
"Na kapan kamu akan bangun? Besok aku akan pulang ke Jakarta. Aku cuma pengen kamu bangun dan denger kamu maafin aku." Bima menatap Lily, tak hentinya dia mengusap punggung tangan Lily.
Yumna sudah pulang sedari tadi di jemput oleh mama Puspa, karena Adit belum juga datang, membuat mama Puspa meradang karena lalai dengan tugasnya.
"Kalau kamu gak mau maafin aku, setidaknya kamu bangun dan denger aku bilang maaf ke kamu. Aku gak tahu lagi harus bagaimana Na. Una sayang..."ucap Bima akhirnya, "Aku masih sayang sama kamu. Tapi maaf aku harus ingkar lagi, gak bisa tepati janji ku lagi. Maaf."
Bima benar-benar sudah tidak tahan, dia menangis. Bima merasa sangat tidak berdaya dan juga tidak berguna. Kalau saja Celia tidak ada di dalam kehidupannya pastilah Bima akan berusaha untuk membuat Lily menerimanya kembali. Mungkin terdengar egois, tapi Bima benar-benar ingin menebus kesalahannya dengan membahagiakan Lily dan sang putri.
***
Celia berjalan dengan langkah tegas masuk ke dalam kamar perawatan Lily. Di wajahnya terlihat ekspresi yang datar.
"Sayang." Bima menoleh, merasa bersalah karena melihat raut wajah Celia yang terlihat kesal sekarang. Bima tahu kesalahannya. Harusnya dia segera pulang. Karena besok adalah hari pernikahannya.
"Cel. Kamu belum pulang? Aku kira kamu pulang kemarin."
__ADS_1
"Aku cuma mau pulang sama calon suami aku!" Celia merajuk, melipat kedua tangannya di depan dada. Bima mengelus lengan Celia yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kamu udah puas kan ngobrol sama dia?" Bima menghela nafas berat. Tidak pernah puas baginya selama ini, waktu begitu cepat berlalu dan ia menyesali itu.
"Cel, aku..."
"Kamu itu berubah ya Bim!"
"Berubah apa, Cel?"
"Semenjak kamu disini, kamu jadi cuek sama aku! Kamu gak cinta lagi sama aku, hahh?"
"Tapi gak berarti kamu bisa cuekin aku kan?"
"Aku udah baik ya sama kamu, udah ijinin kamu disini buat minta maaf sama Lily. Tapi kamu malah bikin aku sakit hati tahu gak? Kamu masih cinta sama dia?" teriak Celia.
__ADS_1
Bima menjadi merasa serba salah sekarang. Celia sudah marah, dan itu pertanda tidak baik! kalau saja nasib perusahaan tidak berada di bawah kuasa keluarganya Bima pasti tidak akan sebingung ini.
"Cel, jangan marah disini. Gak baik.
Celia menghela nafas berat. "Terserah!" kemudian berlalu meninggalkan Bima.
Bima tidak bisa diam saja kali ini. Dia mengikuti Celia keluar ruangan.
"Cel tunggu. Aku minta maaf!" Celia berhenti saat Bima mencekal tangannya. "Aku minta maaf. Iya kita pulang siang ini." ucap Bima akhirnya membuat Celia menyunggingkan senyum.
Celia mendekatkan dirinya pada Bima dan melingkarkan tangannya di pinggang Bima. Kepalanya ia sandarkan pada dada Bima dan mendengarkan irama jantung pria itu.
"Aku maafin kamu!"
Bima membalas pelukan Celia, tapi pandangannya tak henti terarah pada pintu kamar Lily. Bima merasa bersalah pada keduanya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Di satu sisi ia ingin menunggu hingga Lily membuka mata, tapi di sisi lain memikirkan keadaan banyak orang yang menjadi tanggung jawabnya. Sampai ia lupa dengan perasaan Celia.
__ADS_1
Semua sangat rumit.
"Maafkan aku, Una. Aku gak bisa berbuat apa-apa lagi. Semoga kamu bisa maafin kesalahan aku."