Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 161


__ADS_3

Aku kembali ke dalam mobil. Lebih baik aku pulang ke hotel. Siang ini aku harus ke restoran milik papa. Tidak mungkin kesana dalam keadaan pakaian yang basah.


resto is clear. Semua masalah bisa aku selesaikan dengan baik. Aku kembali ke hotel untuk beristirahat. Rasanya lelah sekali. Meskipun hari ini lebih banyak pergi daripada bekerja tapi rasanya lelah. Apalagi penyemangat dalam hidupku tidak ada lagi.


Ke esokan harinya. Untuk yang kedua kalinya aku memandang rumah ini. Tersenyum sendiri saat mengingat Una duduk di atas ayunan dan aku yang mengayunkannya dari belakang dengan kencang hingga ia menangis karena ketakutan, dan berakhir dengan jeweran mama di telingaku karena membuat Una menangis. Lalu bayangan saat dimana Una menangis di atas pohon mangga karena tidak bisa turun. Aneh, bisa naik tapi takut turun. Dan akhirnya aku juga yang di marahi mama karena tidak bisa menjaga Una dengan baik.


Mama sangat sayang sama Una, bahkan aku sampai merasa kalau lebih baik bertukar tempat saja dengan dia!


Pemikiran polosku waktu itu.


Aku juga ingat saat akan pergi ke Surabaya. Menunggunya di depan rumah sambil terus menatap jendela kamarnya. Berharap dia mau turun. Aku ingin memberikan gelang yang sudah buat dengan susah payah. Aku belajar dari salah satu teman wanitaku di sekolah. Saat itu sedang tren membuat gelang dari benang wol warna-warni. Tapi aku membuat hanya dua warna. Warna kesukaan kami. Biru laut dan pink. Tidak lupa aku mencari sesuatu untuk menghiasi gelang tersebut di pasar, dengan susah payah berputar di dalam pasar tradisional untuk mencari penjual asesoris. Huruf U dan gambar kucing. Hewan kesukaan Una.


Ya ampun. Waktu itu hatiku rasanya sakit sekali, berat untuk meninggalkan dia. Kenapa harus pergi sih? Menunggu dengan sangat lama hingga akhirnya mama memanggilku dari dalam mobil. Aku menyerah. Dan berjalan ke arah mobil yang baru saja di nyalakan. Aku membuka pintu mobil hendak masuk tapi dia memanggilku dan berlari ke arahku, menyerahkan origami pink berbentuk burung yang ternyata berhasil dia buat.


Dia melepas kepergianku dengan senyuman, tapi aku tahu dia menahan tangisannya. Sebelum mobil berbelok ke arah jalan raya ku lihat dia memeluk ibunya dengan erat.

__ADS_1


Apa mungkin karena janji itu aku tidak bisa melupakan Una?


Mobil berjalan beberapa ratus meter dan berhenti tepat di rumah sederhana dengan gaya kuno. Taman dan gazebo menghiasi bagian depan. Sangat terawat.


Mobil aku parkirkan. Seorang perempuan muda yang sedang menyapu halaman menghentikan aktifitasnya. Menoleh heran padaku lalu mendekat, setelah aku turun dari mobil.


"Cari siapa ya?" dia bertanya dengan masih memegang sapu lidi di tangannya.


"Tari ya?" dia mengangguk heran.


"Paman ada?" keningnya berkerut bingung. Tentu saja karena di daerah sini ayahnya di kenal dengan sebutan pakdhe.


"Nak Bimbim! Masuk le. Kok di luar!" sambut budhe Nani.


Kami masuk ke dalam duduk di ruang tamu yang sederhana dan tidak berubah sedari dulu.

__ADS_1


"Tari, kok mas Bimbim gak di suruh ke dalam sih nduk." Tari yang baru saja masuk dan menyimpan beberapa gelas teh di hadapanku terlihat bingung.


"Ini loh, mas Bima yang dulu kesini cari mbak Una. Eh tapi kamu dulu masih sd apa ya masih inget?!" ucap Budhe lagi. Sedangkan sang anak yang diingatkan hanya tersenyum malu. Pastilah dia lupa!


Kami berbincang santai saling menanyakan kabar masing-masing termasuk bertanya kenapa tidak membawa istriku kesini, dan ku katakan Dena sudah meninggal empat bulan yang lalu. Mereka turut simpati. Lalu beralih pada soal pekerjaan bagaimana perkembangan bisnis yang kami jalani. Walaupun usaha pakdhe sederhana tapi nyatanya cukup maju di bidang kuliner dan oleh-oleh di jogja. Beliau punya beberapa toko pusat oleh-oleh yang cukup di kenal di daerah sini. Tapi penampilan pakdhe sekeluarga selalu dengan kesederhanaannya hingga tidak menyangka kalau beliau adalah pengusaha.


Sudah hampir dua jam kami berbincang.


"Budhe, saya permisi ikut ke belakang dulu. Boleh?" tanyaku.


"Yo mesti boleh to le. Monggo sekalian budhe mau masak. Kita makan siang sama-sama ya!" ucapnya.


"Gak usah repot, budhe." ucapku tidak enak.


"Gak repot kok. Pak ambilin ikan mas di kolam pak!" titah budhe pada sang suami yang segera di jawab anggukan.

__ADS_1


Kami pergi ke belakang bersama. Aku ke kamar mandi. Budhe ke dapur. Sedangkan pakdhe ke belakang rumah.


Setelah keluar dari kamar mandi aku kembali ke ruang tamu, tapi langkah kaki ku terhenti saat melihat sebuah foto yang menempel di dinding. Mata ku membulat dada ku bergemuruh hebat. Ku pandangi foto dengan lima orang di dalamnya. Dan melihat dengan lekat ke arah sosok gadis dengan gaun putih yang menjadi perhatian ku. Benarkah ini?


__ADS_2