Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 228


__ADS_3

Lily menunda bulan madu hingga tamunya benar-benar sudah pergi. Dengan segala pertimbangan Yumna tidak ikut karena alasan cuaca dan jarak antara Indonesia-Prancis yang cukup jauh. Selain itu juga faktor makanan yang menjadi bahan pertimbangan lainnya.


Ratih membujuk Yumna akan mengajaknyan ke Sea World untuk melihat pertunjukan ikan duyung. Dan Yumna sangat antusias dengan ajakan sang nenek.


"Mas, masa Yumna gak ikut sih!" Lily sedang membereskan pakaiannya ke dalam koper.


"Ya mau bagaimana lagi. Disana sedang turun salju. Kasihan kalau Yumna ikut." Bima sedang memantau pekerjaan dari gadgetnya.


"Apa kita gak jadi berangkat?" tanya Bima.


"Papa pasti akan kecewa."


"Kalau kamu gak mau berangkat kita batalkan saja." Bima menatap Lily.


Lily menimbang-nimbang sebentar. Adi sudah mengurus bulan madu mereka jauh hari sebelum pernikahan dengan wajah yang berbinar, tapi wajah sedih Yumna...


"Mamaa..." Yumna berteriak sambil menghambur ke dalam pelukannya.


"Ma Lihat. Yumna bawa boneka putrrlliiii duyung." ucap Yumna dengan susah payah menyebut huruf R.


"Wah cantik sekali bonekanya!" Lily mengangkat Yumna ke atas pangkuan.


"Nenek bilang besok mau lihat putrrlli duyung berenang ma." ucapnya dengan sangat antusias. Tangannya tidak bisa diam sedari tadi memainkan boneka putri duyung di pangkuannya.


Lily menatap Bima, lalu beralih pada putrinya.


"Umm, Yumna mau ikut mama atau nenek?" Tanya Lily melirik Yumna sebentar.


"Umm..." Yumna berfikir sebentar bola matanya ke atas dengan telunjuk di dagunya.

__ADS_1


"Ikut mama apa nenek ya...!" ucapnya sambil mengetuk-ngetuk dagunya seraya berfikir. Lily menahan nafas. Apapun keputusan Yumna maka itu yang akan Lily ambil.


"Ikut nenek aja! Yuma mau lihat putrrllii duyung!"


"Benar ikut nenek?" Tanya Lily memastikan.


"Umm." Yumna mengangguk mantap.


"Gak akan nangis cari mama sama papa?"


"Kan bisa vidio kol!" ucap pemilik bibir mungil itu polos. Bima tersenyum mendengar jawaban Yumna.


Anak papa memang pintar. Bima bersorak ria di dalam hatinya.


Bima mengambil minum yang ada di atas nakas.


"Gak akan. Ih mama! Yuma kan udah besar ma! Lagian kan nenek bilang kalau mama pulang darrlli liburrllan mama akan bawa dedek bayi! Yuma mau dedek bayi. Kayak dedek Ali ya ma." Yumna menyebut satu nama bayi cucu dari teman sang nenek yang sering bertemu dengan Yumna.


Burrr!!!


Uhukk-uhukk!!


Bima tersedak karena mendengar celotehan Yumna. Air dari mulutnya menyembur membasahi kakinya. Tenggorokannya sakit.


"Ih papa! Tangan Yuma basah!" prote Yumna yang terkena semprotan air dari mulut Bima.


Yumna mendengus kesal dan mengelap tangan mungilnya dengan selimut yang ada di dekat kaki Bima.


"Yumna mau dedek bayi?" tanya Bima. Lalu menyimpan gelas di atas nakas.

__ADS_1


"Iya pa. sama kayak dedek Ali."


"Kalau gak sama kayak dedek Ali gimana? rambutnya panjang kayak Yumna, Yumna mau?"


"Umm..." kembali mengambil sikap berfikir.


"Gak papa deh! Yang kayak dedek Keysha!"


"Dedek Keysha? Siapa?" tanya Bima lagi. Bima memang tidak tahu menahu dengan nama yang di sebutkan Yumna.


"Ihh papa. Masa gak tahu dedek Keysha?!" kata Yumna lalu turun dari pangkuan Lily, menatap Bima yang hanya tersenyum bersalah.


"Dedek Keysha itu dedek bayinya tante Aura! Adeknya Firman!!" seru Yumna sambil melotot menjelaskan.


"Iihhh papa gak asikk!!" Yumna menghentakan kakinya lalu pergi dari kamar itu.


Bima dan Yumna sama-sama melongo melihat sikap putri mereka.


"Itu beneran Yumna?" tanya Bima.


"He-em!" Lily mengangguk.


"Dia udah besar!" ucap Bima diiringi tawa, lalu mengubur Lily ke dalam pelukannya.


"Ayo kita buat Bily Junior!" ucap Bima. Lily menggeleng.


"Kita harus berangkat penerbangan paling pagi." ucap Lily.


"Yaaahhhh...!!"

__ADS_1


__ADS_2