
Setelah makan malam, Ameera berbaring di kamarnya, menatap ke langit-langit kamar. Tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi siang. Lalu merasa kesal saat Arkhan menyadarkan bahwa dia bukan siapa-siapa.
Hufftt sebenarnya kamu itu kenapa? Kalau kamu gak suka sama aku setidaknya jangan kasih perhatian buat aku. Jangan bikin aku baper. Jangan bikin aku bingung, jangan bikin aku sedih. Jangan bikin aku mengharap...
Ameera memeluk boneka yang sudah mulai lusuh warnanya. Boneka singa berwarna coklat berukuran cukup besar, tapi masih nyaman di peluk. Setidaknya nyaman dan bahagia jika kembali mengingat siapa yang memberikannya dulu.
"Kamu itu nyebelin!" tunjuk Ameera tepat di hidung boneka singa di pelukannya.
"Tadi kamu bilang cemburu. Lalu kamu menyangkal. Kamu gendong aku mengingatkan aku dengan masa lalu. Padahal aku sudah hampir lupa." Racau Ameera tidak jelas. Masih menunjuk hidung boneka singanya.
"Boleh tidak, aku jujur sama kamu? Aku suka sama kamu, tapi kamu selalu cuek. Kamu cuma anggap aku sahabat Syifa. Kapan kamu anggap aku orang lain?" Ameera semakin tidak jelas dengan hatinya.
"Sudah lah, aku capek!" Melempar boneka itu lalu berbalik memunggunginya. Dua detik kemudian kembali membalikkan tubuhnya dan meraih boneka singa itu.
"I Love You. Tidur yang nyenyak!" Ameera tersipu malu saat mengatakannya lalu menenggelamkan wajahnya di antara bulu-bulu coklat boneka itu.
Boneka itu pemberian Arkhan saat Ameera ulang tahun yang ke sepuluh. Arkhan bilang membeli boneka itu karena mirip sama Ameera. Rambut Ameera yang mengembang lebat saat itu seperti rambut singa, dan Ameera juga galak seperti singa.
Ameera tersenyum, dia sadar sikapnya selama ini yang selalu jutek pada Arkhan karena ingin menutupi perasaan sukanya.
"Cinta itu rumit. Tolong!" lirih Ameera merasakan detak jantungnya yang tak beraturan. Ameera terus saja tersenyum dan merengut, begitu seterusnya hingga dia tertidur.
"Pagi bu, ayah, Rama!" sapa Ameera pada ketiganya saat di meja makan. Ameera sudah siap dengan pakaian olahraganya.
"Pagi." jawab ketiganya dengan serentak.
"Taman ya kak?" tanya Rama.
"Iya, mau ikut?" Ameera mendudukan dirinya di kursi lalu mengambil roti dan mengoleskan selai.
__ADS_1
"Gak ah. Mau maen game sama ayah." jawab Rama santai.
"Hari libur itu buat olah raga bukan maen game!" Ameera memasukkan roti ke dalam mulutnya.
"Maen game juga olah raga kali kak. Olahraga jempol! haha."
Seperti biasa sarapan di rumah keluarga Ameera selalu diiringi dengan canda tawa. Santi bersyukur meskipun mereka bukan dari rahim yang sama tapi keduanya selalu rukun.
Ameera pergi dengan memakai bis menuju taman. Dia sudah janjian dengan Syifa disana.
Ameera sudah sangat hafal dengan Syifa dia pasti akan sampai disini setelah satu jam dirinya berlari. Sekuat apapun Ameera mempengaruhi Syifa untuk olahraga, Syifa nyatanya terlalu pemalas menggerakkan otot tubuhnya untuk berolah raga.
Ameera memasang headset nya lalu menyetel lagu sebagai teman dan penyemangat.
Setelah melakukan pemanasan, Ameera mulai berlari, dua putaran belum cukup baginya. Keringat yang bercucuran sudah tidak di pedulikan. Beberapa pemuda melirik padanya, tersenyum, terkadang dengan sengaja menggoda. Lalu dengan cepat mereka mengalihkan pandangannya, senyum yang tadinya mengembang, sirna seketika berganti dengan wajah takut, membuat Ameera merasa heran. Lalu Ameera berusaha tidak mempedulikannya dan meneruskan larinya.
Ameera berhenti. Membungkuk dengan tangan yang bertumpu pada lutut. Keringat terus bercucuran dari wajahnya. Syifa belum juga sampai.
Pantesan, gak sadar pake headset... Arkhan.
"Ngapain kamu disini?" tanya Ameera.
"Mau minum gak? Kalau gak mau aku habisin nih." Ameera merebut botol air itu dengan kasar. Tidak bisa di pungkiri kalau dia juga sangat haus. Ini sudah lewat satu jam tapi yang di tunggu belum datang juga.
"Syifa mana?" tanya Ameera lalu membuang botol kosong itu ke tempat sampah.
"Gak tahu. Tadi sih ada." Arkhan mengedarkan pandangannya ke segala tempat tapi yang di cari tidak tahu kemana.
"Azkhan?" Arkhan mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Lagi cuci mata kali!" tunjuknya pada sosok yang baru saja ia temukan di kejauhan sana. Dan juga Syifa yang sedang mengantri di tenda makanan.
"Ish dasar Syifa! Di tungguin dari tadi juga, malah lagi ngantri jajan!" dengus Ameera kesal.
Arkhan berjongkok di depan Ameera membuat Ameera terkesiap dan mundur satu langkah.
Arkhan menyimpulkan tali sepatu Ameera yang terlepas, membuat Ameera berdiri diam mematung. Tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Sudah!" ucap Arkhan lalu berdiri.
"Ya sudah aku mau lanjut lagi. Mau ikut atau mau sama Syifa?" Tanya Arkhan dengan senyuman manisnya.
Ameera takut akan pingsan. Jantungnya sudah berlompatan seperti kelinci.
"Aku... sama... Syifa aja."
Tanpa bertanya lagi Arkhan melambaikan tangannya dengan gaya cool meninggalkan Ameera yang membeku.
Ameera terus memperhatikan Arkhan yang mendekati adiknya.
Tak lama Syifa datang dengan kantong plastik berisi beberapa makanan. Syifa dengan santainya makan sambil berjalan menghampiri Ameera yang masih memperhatikan adik kembarnya.
"Ra, mau gak?" tanya Syifa menyodorkan makanan pada Ameera. Tanpa ia sadar siapa yang di tatap Ameera.
"Ish, elu di tunggu dari tadi malah nongol bawa jajanan." Ujar Ameera kesal. Syifa hanya menyengir ria sambil kembali memasukkan bakso bakar ke mulutnya.
Ameera merebut kantong plastik di tangan Syifa lalu berlari menjauh. Syifa yang tidak terima makanannya di bawa kabur, mengejar Ameera sambil berteriak.
"Meera, makanan gue!" teriak Syifa.
__ADS_1
Arkhan tersenyum melihat Ameera dan Syifa yang berlari berkejaran. Dia tersenyum geli mengingat dirinya tidak tahu kenapa mengikuti Ameera berlari di belakangnya. Ameera yang terlalu fokus dengan berlarinya sampai tidak sadar jika Arkhan mengikutinya sedari tadi.
Arkhan tidak suka saat ada pemuda lain yang tersenyum dan dengan terang-terang menggoda Ameera. Hatinya merasa panas. Maka sedari tadi Arkhan terus memelototi para pemuda lain yang menatap Ameera.