Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 204


__ADS_3

Bima Satria


Lily masih menjalani tetapinya, dokter bilang sudah ada kemajuan, rasa sakit di kepalanya adalah salah satu respon yang baik untuk Lily. Yang penting tidak di paksakan untuk mengingat.


Kehadiran Lily membuat ku selalu bersemangat saat di kantor. Celia menepati janjinya. Perusahaan mantan calon mertuaku itu tetap memberikan bantuan, dan aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan bekerja sangat keras untuk mengembalikan perusahaanku seperti dulu. Aku harus berterima kasih pada kedua orangtuanya mereka tidak menuntutku karena pernikahan itu batal.


Matahari sudah terbenam dua jam yang lalu, tapi aku belum juga mau beranjak dari kursiku. Pekerjaan masih menumpuk di atas meja. Tiga puluh persen lelah, dan tujuh puluh persen semangat.


Sekarang punya tanggung jawab akan hidup Lily dan Yumna.


Telfon berdering, ku buka laci meja kerjaku. Lily.


"Iya?" mata ku membulat saat mendengar Lily di susul dengan suara tangis Yumna yang terus memanggil ku 'papa'.


Segera ku ambil jas dan tas kerjaku, lalu beranjak keluar dari kantor, masih memegang hp di tanganku. Tidak biasanya Yumna menangis seperti itu.


"Iya aku segera pulang!" setelah hp di matikan, aku segera menuju basemen dengan cepat dan menghampiri mobil yang di parkir di tempat khusus direktur.


Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Untunglah, jalanan sedikit lengang karena sudah lewat dari jam delapan malam. Perasaan ku sangat cemas.


Tidak sampai setengah jam aku tiba di rumah mama. Langsung saja aku naik ke lantai atas menuju kamar Lily, terdengar Yumna masih menangis terus memanggil ku. Mama juga ada disana ikut menenangkan Yumna yang tidak mau berhenti menangis.


Putriku ada di pangkuan Lily, dengan kompres khusus anak-anak yang melekat di keningnya. Rambutnya basah karena keringat, matanya sembab pastilah sedari tadi terus menangis.


"Papa....hiks..papa.." Yumna mengangkat kedua tangannya ke arah ku yang baru saja masuk ke kamar. Mama segera menyingkir dari atas kasur dan memberikan tempat untuk ku duduk.


"Kamu itu kerja gak inget waktu! Yumna dari tadi nyariin!" mama berkata dengan nada kesal padaku. Bukan hanya kali ini aku lembur di kantor.


"Ma, bukan salah Bima. Aku yang gak telfon tadi." ucap Lily.


"Ya sudah, mama mau tunggu dokter, sebentar lagi dokter datang." ucap mama lalu pergi dari sini.


"Dari kapan Yumna demam? kok kamu gak langsung telfon aku?" tanya ku sambil memeluk Yumna yang kini melingkarkan tangan mungilnya di leherku. Seketika tubuhku terasa gerah. Ya ampun, putriku apa mungkin karena kemarin aku bawa ke pasar malam dan naik bianglala? Angin memang besar di atas sana. Aku menyesal tidak mendengarkan Lily untuk pulang.


"Tadi siang. Maaf. Aku gak mau ganggu kamu kerja."


"Lain kali kabari aku kalau ada apa-apa." Lily mengangguk.


Tak lama dokter datang untuk memeriksa keadaan Yumna.


"Yumna hanya demam biasa, besok pagi juga akan baikan." ucap dokter. Setelah memberikan obat khusus untuk anak-anak dia segera turun dari lantai atas di temani mama.


"Sekarang, Yumna bobo ya." ucapku, Yumna masih setia dalam dekapanku, tidak mau lepas.

__ADS_1


"Papa bobo sini." pinta Yumna. Aku dan Lily saling berpandangan.


"Papa bobo sini..hiks." Yumna mulai terisak lagi. Bagaimana ini? apa boleh kami tidur bersama? Maksudku hanya menidurkan Yumna?


"Tapi papa..."


"Iya, papa bobo disini. Tapi Yumna juga bobo oke?" Ucap Lily memotong perkataanku. Yumna mengangguk. Wajah sedihnya berubah menjadi senang. Lagi aku menatap Lily yang mengangguk dan tersenyum padaku.


Perlahan Yumna ku tidurkan di atas kasur. Lily berada di sebelah kanan sedangkan aku berada di sebelah kiri Yumna.


Lily menepuk paha Yumna pelan. Perlahan mata Yumna menutup, kedua tangannya tidak lepas dari leherku. Ku kecup keningnya yang tidak tertempel kompres. Terdengar suara halus dari hidung mungilnya.


Aku dan Lily tidur saling berhadapan, Lily masih setia menepuk paha Yumna, sedangkan aku juga setia menatap wajah Lily. Bolehkah aku cium dia sekali saja?


Ya ampun bibir Lily sangat menggoda. Ahh, sial! melihat bibirnya saja aku jadi ingin mengganti celanaku dengan yang longgar. Sempit, dan sedikit linu!


