
Aku mengikutinya ke atas bermaksud untuk meminta maaf dan menjelaskan perihal aku sampai telat datang kesana. Tapi langkah Lily terasa sangat cepat tidak seperti biasanya. Saat aku sudah sampai di undakan tangga terakhir,ku dengar dia membanting pintu dengan keras. WOW!! Apa ini kemarahan seorang wanita yang sesungguhnya?
Aku mendekat dan urung mengetuk pintu karena mendengar teriakan Lily dari dalam kamar. Menyebut kata-kata kasar, yang membuatku mengkerutkan keningku. Menyebutku dengan julukan yang aku sendiri tidak mau menyebutkannya. Double WOW!!
Tidak ku sangka Lily dengan wajah kalem dan sifat manisnya ternyata...
Ah sudahlah, aku akan minta maaf lain kali. Aku juga akan menjelaskannya saat Lily sudah merasa baikan.
Ya ampun aku lapar. Ini sudah lebih dari jam delapan hampir mendekati jam sembilan dan Lily tidak juga turun. Biasanya Lily akan masak pada jam tujuh lalu kami makan bersama pada jam setengah delapan. Tadi siang aku hanya makan kentang goreng di mall dan itu tidak cukup karena bagiku nasi dalah pokok dari segalanya. Ah ya ampun perutku!
Aku keluar ke dapur berharap Lily ada di dapur dan memasak. Tapi tidak ada siapapun disana. Jadilah aku hanya minum segelas air. Memang ada mie instan tapi itu tidak baik kan untuk kesehatan, apalagi ini sudah malam.
Aku kembali ke kamar, berguling ke kiri dan ke kanan tapi masih belum mendapatkan posisi ternyaman untuk memejamkan mata. Bagaimana akan terpejam kalau perut dalam keadaan lapar?
Minum saja lagi!
Lampu dapur menyala saat aku mendekat ke sana. Ku lihat Lily dengan fokus memasak mie instan dengan telur. Harum. Rasanya aku semakin lapar. Aku hanya minum sambil melihat Lily yang masih mengaduk mie di atas panci, lalu dia mematikan kompor, dan memindahkan mie tersebut ke atas mangkok kaca. Ya ampun rasanya sangat menggoda saat melihat lembaran mie itu meluncur dengan indah ke dalam mangkok.
Lily berbalik pandangannya terfokus pada apa yang di bawanya, lalu tersentak kaget saat melihatku hingga mangkuk kaca itu meluncur bebas dan pecah berserakan beserta isinya.
Dia fikir aku hantu apa?
__ADS_1
"Awww." Lily meringis membuat aku terfokus ke arah bawah, kurasa kakinya terkena cipratan air panas dari kuah mie.
"Hati-hati dong!" ucapku lalu memapahnya ke kursi. Kurasa dia memandangiku hingga kemudian melemparkan pandangannya kembali pada kakinya.
"Bisa gak sih kalau kerja hati-hati?" aku malah membentaknya lagi.
"Lagian mas Bima ngagetin, aku kira hantu!"
What? Hantu?
"Emang ada hantu yang ganteng kayak aku?"
"Ahh sakit, mas." ringis Lily saat ku usap usap kakinya yang basah.
Ku angkat kaki Lily hingga berada di atas pangkuanku dan mengoles salep luka bakar di kakinya. Dia terdiam memperhatikan gerak tanganku lalu meringis merasakan perih dan panas sepertinya. Dengan refleks aku meniup kakinya pelan.
Lily terdiam entah memikirkan apa. Tapi bisa ku lihat senyum di bibirnya yang mengembang tipis.
"Sudah." ku turunkan kaki Lily perlahan membuat senyumnya menghilang. Kenapa?
"Ayo, aku antar kamu ke kamar." Lily menggeleng.
__ADS_1
"Aku lapar mas!"
Ku putuskan untuk memasak mie instan sama persis seperti yang di buat Lily tadi karena aku tidak pandai memasak. Kalau hanya telur dan mie instan, bolehlah!
Lily tersenyum saat aku menghidangkan semangkuk mie di depannya, begitu juga dengan aku, persetan dengan karbohidrat, aku lapar!. Lalu kami mulai makan, seperti biasa Lily makan seolah dia hanya sendiri. Menyeruput mie nya dengan santai seolah dia hanya makan sendirian di meja makan. Dasar, ternyata yang Dena bilang gadis sopan, mana? Gak punya etika di meja makan!
Kami makan dengan beberapa obrolan yang membuat jengkel, tentunya dengan Lily yang marah, karena aku tidak datang. Haruskah aku bilang kalau aku datang dan mengikuti mereka? Ah nanti Lily jadi baper lagi. Ya sudahlah, biarkan saja Lily berfikir kalau aku ini brengsek sama seperti umpatan dan teriakannya tadi di kamar!
Aku membantunya untuk kembali ke kamar, dia jalan tertatih membuatku tidak sabar.
"Mas aku bisa jalan sendiri!" protesnya saat aku menggendongnya di depan.
"Iya tapi lama. Aku udah ngantuk!" ucapku lalu dengan cepat melewati tangga sampai masuk ke kamarnya membaringkan Lily di atas ranjang yang berantakan.
"Ya ampun, kamar gadis tapi kayak kandang ayam!"
Pandangan ku terhenti saat melihat beberapa origami berbentuk burung atas nakas. Ku ambil satu yang berwarna biru.
"Kamu yang bikin?" Lily mengangguk. "Tapi ini masih kurang rapi!"
"Aku udah lama gak bikin. Jadi agak lupa." ucap Lily dari atas kasurnya, Lily duduk dengan bersender di kepala ranjang.
__ADS_1
"Jelek sekali." Lily mencebikan bibirnya tanpa protes. Aku jadi teringat masa dulu ketika mengajarkan seorang teman masa kecilku membuat origami dengan bentuk burung, dan dia tidak pernah bisa melakukannya hingga...
Ku simpan kembali benda tersebut lalu keluar dari kamar Lily saat ku dapati Lily terus memandangiku. Rasanya tidak nyaman hanya berdua dalam ruangan seperti ini.