkan Yeni yang terbengong di tempatnya.
Bima segera menuju ke arah mobilnya lalu mengendarainya seperti orang yang kesetanan. Keluar dari area kantor dan dalam beberapa detik mobilnya sudah membaur ke jalanan yang mulai padat.
Bima sempat mengumpat dalam hatinya, takut dan khawatir terjadi apa-apa dengan Lily. Apa perkataannya yang terakhir sangat kejam? Iya. Harusnya dia tidak pernah mengatakan itu kan pada Lily? Dasar mulut jahat!
__ADS_1
Semoga saja tidak ada yang terjadi pada Lily. Semoga.
Hanya itu yang Bima rapalkan di dalam hatinya.
Setelah mendapatkan semua dari Lily tidak sepantasnya kan Bima menceraikan Lily begitu saja? Persetan dengan Adit dan perasaannya. Seharusnya Bima tidak meninggalkan Lily bukan? Dena juga sudah memintanya berjanji untuk selalu menjaga Lily. Ada atau tidak nya cinta dalam hati Bima. Tetap saja Lily masih tanggungjawabnya, apalagi Bima sudah mengambil hal yang paling berharga dalam hidup Lily.
"Bodoh. Dasar bodoh. Brengsek!!" racau Bima mengumpat pada dirinya sendiri. Bima memukul kemudi hingga tangannya sakit tapi tidak di hiraukannya.
Mobil sudah sampai di garasi rumah Lily. Kosong, sunyi senyap. Hanya ada pak Dani yang lalu menghampirinya setelah menutup pintu gerbang. Dan menyerahkan kunci rumah padanya. Membuat Bima bingung.
"Loh emangnya bapak gak tahu kalau mbak Lily pulang kampung?" Pak Dani balik bertanya, sama bingungnya.
"Mbak Lily berangkat hari minggu pak. Beberapa jam setelah bapak pulang." Pak Dani menjelaskan saat Bima hanya terpaku diam di tempatnya.
Kenapa dia gak telfon aku kalau mau pulang?
__ADS_1
Pak Dani menatap punggung Bima yang berlalu dari hadapannya, lalu kembali ke posnya untuk berjaga sambil merapalkan doa untuk sang nona dengan hati bak malaikat seperti Lily.
Bima segera berlari ke arah pintu dan segera memasukan kunci lalu memutarnya. Ia harap yang di katakan Pak Dani adalah suatu kebohongan. Bima mencari Lily yang biasanya akan tidur di kamarnya jika dia tidak pulang. Tidak ada. Lalu berlari ke arah tangga. Kamar Lily, tidak ada juga. Lemari baju Lily setengah kosong. Foto-foto di dinding kamarnya sebagian sudah menghilang, menyisakan tiga bingkai foto yang entah sengaja atau tidak di tinggal disana.
Apa yang sudah aku lakukan?
Bima terduduk lemas di atas ranjang Lily. Menatap nanar pada ruangan yang selama ini jadi tempat Lily beristirahat. Nuansa soft pink yang sangat disukai gadis itu, hingga pada seprai dan segala pernak pernik yang ada disana.
Di atas nakas ada sebuah kotak kayu berwarna coklat, terbuka sedikit tutupnya dan sebagian isinya tercecer keluar. Penasaran dengan isi kotak itu Bima meraihnya lalu membukanya. Beberapa origami berbentuk burung terjatuh dari sana. Banyak sekali. Bentuknya sudah lebih baik dan rapi dari saat Bima melihat origami yang Lily buat untuk pertama kali.
Secarik kertas yang terlipat tak kalah membuat Bima penasaran. Bima mengambilnya dan membukanya.
'Sonogo, tori no kami no tamashī, hikō, nejire ya oikoshi, kūkan, kyori to jikan no jigen ni, karera no yōkyū o kyoka suru… To manifesuto ni, onaji no ōkina yumetokibō o motsu betsu no ningen no ko o sagashimasu!)'
'Jiwa-jiwa burung kertas, kemudian terbang, meliuk dan menyalip, ke dalam dimensi ruang, jarak dan waktu, mengabulkan permintaan mereka… dan mencari anak manusia lain dengan mimpi serta harapan besar yang sama, untuk di wujudkan!'
__ADS_1
Apakah Lily sedang mencoba membuat seribu burung kertas?