"Maaf, pasti karena kemarin naik bianglala, Yumna jadi demam. Maafkan aku ya harus nya aku nurut waktu kamu ajak pulang." sesalku.


"Gak pa-pa, anak kecil memang masih rentan sakit." Meskipun amnesia ternyata Lily faham soal seperti itu. Mungkin karena sifat keibuan seseorang memang tidak bisa di hilangkan meski dalam keadaan apapun.


Ku beranikan diri memegang tangan Lily yang menepuk paha Yumna dan menciumnya. Lily hanya menunduk, pipinya merah seperti tomat.


"Kamu mau nikah lagi sama aku?" Entah sudah berapa kali aku bertanya seperti itu. Mudah-mudahan kali ini Lily menjawab 'iya'.


"Kamu ngelamar aku di atas tempat tidur? Gak romantis banget sih?!" cecar Lily.


"Hehe, kapan-kapan kita nonton film romantis ke bioskop. Aku akan belajar jadi pria romantis!" Lily terkekeh mendengar ajakan ku.


"Kok ketawa?" tanyaku.


"Kamu lucu."


"Lucu?" Lily mengangguk, tapi aku tetap tidak mengerti. "Lucu kenapa?" tanyaku lagi. Lily hanya menggelengkan kepala kali ini.


"kamu buat aku bingung!"


"Ya udah gak usah di fikirin." ucap Lily lalu menarik tangannya yang masih aku genggam. Lily menjepit kedua tangannya di bawah kepalanya. Menatapku dengan intens.


Yumna bergerak dalam tidurnya menjadi telentang.


"Ceritakan kisah kita!" pintanya.


"Yang mana?"

__ADS_1


"Yang kamu bilang soal Una dan Bimbim? Sayang banget pasti itu kenangan manis kita ya?" Mata Lily berubah sendu.


"Ya begitulah. Sangat manis sampai saat ini pun aku gak pernah nemu kisah kayak gitu bahkan sama Dena juga."


"Jangan di bandingkan. Kisah manusia kan tidak pernah sama. Tergantung kita membayangkan indahnya seperti apa kan? Kisah kamu sama Dena juga pasti ada yang indah. Tapi berbeda." Aku mengangguk membenarkan.


"Iya."


Maafkan aku Dena. Benar kisah kita juga indah. Tapi dengan cara yang berbeda.


Entah berapa lama aku bercerita, Lily mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia tertawa saat aku bercerita tentang dia yang menangis karena tidak bisa turun dari pohon. Dan juga yang lainnya, hingga ku sadari kalau Lily perlahan terlelap.


Ku singkirkan anak rambut yang menutupi wajah Lily, masih sama seperti dulu. Wajahnya tenang dan terlihat damai. Kini dua wajah yang sama persis tidur di hadapanku. Aku tersenyum, sekaligus merasakan nyeri di dalam dadaku.


Kalau saja aku tidak melakukan kesalahan pastinya kami sudah bahagia sedari dulu!


Ku cium kening Yumna yang berada di bawahku, lalu sedikit beringsut mendekat ke arah Lily. Cium sedikit gak pa-pa kan?


Ya ampun bibir Lily membuat dadaku berdebar dengan keras. Tubuhku sedikit berkeringat. Serasa aku menjadi maling yang akan mencuri berlian!


Semakin dekat, hingga nafas Lily terasa jelas hangat berhembus di bibirku. Aku menutup mataku kembali memajukan wajahku.


Bugh!!


"Aww!!!" Aku memekik saat sebuah pukulan terasa menyakitkan di pipiku. Linu. Aku membuka mata, aku kira Lily, ternyata Yumna yang berbalik tangannya masih berada di atas pipiku.


"Ada apa?" Lily terlonjak hingga terbangun, wajahnya kaget luar biasa menatapku yang sedang memegangi pipi kiri ku.


"Ahh Yumna. Hehe. Dia tidurnya gak tenang. Pipiku kena tinju." ucap ku sambil tersenyum malu.


"Oh, Yumna memang kadang gitu kalau tidur. Sakit ya?" aku terdiam dengan perlakuan Lily yang mengusap lembut pipiku. Ah ya ampun rasanya aku tidak tahan! Lily membuatku seperti tersetrum.


"Aku tidur di bawah aja deh." ucapku lalu bangkit dari ranjang, gawat kalau makin lama disini. Dan di dalam celanaku rasa linu nya semakin terasa.


"Kamu marah?" Tanya Lily.


"Enggak, cuma takut ganggu kamu aja. Kamu kayaknya capek." ujarku. Terlihat pada sorot matanya sedikit kecewa. Tapi kemudian Lily mengangguk dengan senyuman di bibirnya.


Aku kembali ke kamarku.


Ah Yumna, kenapa tidak mendukung papa sih?


Sepertinya memang aku tidak boleh bertindak jauh sebelum kami kembali sah!

__ADS_1


Hahhh ya sudahlah!!


"Sabar ya 'Boy'." ucapku sambil mengelus milikku.


__ADS_2