Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 57


__ADS_3

Aku kembali ke kamarku di lantai bawah. Membuka jendela hingga membuat angin malam masuk ke dalam kamar, membiarkan angin itu bersemilir melewati kulitku yang tidak terbungkus baju. Aku memang tidak nyaman jika tidur memakai baju. Rasanya sesak. Panas.


Teringat akan origami yang tadi ada di kamar Lily. Kemudian tersenyum sendiri.


***


Rasanya perutku sakit. Bukan artian sakit yang sesungguhnya. Hanya sedikit ngilu. Apakah karena mie semalam? Ah ya ampun. Sudah tiga kali ini aku ke toilet padahal ini masih kurang dari jam enam. Aku memang tidak bisa makan mie sepuasnya sedari kecil, katanya aku alergi zat pengawet dari mie instan. Padahal semalam aku sudah mengganti air rebusannya dengan yang baru. Ah ya ampun.


Aku pergi ke dapur mencari kotak obat. Untunglah ada obat yang aku butuhkan disana. Makan sedikit roti lalu meminum obat dengan cara di masukan ke dalam roti lalu menelannya dengan bantuan air minum. Memalukan bukan! Tapi aku tidak bisa jika tidak dengan cara seperti itu!


Sebenarnya aku masih mengantuk, semalam setelah turun dari kamar Lily aku membersihkan dapur. Mengumpulkan pecahan beling, dan mengepelnya hingga bersih. Rasanya sulit sekali mengingat aku tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Tugas rumah selalu ada yang mengerjakan. Entah itu asisten atau Dena secara langsung. Melelahkan sekali. Sepertinya aku harus lebih sering membantu saat Dena turun tangan membersihkan rumah. Dan malam tadi terpaksa karena asisten akan datang besok. Lily mungkin saja kakinya masih sakit. Tidak mungkin kan membiarkan kekacauan ini dan menunggu sampai besok. Iuhhh!


Ku lihat Lily turun dengan masih tertatih. Perlahan mendekat ke arah dapur.


"Mas lapar?"


"Aku cuma cari obat. Gimana luka kamu?" Dia tersenyum.

__ADS_1


"Udah gak pa-pa. Udah enakan koq!" serunya, tapi masih bisa ku lihat sedikit memerah.


"Mas mandi saja dulu. Aku mau siapkan makanan." ucapnya sembari mendekat ke meja dapur.


"Delivery aja." titahku.


"Lama mas. Lagian jam segini pasti dimana-mana macet."


Benar juga.


Lily masih tetap kekeuh ingin memasak, tapi aku mengangkat tubuhnya hingga ia berteriak kaget. Aku mendudukannya di atas kursi, lalu berjongkok melihat luka di kakinya. Masih sedikit merah disana. Kembali aku oles luka itu dengan salep seperti semalam.


"Masih sakit ya?"


"Enggak, koq. Enggak." elaknya. Tapi aku tahu itu masih sakit karena aku juga pernah mengalaminya.


"Hari ini gak usah ke kantor." ucapku tegas.

__ADS_1


"Tapi hari ini ada meeting."


"Bisa aku kerjakan sendiri."


"Tapi..." dia tetap membantah.


"Tidak ada tapi-tapi. Percuma juga ke kantor kalau kamu tidak bisa bergerak leluasa. Sedangkan pekerjaan kantor sangat banyak."


"Justru itu aku mau kerja mas."


"Bekerja saja dari rumah. Aku akan kirim pekerjaan lewat email. Ngerti?!"


"Iya." ucap Lily pasrah membuatku tersenyum senang.


"Good girl." ucapku seraya mengacak rambut basahnya.


Aku mulai memecahkan beberapa telur dan menggorengnya, sedangkan Lily ku biarkan dia menjadi penonton untuk hari ini. Ingat, hanya untuk hari ini!

__ADS_1


Telur sudah matang. Lily hanya melihatnya seperti tanpa minat. Telur yang harusnya cantik kini berwarna hitam dimana-mana. Roti panggang juga sama, sepertinya tidak layak untuk di makan. Ya ampun aku lebih baik di hadapkan dengan tumpukan berkas daripada bahan masakan. Aku kira gampang, ternyata...


__ADS_2