Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 71


__ADS_3

"Tapi mas...hiks ...kata dokter...hikss... aku.. aku akan sulit punya anak." Bima benci ini. Benci dimana ia harus melihat air mata sang istri lolos dari mata cantiknya.


Bima mengubah arah duduknya, dia menggeserkan kursinya lebih dekat lagi dengan sang istri. Di ambilnya kedua pundak istrinya dan memutarnya hingga mereka saling berhadapan. Dena masih terisak.


"Aku udah bikin kamu...hikss.. kecewa, mas." lirih Dena.


Bima mengambil kedua tangan Dena dan mengusap punggung tangan Dena dengan ibu jarinya, lalu bergantian mengecupnya dengan sayang.


"Aku udah bilang kan, kalau aku gak keberatan menunggu sampai kapanpun, hem?" ucap Bima tegas. "Kamu lupa?" pandangnya, tapi yang di pandang masih menunduk dan terisak. "Aku gak keberatan. Dan aku terima apapun keadaan kamu, sayang. Meskipun tidak ada anak di antara kita, yang penting kamu ada di sisi aku selamanya. Aku bahagia kamu perhatian, cinta ,dan sayang sama aku. Aku cuma mau kamu, Na! Aku mau kamu di setiap nafas aku sampai tua nanti. Sampai akhir hayat aku nanti. Ngerti?!"

__ADS_1


Dena semakin terisak, ia menangis semakin hebat. Kalimat terakhir Bima barusan seperti perintah baginya yang membuat Dena semakin merasa sakit di hatinya.


Bima mengambil tubuh Dena yang bergetar ke dalam pelukannya. Rasanya sangat tidak tahan melihat sang istri menangis karena memikirkan tentang anak.


Bima memandang ke arah sang istri yang tengah tertidur pulas. Bekas air mata masih terlihat disana. Di kecupnya kening Dena, lalu turun ke kedua matanya yang sembab, kedua pipinya yang tirus, hidung mancung Dena, dan berakhir di bibir ranum Dena sekilas, lalu Bima kembali ke tempatnya semula. Bima tidak ingin mengganggu tidur sang istri meskipun hasrat untuk bercinta sedang menggebu menguasainya kembali.


Seminggu tidak bertemu dengan Dena membuatnya menahan kerinduan dan hasratnya. Meskipun Bima sudah melakukannya tadi di kamar mandi bersama dengan sang istri tapi rasanya itu masih belum cukup. Tapi keadaan Dena sedang tidak baik sekarang. Mungkin Dena butuh ketenangan.


Bima menautkan keningnya dengan kening Dena. Berharap dia bisa mengetahui apa yang ada dalam fikiran istrinya. Tapi dia bukan cenayang yang bisa membaca fikiran orang lain. Bima pun menutup mata. Berharap semua jawaban akan hadir dalam mimpinya.

__ADS_1


"Mas. Bangun!" Bima merasakan tangan lembut seseorang yang mengguncang lengannya.


Masih dengan malasnya Bima hanya membuka satu mata.


"Mas." panggil Dena.


"Hemm?" kening Bima berkerut dia mengedarkan pandangannya keluar, hari masih gelap, tapi kenapa Dena membangunkannya?


"Apa sayang?" Kini Bima membuka kedua matanya, dan mengubah posisi tidurnya miring menghadap sang istri. Kedua tangannya ia tumpukan sebagai alas kepalanya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Bima dengan suara has bangun tidur. Dena tersenyum.


"Aku kebangun. Gak bisa tidur lagi!" ucap Dena menatap suaminya dengan lembut . Bima mengubah tidurnya dia lebih mendekat dengan Dena dan memberikan tangan kanannya untuk menjadi alas tidur kepala istrinya. Dena tersenyum senang dan memeluk Bima. Melesakan kepalanya di leher Bima dan menghirup aroma maskulin dari tubuh seksi Bima.


__ADS_2