
"Tyo! Kamu ngapain dia, huhh.!!" suaranya melengking semakin indah. Matanya tersorot kemarahan seorang ibu yang luar biasa.
Aku segera melepas pelukanku pada Lily dan pergi menjauh karena mama semakin mendekat masih dengan mengacungkan sandal, tidak, malah kali ini menunjuk-nunjuk sendal itu ke arahku. Gawat kalau sampai tercetak jelas di pipiku, hilang sudah ketampananku.
"Gak mah, enggak kok." aku berlari ke arah dapur mengelilingi meja makan, mama dari seberang sana masih tetap mengacungkan benda itu padaku, bersiap untuk melemparnya setelah lelah mengejarku.
*
Kami duduk di ruang tamu. Mendengarkan cerita mama. Bagaimana bisa Lily adalah Una, adik kecilku dulu. Ya ampun, takdir ku ternyata memang bukan terlahir untuk menjadi pasangan Lily. Benar apa yang dia bilang kami hanya adik-kakak, dan sekarang kami adik-kakak sungguhan!
Kesal, kecewa, dengan kenyataan yang ada, tapi juga bahagia karena dengan begitu aku tidak perlu lagi ragu atau malu untuk meluapkan rasa kasih sayangku, sebagai kakak!
Una, anak balita yang dulu ingin aku culik untuk ku bawa pulang, dan ternyata selama ini dia yang berhasil menculik hatiku. Takdir. Dasar Sial!!
Dan mama, sempat melongo karena mendengar cerita kami. Apalagi saat mendengar kami hampir berciuman saat aku mengajaknya makan malam. Lagi, mama sudah hampir akan mengambil sandalnya dari lantai. Dan Lily juga sama, dia sudah menyodok tulang rusuk ku dengan sikutnya. Sakit!
"Gak usah di ceritain juga kali!" bisiknya tapi tentu mama juga bisa mendengar Lily.
Ya ampun, dasar para wanita tukang tindas!
*
__ADS_1
"Lily gak tahu kalau mas Adit ternyata anak mama Puspa, tapi mama panggilnya Tyo!"
Kami sedang duduk di bangku taman di belakang rumah, menikmati suasana malam setelah selesai makan sepuluh menit yang lalu. Malam di Surabaya cerah dan terasa agak panas, dari saat terakhir aku kesini satu tahun yang lalu.
"Nama mas Adit kan Adityo Ramadhan." jelasku. Lily hanya manggut-manggut.
"Sekarang mas Adit harus panggil apa? Lily? atau Una?" tanyaku. Lily mengernyit berfikir.
"Terserah." ucapnya kemudian. Hening. Aku tau dia ingin berkata sesuatu terlihat dari tangannya yang tidak bisa diam memilin ujung dasternya.
"Bicara aja. Mas Adit dengerin kok!" ku lihat Lily menggigit bibir bawahnya, terlihat seksi, kalau saja dulu berhasil menciumnya walau sebentar saja... Ih, apaan sih? Dasar fiktor!
"Nyamuk." ucapku asal. Tidak mungkin kan aku bilang sedang mengenyahkan fikiran itu.
"Mas Adit kok bisa tahu Lily ada disini?" lirihnya.
"Gak sengaja lihat foto mama di sosmed." ucapku. Lalu mengeluarkan hp dari balik jaketku. Mata Lily tajam melihat ke arah layar hp, dan terbelalak saat melihat dia ada di salah satu foto yang di ambil mama tiga hari yang lalu. Mama mengambil gambar bunga mawar yang ada di tamannya, dan Lily yang sedang berjongkok dengan tangan berlumuran tanah. Apa dia gak sadar saat mama foto?
Tiba-tiba saja teringat sesuatu. Nama di atas kue ulangtahun Lily waktu itu.
"Mas Adit kenapa senyum-senyum sendiri?"
__ADS_1
"Inget waktu kamu kasih mas Adit kue ulang tahun?" Lily mengangguk. "Waktu itu mas Adit jadi inget nama Una adik mas Adit, dan mas fikir, nama Una gak cuma satu, gak nyangka ternyata memang dia. Memang adik mas Adit." ku elus puncak kepalanya seperti biasa. Tapi kali ini dia tidak protes seperti biasanya, sorot matanya redup meski ia mencoba tersenyum. Terselip ribuan kegundahan di dalam hatinya.
"Kamu gak mau cerita?" Lily menoleh ke arahku, lalu menggelengkan kepalanya.
"Enggak sekarang." kembali menunduk. "Mas gak bilang Lily ada disini kan?" meskipun Lily tidak jelas mengatakan pada siapa tapi aku sudah faham.
"Enggak. Belum!" ralatku.
"Jangan. Lily gak mau ada yang tau tempat Lily sekarang!" suaranya tercekat. Jangan sampai dia menangis lagi, ya Tuhan.
Terdengar sedikit merintih, Lily memegangi perutnya, membuat aku merasa panik. Apa Lily akan lahiran?
"Kenapa?" refleks aku mendekat.
"Sakit, geraknya kenceng banget!" ucapnya sambil mengelus perut buncitnya.
"Boleh?" seakan mengerti dengan pertanyaanku Lily mengangguk.
Rasanya hangat, menyenangkan, gerakan halus dari tanganku di sambut oleh si jabang bayi dengan gerakan lembut dari dalam. Aku tersenyum senang, mungkin bisa di bilang ini perasaan bahagia setiap lelaki yang akan menjadi ayah.
Bima, kamu akan sangat menyesal kalau kamu tahu keadaan Lily sekarang! Meskipun aku tahu sekarang keadaan kamu seperti apa, tapi itu hukuman untuk kamu karena sudah menyakiti hati seorang wanita!
__ADS_1