Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 105


__ADS_3

Jam sudah menunjuk angka dua. Dua insan itu masih saja terlelap di bawah selimut tebalnya. Pakaian mereka berserakan tidak beraturan di lantai. Udara sangat panas di luar, tapi di dalam kamar itu malah terasa dingin karena suhu AC yang sengaja di buat lebih dingin. Senyum di bibir mereka merekah meski mereka terlelap, saling berpelukan berbagi kehangatan dari tubuh mereka masing-masing.


***


Lily berjalan ke lobi, ini waktunya pulang. Harusnya Lily memesan ojol sedari tadi. Tapi Lily lupa karena sibuk dengan pekerjaannya.


"Ly!" panggil seseorang. Lily menoleh ke belakang.


"Ya, Yen!" seorang wanita dengan usia tidak jauh dari dirinya menghampiri. Perutnya terlihat sedikit buncit karena usia kehamilannya yang menginjak lima bulan.


"Kamu gak bawa motor?"


"Enggak." jawab Lily. "Lagi males bawa." senyumnya. Lily mengusap perut Yeni lembut. Sudah terasa pergerakan dari dalam sana walaupun pelan.


'kapan aku bisa hamil anak mas Bima?'


Tidak mungkin karena sekarang saja suaminya pasti sedang tiduran di paha sang istri tercinta. Atau bahkan... Lily menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu?" Lily tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Pengen hamil? Nikah aja belum. Cari suami sana. baru deh ena-ena biar bisa punya anak!" canda Yeni dengan kekehan. Lily tertawa pelan. Dalam hatinya ia merasa sakit dengan statusnya. Lily harus segera meminta Bima untuk berbicara dengan Dena, sebelum perasaannya menjadi lebih jauh lagi pada Bima.


"Ly, pengen baso nih! Yuk." ajak Yeni. "Aku laper, kayaknya makan baso nya Pak Slamet enak deh! Dari tadi siang udah ngiler banget pengen baso pak Slamet." serunya sambil menggamit tangan Lily.


"Emang gak di jemput a' Yayan?"


"Nanti jemputnya jam enam." jawab Yeni sambil mengajak Lily melangkah.


"Mas Adit mau ketemu pak Bima? Udah pulang dari siang, mas." ucap Lily tanpa menunggu jawaban Adit.


"Enggak kok, aku mau jemput kamu." Senyum Adit membuat Yeni meleleh. Rasanya ingin mencubit pipi Adit sampai merah.


"Emm, tapi Lily mau nemenin Yeni makan baso ini. Gimana ya...?" Lily menolak tidak enak.


"Gak pa-pa kok. Kalau kamu gak bisa. Aku sendiri aja sambil nunggu bebeb." Ucap Yeni sambil mendorong tangan Lily.

__ADS_1


"Tapi Yen..."


"Udah sana!" usir Yeni lagi. Yeni senang jika Lily dekat dengan seseorang.


Adit melihat ke arah perut Yeni yang terlihat sedikit besar.


"Ya udah kalau kalian mau makan baso. Ayo. Mas Adit traktir." ajak Adit. Lily dan Yeni masih mematung di tempatnya.


"Kok malah diem?" Adit menggamit tangan keduanya lalu membawa mereka ke mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari sana.


Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit mereka sudah sampai. Karena rupanya tempat itu tidak jauh dari kantor Bima. Adit memandang kedua wanita yang tengah duduk di depannya. Mereka makan dengan sangat lahap.


"Mas Adit gak suka tempatnya ya?" tanya Lily karena sedari tadi Adit hanya diam memperhatikan. Makanan di depannya baru ia makan sedikit.


"Maaf ya, mas Adit. Soalnya Yeni dari siang pengen banget kesini." sambung Yeni merasa tidak enak. Yeni tahu Adit adalah salah satu sahabat bosnya, dan mungkin tidak terbiasa dengan makanan pinggir jalan seperti ini.


"Gak pa-pa kok. Gak masalah. Lagian, mas Adit juga harus belajar kan, nanti kalau punya istri lagi hamil harus nurutin segala kemauan istri. Iya kan?" Adit tersenyum sambil memandang Lily. Yeni manggut-manggut membenarkan sambil mengunyah baso yang ada di dalam mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2