Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 118


__ADS_3

"Na, kenapa bayangan itu terus muncul?" Dena terdiam, sambil mengelus kepala Bima yang berada di atas pahanya. Tatapan mereka sama-sama kosong, tapi mereka masih bisa saling bicara dengan sangat baik.


Bima membalikan dirinya menatap wajah Dena dari bawah. Mereka saling berpandangan. Dena tersenyum membuat Bima juga ikut tersenyum.


"Maaf, ya. Aku udah nyakitin kamu. Besok antar aku menemui Rio, hem?" Dena mengangguk tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.


"Na?"


"Ya?"


"Di laci ada obat banyak, itu obat apa?" Dena terkejut, tapi segera menutupi kegugupannya.


"Vitamin, mas. Obat penambah darah sama obat tidur juga." ucap Dena. Dadanya berdetak kencang karena lagi-lagi berbohong.


"Kamu sakit?"


"Enggak, kata dokter cuma kecapekan aja."


***


Malam ini waktunya Bima untuk pulang ke rumah Lily. Rasanya berat sekali mengingat apa yang di katakan oleh Rio, psikiater yang juga teman baik Bima."Jangan pernah menyangkal tentang perasaan di hatimu. Nikmati saja alurnya!" Jadi apa maksudnya? Bima masih bingung tapi dia hanya menurut dan tetap melakukan perannya. Rio bilang Bima harus mencari tahu apa yang terjadi pada hatinya.


"Mas, kamu udah baikan?" tanya Lily saat melihat Bima ke dapur untuk memgambil minum. Setelah kejadian kemarin Bima pulang, dan hari ini dia sama sekali tidak bekerja. Lily kira Bima tidak akan datang kesini.

__ADS_1


"Aku gak pa-pa." ucap Bima lalu menyimpan gelas di wastafel dan melangkah keluar dari dapur, tapi tiga detik kemudian dia kembali dan menuju wastafel. Lily memperhatikan Bima dengan heran saat Bima mulai menyalakan air kran.


"Biar Lily yang cuci, mas!" Lily beranjak dari kursinya saat melihat Bima sudah mengambil spons dan sabun cuci piring.


"Sudah. Aku juga bisa. Memangnya cuma Adit yang bisa cuci piring!" Terdengar nada tidak suka dari Bima, tapi sedetik kemudian aktifitasnya terhenti karena gelas yang di pegangnya terjatuh dan menggelinding ke tepi wastafel.


Prang!!!


Lily terkejut dan refleks dia mendekat lalu berjongkok untuk mengambil pecahan gelas yang berserakan di lantai.


"Awas mas, jangan sampai ke injek!" seru Lily. Bima memperhatikan langkahnya lalu mulai mundur.


"Aww." jari tangan Lily berdarah saat tidak sengaja memegang bagian tajam dari pecahan gelas tersebut. Bima segera mendekat dan mengambil tangan Lily lalu menghisap darah yang keluar dari jari tangan Lily. Lily hanya menatap Bima dengan tatapan yang penuh arti.


Lily mengambil sapu dan membereskan kekacauan yang Bima buat.


"Maaf." ucap Bima yang masih berdiri di tempatnya. Lily tersenyum.


"Gak pa-pa." lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


Bima dan Lily sama-sama tidak bisa tidur di kamarnya masing-masing. Mereka bertarung dalam pemikiran mereka sendiri.


Bima memutuskan untuk ke ruang tv. Menggeserkan meja dan menggelar kasur tipis di lantai. Menyalakan tv dengan suara pelan. Film tengah malam menemani detik demi detik waktunya.

__ADS_1


Lily terdiam di tengah tangga saat akan turun untuk mengambil air. Melihat Tv menyala dan Bima yang sedang duduk di bawah kursi, mengganti chanel di tv dengan acak. Lily meneruskan langkahnya menuju dapur. Membuat dua hot choco untuk dirinya dan Bima. Semoga saja dengan coklat panas dia bisa segera menjemput tidurnya.


Bima menoleh saat Lily meletakan coklat panas di atas meja yang sudah ia geser.


"Mau kemana?" tanya Bima saat Lily hendak melangkah.


"Ke kamar." Bima menepuk tempat di sebelahnya. Lily terdiam masih dengan cangkir coklat panas di tangannya. Sekali lagi Bima menepuk kasur tipis di bawahnya.


Lily menurut dia duduk di samping Bima agak jauh.


Bima menggeser duduknya mendekat ke arah Lily, hingga lengan mereka saling menempel. Hampir saja membuat Lily menumpahkan coklat di tangannya karena gugup. Dadanya berdebar keras.


Bima menyandarkan kepalanya di bahu Lily. Lily terdiam mematung. Dadanya semakin berdetak cepat dan tidak karuan.


"Gak bisa tidur." ucap Bima tiba-tiba. "Temenin ya. Aku takut." lirih Bima.


Apa mungkin karena Lily menakutinya malam itu? Lily jadi merasa bersalah. Ia menyimpan cangkir coklatnya di meja kecil di samping sofa tepat di dekat lampu hias.


"Maaf, soal yang waktu itu. Lily gak akan nakutin-nakutin mas Bima lagi." sesalnya. Bima tersenyum lirih.


"Bukan karena itu." Lily mengernyit tidak mengerti. "Tapi karena seorang gadis kecil..." Bima menghentikan perkataannya. "Sudahlah!" ucap Bima akhirnya.


Mereka berdua terdiam. Tidak ada yang ingin bicara. Hingga film berakhir. Lily baru sadar kalau ternyata Bima sudah tertidur. Suara dengkurannya terdengar halus. Nafasnya teratur. Lily tidak berani bergerak karena tidak mau mengganggu tidur Bima. Wajahnya damai dengan sedikit gurat hitam di bawah matanya. Pastilah Bima ketakutan dan tidak bisa tidur nyenyak dari kemarin.

__ADS_1


__ADS_2