Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
Bab 43


__ADS_3

Lily Aruna pov


Matahari bersinar dengan teriknya, terasa panas di kulit pipiku. Ah ya ampun rasanya baru beberapa detik yang lalu mataku ini terpejam dan sekarang matahari dengan teganya mengembalikan kesadaranku!


Aku meraba hp yang berbunyi sangat nyaring di sampingku masih dengan mata tertutup, dan masih dalam pembaringanku. Biasanya aku simpan hpku di atas nakas. Tapi mana dia? Dan suaranya? Koq beda? Ah sudahlah! Aku hanya ingin melanjutkan tidurku.


Alarm hp mati dengan sendirinya. Aku kembali menyamankan diriku di dalam selimut, siap menjemput mimpiku yang baru. Lima menit, sepuluh menit.


Alarm kembali berbunyi nyaring, dengan lagu barat yang aku sendiri tidak tahu judul dan artinya.


"Ya ampun! Aku masih mau tidur! Bisa singkirkan suara itu?" racauku. Tentu masih dalam keadaan menutup mataku. Tapi tidak ada yang mendengarkan. Tentu tidak ada, karena aku hanya sendirian!


Aku berguling ke kanan dan ke kiri, lalu kedua tanganku memukul-mukul kasur empuk yang menjadi tempat tidurku selama ini. Kakiku menendang-nendang ke udara hingga selimut terbang ke sisi lain, tanda aku protes karena masih ingin tidur tentunya.


"Bisa diam gak sih!"

__ADS_1


Aku membeku masih dengan satu kaki yang terdiam menendang udara yang kosong saat mendengar suara itu. Suara? Bukankah aku tidur sendiri?


"Kalau mau olahraga di luar sana!" ucapnya lagi dengan nada malas.


Suara lelaki! Aromanya juga! Maskulin!


Aku meraba sisi kananku. Hangat. Terasa seperti hangatnya tubuh manusia. Bukannya aku tidur sendiri semalam? Eh? bentuknya seperti bibir, hidung, pipi! Aku terus meraba dengan tangan kananku hingga berhenti karena sebuah tangan menahan ku.


Dengan dada yang berdebar, takut sebenarnya, aku membuka mataku.


"Hei, ini aku!"Kini dia setengah duduk. Terlihat dari wajahnya raut tidak suka karena mendengar teriakanku. Mungkin semua orang, termasuk aku, tidak suka jika ada yang mengganggu saat masih ingin tidur.


"Bapak ngapain di kamar Lily?!" seru ku dan segera menarik tanganku. Tapi cengkeraman tangannya sangat kuat.


"Kamar kamu? Lihat baik-baik dimana kita!" ucapnya matanya masih enggan terbuka. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling.

__ADS_1


Eh? Dimana ini? Bukan kamarku. Bukan juga kamar Pak Bima! Lalu dimana ini? Aku masih melongo seperti seorang anak yang terdiam melihat permainan sulap.


Perlahan dia melepaskan tanganku dan kembali merebahkan dirinya di kasur hingga yang aku lihat hanya punggung putihnya.


"Tidur lagi, atau mandi sana! Dan jangan ganggu aku!" Aku kembali sadar dari lamunanku.


Eh kenapa kancing bajuku terbuka? Kancing rok kerjaku juga! Sepatuku dimana?Aku kembali berteriak, bayangan 'sesuatu'... Apa terjadi sesuatu semalam?


Aku terdiam saat tangan besar itu tiba-tiba membekap mulutku, dan aku terjengkang kembali ke atas kasur dengan tubuhku yang tertindih oleh Pak Bima, tidak semuanya sih, tapi ku kira dada hingga kepalaku berada di bawahnya.


Raut wajahnya terlihat sangat kesal sekali terlihat jelas tergambar di mataku ini, tapi masih tetap tampan, apalagi wajah bangun tidur dengan gurat-gurat bekas bantal di pipinya. WOW!! Seksi!


"Berhenti teriak Ly, aku gak suka suara teriakan pagi hari!" Aku masih terdiam, tapi aku yakin mataku masih melotot karenanya. Aku masih terpesona dengan wajah yang kini hanya berjarak kurang dari sepuluh senti dari wajahku. Aku hanya mengangguk saat ia memerintahkan untuk diam.


Beberapa detik kemudian dia melepaskanku, lalu berdiri hingga selimut melorot dari tubuhnya. Aku memejamkan kedua mataku. Kenapa harus terpejam sih? Aku kan mau lihat roti sobek lagi!

__ADS_1


__ADS_2