
Hatiku rasanya sakit. Bukan karena Adit bilang mengagumi kecantikan gadis itu, tapi karena Una mempertahankan gelang ini dan tidak mempedulikan nyawanya. Apa Una masih tidak bisa berenang? Bukankah aku sudah bilang padanya untuk terus belajar berenang tanpa harus takut?
"Mereka bawa cewek itu, tapi gelangnya jatuh di pasir."
"Sampai saat ini, gue gak bisa lupain dia. Gue rasa dia cinta pertama gue. Maksudnya yang bener-bener, karena yang sebelum gue ketemu dia mereka cuma cinta monyet gue." ucap Adit membela diri.
"Sampe sekarang gue gak bisa move on, sampe akhirnya hati gue teralihkan sama kehadiran Lily."
Cihh dasar playboy!
"Gak bisa move on, tapi pacar elo banyak banget." ejek ku.
"Sumpah." ucapnya dengan jari tengah dan telunjuk yang terangkat ke atas.
__ADS_1
"Si Dita yang hampir buat elo mati bunuh diri?"
"Trus si Amira, istri orang bikin elo tergila-gila itu?" Aku kembali mengingatkan dengan beberapa mantan tercintanya yang sempat membuat Adit frustasi saat itu.
"Gue cuma akting!"
"Elo tahu si Dita itu cuma manfaatin gue, di belakang gue dia selingkuh. Gue cuma mau balas dendam sama dia, gue bilang mau nikahin dia, kalau dia nolak gue akan bunuh diri semua itu akan jadi berita yang bikin gempar se-Indonesia, kalau matinya gue itu karena dia, semua aset buat dia, asalkan dia tinggalin selingkuhannya. Dia nurut karena tergiur dengan yang gue tawarkan. Dan gue putusin dia saat dia juga udah putus sama pacarnya. Gue puas. Dia balik lagi ke kehidupannya yang biasa karena gak dapetin salah satu dari kita."
Aku manggut manggut mendengar cerita Adit. Benar atau tidaknya entahlah. Tapi aku harap terlepas dari masa lalunya yang rumit dia bisa serius membahagiakan Lily. Eh... Hatiku kembali sakit!
"Kapan elo ketemu gadis ini?" tunjukku pada gelang yang ku pegang.
"Kalo gak salah sih. Udah lama banget juga. Tujuh tahun ada lah!" ucapnya lalu bangkit mendekat ke arahku dan merebut gelang itu dariku, melihatnya di tagannya sendiri lalu tersenyum. Aku merasa hampa saat gelang itu di rebutnya.
__ADS_1
"Gue pulang deh!" ucapku kemudian berlalu.
"Hei katanya mau nginep!" teriaknya dari belakang, sepertinya mengikutiku, karena terdengar langkah kasarnya di belakangku.
"Gak jadi!"
"Elo gak mau tanggung jawab. Udah bangunin gue, sekarang gue udah melek malah elo tinggal! Kampret lo!" cecarnya. Tapi aku tidak peduli sekarang. Meninggalkan Adit dengan suaranya yang menghilang bersamaan dengan pintu unitnya yang tertutup.
Kenapa semua begitu rumit? Una. Adit. Lily! Astaga takdir apa ini? Adit mencintai orang yang sama denganku baik itu Una dan Lily!
Aku terus melajukan kendaraanku. Entah kemana akan ku lajukan sekarang. Aku benar-benar merasa tidak karuan. Apa lagi Adit adalah sahabatku. Walaupun kami sering berselisih faham tapi aku juga punya rasa kemanusiaan. Aku tidak mau mematahkan hatinya kalau tahu dia adalah Una yang aku cari.
Tapi tidak, ke tiga sahabatku tidak pernah tahu tentang Una. Karena aku fikir mereka juga tidak perlu tahu semua tentang aku kan? Aku tidak mau di sebut gila karena terus memikirkan Una si gadis kecil. Maka dari itu mereka tidak tahu apapun selain dari yang mereka lihat dariku!
__ADS_1