
Lily tersenyum geli. Ingat dengan kejadian tadi siang, Bima merasa kesal karena Lily terus menggodanya.
"Udah deh, yang! Namanya juga ngidam! Aku juga gak tahu kenapa pengen banget makanan itu!" ucap Bima sambil mengelus perut Lily. Lily duduk bersandar di kepala ranjang sedangkan Bima di sebelahnya.
"Nakal kamu ya! Kalau pengen apa-apa jangan yang jauh, jangan yang susah." ucap Bima mendekatkan dirinya pada perut Lily seakan mengajak si calon jabang bayi berbicara. Lily hanya terkikik pelan.
"Kamu emang pengen banget ya tadi?" tanya Lily. Bima mengangguk.
"He-em. Banget!" ucap Bima. "Rasanya tuh kayak udah lumer di mulut gitu." ucap Bima mendeskripsikan.
"Udah tahu!"
"Kamu juga ngidam sekarang?" tanya Bima mengangkat kepalanya.
"Enggak, dulu waktu hamil Yumna! Kalau gak keturutan tuh rasanya pengen nangis." ucap Lily. Bima setuju, karena memang seperti itu rasanya.
Bima kembali beralih pada perut Lily. "Papa janji, apapun akan papa lakuin buat kamu. Asal jangan yang aneh-aneh aja." ucap Bima. Lily mengelus kepala Bima sayang.
"Tidur yuk!" ucap Lily lalu menurunkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ayuk. Olah raga malam?" tanya Bima semangat. Lily menggeleng.
"Maaf mas, aku malah mual kalau kita...itu!" ucap Lily merasa bersalah. Bima mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, tapi ini ya! Boleh?" tanya Bima sambil meremas salah satu gundukan kembar milik Lily. Lily mengangguk. Bima merasa senang lalu membuka semua kancing baju Lily.
"Jangan semuanya juga dong, mas. Kan yang dipakai cuma yang atas aja!" protes Lily.
"Enakan di buka semua!" ucap Bima lalu dengan cepat mendominasi bagian depan Lily dengan mulutnya. Lily mendesah pelan dengan permainan Bima.
Semenjak kehamilan ini Lily selalu merasa mual jika memaksakan berhubungan ranjang dengan Bima. Lily merasa kasihan pada Bima, tapi Bima juga tidak mau memaksakan kehendaknya dan tidak mau melihat Lily kesakitan karena harus muntah di kamar mandi.
Usia kandungan Lily sudah masuk bulan ke lima. Kandungan Lily sehat dan tumbuh dengan baik. Semua orang senang. Perutnya juga sudah mulai terlihat sedikit membuncit. Yumna dan Bima seringkali berebut hanya untuk sekedar mengelus perut itu.
Celia sering berkunjung ke rumah Lily, kandungan mereka berbeda dua bulan. Bedanya Celia masih saja merasakan mengidam tapi tidak separah dulu. Sedangkan di kehamilan Lily, Bima sudah tidak merasakan morning sick lagi. Nafsu makan Bima juga sudah berangsur normal.
Celia senang berjalan-jalan dari pada di rumah. Lily malah sebaliknya sangat betah diam di rumah.
Pagi ini Celia sudah berada di rumah Lily di antar oleh Adit. Lily dan Celia sedang berada di dapur, Celia sangat ingin belajar membuat kue pada Lily.
__ADS_1
"Gue titip Celia ya." ucap Adit pada Bima.
"Mau kemana lo?"
"Anak gue pengen sate."
"Jam segini? Emang ada?" tanya Bima. Adit mengangkat bahunya.
"Gak tahu gue harus cari kemana. Udah di bujuk masih gak mau dengerin!" ucap Adit lesu.
"Sabar!" Bima mengelus pundak Adit.
"Ya udah sana cari! Sekalian juga ya gue beliin. Dua bungkus." Bima mengangkat dua jarinya ke atas.
"Kamvret lo. Kirain gue mau bantuin gue!"
"Hehe. Panas di luar. Gue lagi malas keluar!" Adit memutar bola mata malas. Lalu beranjak pergi.
Kemana mau cari coba sate di jam segini?monolog Adit kesal saat melihat jam baru menunjuk angka sembilan. Kalau jam makan siang sih masih oke di cari. Ini jam sembilan di mana Adit mau cari?
__ADS_1