Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 112


__ADS_3

Dena membaringkanku di atas ranjang. Menyelimutiku hingga sebatas dada, aku tidur meringkuk dengan kepala hampir menyentuh lutut. Dari sudut mataku ku lihat dia sedang memunguti semua pakaian ku, dan menyimpan sepatu di tempatnya. Dan ku dengar pula dentingan kaca yang jatuh ke lantai. Pastilah saat ini Dena sedang membereskan kotak tempat origami.


Ini bukan yang pertama kalinya aku begini. Dena sudah tahu perihal Una jauh sebelum kami memutuskan untuk menikah. Dengan sabar selama ini dia membimbing ku untuk tetap berfikir dengan waras. Membuat aku menikmati hidupku yang nyata, bukan menikmati bayangan yang selama ini mengikutiku. Bahkan aku juga gak tahu kan bagaimana Una sekarang. Apakah dia sudah menikah atau belum. Apakah dia memikirkan aku atau tidak.


Aku tertidur masih dengan memakai kemeja dan celana yang ku pakai siang tadi.


Bima pov end.


***


Dena menatap nanar sang suami yang tidur meringkuk, di usapnya pipi Bima yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus. Dena tersenyum kecut. Selama bertahun-tahun berusaha membuat Bima melupakan cinta masa lalunya, tapi nyatanya cinta itu kuat. Sedangkan Bima sendiri selalu menyangkal dengan perasaannya. Apa lagi coba kalau bukan cinta namanya? Mungkin gadis itu cinta pertama Bima yang tidak ia sadari.


Dena menatap origami merah muda dalam genggamannya, berarti sudah delapan belas tahun benda itu Bima simpan. Bukan waktu yang sebentar kan untuk terus mengingat gadis kecil itu.


Seandainya saja dia adalah gadis kecil itu pastilah Dena akan bahagia, tanpa ada bayang-bayang orang lain dalam kehidupan rumah tangganya.


Dena pergi ke ruang kerjanya dengan membawa origami yang selama ini selalu membayangi Bima. Mengambil salah satu kotak kayu yang sama persis seperti yang tadi di hancurkan suaminya. Ini adalah kotak ke-dua belas yang Bima hancurkan semenjak pernikahan mereka.


Siapapun mengira kehidupannya bahagia dengan Bima. Ya bahagia jika tanpa bayang-bayang gadis kecil yang selalu membuat Bima frustasi, apalagi Bima merasa bersalah karena mendengar kedua orang tua gadis itu meninggal karena di bunuh. Dia merasa sangat terpuruk dan menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga gadis itu.

__ADS_1


Aneh bukan?


Apa karena janji yang pernah Bima sebutkan dulu?


Tanpa terasa air mata Dena menetes ke pangkuannya. Dena terisak. Rasanya menyakitkan. Tapi ia sudah berjanji untuk membuat Bima bahagia.


***


"Pagi, mas." Bima tersenyum saat melihat wanita di hadapannya tersenyum manis. Masih dengan selimut menutupi tubuhnya. Terlihat gurat lelah di wajah sang istri.


"Pagi." suara Bima terdengar parau.


"Kemana?" Dena ikut duduk, dia mengangkat bahunya.


"Terserah yang penting hari ini aku mau kita olahraga. Umm, taman boleh." seru Dena.


"Oke. Aku ke kamar mandi dulu." Dena mengangguk. Bima beranjak ke kamar mandi sepuluh menit kemudian dia keluar dan bersiap memakai celana dan kaos serta sepatu olahraga. Sedangkan Dena yang sudah siap sedari tadi turun ke bawah untuk menyiapkan susu hangat untuk Bima.


Bima menenggak susu hangatnya sebelum mereka pergi ke danau.

__ADS_1


Suasana danau siang ini lumayan ramai karena banyak orang yang sedang berolahraga pagi disana, maupun menikmati matahari terbit. Beberapa orang diantaranya sedang asik bersama teman atau keluarga mereka.


Bima dan Dena berjalan santai. Lumayan cukup jauh hingga membuat keduanya berkeringat.


Dena tidak hentinya memandang setiap anak yang ia temui disana. Lalu tersenyum. Bima mengerti arah pandang Dena. Tentu saja karena saat ini yang Dena mau hanyalah anak yang ia tidak bisa berikan melalui Lily.


Seorang balita lucu berjalan bersama kedua orangtuanya. Langkahnya terseok-seok sesekali dia terjatuh, tapi tidak sampai menangis. Dia berusaha kembali berdiri di bantu oleh sang ayah lalu kembali berjalan. Langkahnya terhenti memandang tepat ke arah Dena yang juga memandanginya. Matanya yang bulat seketika menyipit seiring dengan tawanya yang membuat Dena tersenyum haru penuh rindu. Sang ayah memegang tangan mungil itu dan sedikit menariknya hingga balita itu melanjutkan langkah kecilnya. Bersama dengan ayah ibunya balita itu kembali berjalan menjauh.


Mata Dena mulai berkaca-kaca. Bima memegang tangan Dena erat.


"Ikut yuk!" seru Bima, tanpa menunggu jawaban Dena ia menarik Dena ke sebuah tempat.



"Siap?!" seru Bima lalu melajukan sepeda yang ia sewa dengan membonceng Dena di belakangnya. Dena memeluk perut Bima erat. Bibirnya mengulas senyum bahagia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf ya bajunya kurang pas. 😅😅😅. (author)

__ADS_1


__ADS_2