
Saat Cinta dan Taufiq selesai sholat ia melihat salah satu anaknya Wil mimisan, tubuhnya sangat panas dan ia menggigil kedinginan. Beberapa hari terakhir ini Will emang tidak terlalu selera makan tapi Cinta berfikir mungkin itu karena Will senang bermain sehingga ia memilih untuk main dari pada makan. Beda dengan Pram dan Jay yang nafsu makannya makin hari makin bertambah. Will juga badanya lebih kurus dari pada beberapa hari yang lalu, Cinta sudah membelikan obat penafsu makan tapi tetep saja berat badannya Will semakin merosot dan sekarang ia demam tinggi di sertai mimisan.
"Bu, Will pusing." Ucap Will sambil memegang kepalanya.
"Iya sayng, kita ke dokter ya sekarang." Ujar Cinta panik, ia menangis karena ia tidak tega melihat putranya menahan rasa sakit. Taufiq pun segera menghubungi mama dan papanya untuk datang ke rumahnya karena ia dan Cinta akan membawa Will kerumah sakit.
"Bi, bentar lagi mama dan papa akan datang. Sebelum mereka datang, saya titip Pram dan Jay ya." Ucap Taufiq sambil mengambil kunci mobilnya. Ia menggendong Will dan membawanya ke dalam mobil. Cinta mengikutinya dari belakang. Cinta terus saja menangis. Di mobil Will di gendong oleh Cinta sedangkan Taufiq memilih fokus untuk menyetir.
Sesampai di rumah sakit, Will langsung di tangani olehh dokter di sana. Taufiq memeluk istrinya yang tak henti hentinya menangis.
"Ini salahku mas. Seharusnya aku membawa Will dari kemaren untuk periksa tapi aku malah memberikan obat yang aku beli di apotik. Aku fikir Will hanya kurang nafsu makan aja, aku gak tau kalau akhirnya Will jadi demam tinggi seperti ini, ia juga mimisan. Aku takut Wil kenapa napa. Aku takut ia akan meninggalkan aku mas." ucap Cinta, ia menyalahkan diri sendiri yang tak langsung membawa putranya untuk periksa dan malah memilih untuk beli obat penafsu makan di Apotik.
__ADS_1
"Sudahlah sayang. Semua sudah terjadi. Lagian Will sekarang sudah di tangani oleh dokter. Yang pentin sekarang kita berdoa, memohon pada Allah agar Will gak kenapa napa. Kamu gak boleh sedih, Will pasti sedih melihat ibunya nangis kayak gini." ucap Taufiq menghapus air mata istrinya. Taufiq sendiri juga sebenarnya sedih melihat anaknya yang sakit dan pucat seperti itu apalaagi tiba tiba tubuhnya memar memar biru gitu sehabis di pukul. Padahal pas mandi sore tadi badannya biasa aja dan tak ada memar sedikitpun.
Setelah menunggu lama, seorang dokter keluar dan memberi tahu bahwa Will gak papa, dia hanya terkena virus tapi virus itu tidak berbahaya. Awalnya Cinta percaya tapi Taufiq merasa ada yang janggal, ia tidak terlalu mempercayai dokter itu. Ia dan Cinta pun memutuskan untuk membawa Will ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap.
Taufiq mencoba konsultasi dengan beberapa temannya yang sudah menjadi dokter di rumah sakit besar itu. Setelah konsultasi, dokter mengecek trombosit dan lain sebagainnya. Setelah itu, di adakan pemeriksaan pemeriksaan lainnya. Sampai akhirnya salah satu dokter kawannya bilang kalau Will harus cek darah. Tapi itu tidak cukup, para dokter mencoba untuk periksa keping darah. Dan setelah itu dokter sekaligus temannya mengatakan bahwa Will terkena kanker darah.
Mendengar itu, Cinta langsung menangis meraung raung. Taufiq terus mencoba untuk menenangkan istrinya padahal dirinya sendiri merasa hatinya begitu sakit mendengar saat dokter memvonis anaknya kena kanker darah. Sungguh, orang tua mana yang tidak sok, orang tua mana yang tidak sakit melihat putra kesayangannya di vonis penyakit yang menakutkan.
"Bunda gak boleh nangis. Will sedih lihat bunda nangis." ucap Will sambil menghapus air mata Cinta. Cinta yang mendengar ucapan Will semakin menangis, ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Taufiq yang mellihat itu semua terus mencoba menenangkan istrinya. Ia memeluk Cinta dan juga Will.
"Will, gak sakit kog. Bunda jangan nangis lagi ya. Will sedih melihat bunda nangis seperti ini." Ucap Will tersenyum.
__ADS_1
"Kamu dengar kan sayang, anak kita sedih melihat bundannya menangis." ujar Taufiq sambil terus menghapus air mata Cinta.
"Will anak yang kuat, iya kan. Will pasti bisa melalui ini semua. Will janji ya, apapun yang terjadi Will gak boleh ninggalin bunda sama ayah. Oke." ucap Taufiq tersenyum sambil mencium kening putranya. Kini Wil sudah berumur 2 tahun tapi kenapa penyakit itu harus menggrogoti tubuh putranya. Taufiq sedih tapi ia berusaha tersenyum dan tegar karena ia gak ingin terlihat lemah di depan anak dan istrinya.
"Will gak akan ninggalin kalian. Will sayang ayah dan bunda." Ucap Will tersenyum.
Sesampai di rumah sakit Singapure, Will langsung menjalani rangkaian pemeriksaan dan setelah selesai dengan berbagai macam pemeriksaan ini dan itu. Akhirnya Dokter resmi memvonis bahwa Adi Wilaga mengidap penyakit Leukimia. Cinta dan Taufiq pun menangis, yah tangisan mereka akhirnya pecah.
Taufiq dan Cinta pun memutuskan untuk tinggal di Singapure untuk mengobati Will. Taufiq meminta sang papa untuk mengurus perusahaanya di Indonesia sekalian menitipkan Pram dan Jay kepada sang papa dan keluarga besar mereka. Sekarang mama dan papanya serta ayah dan bunda Cinta menginap di rumah Cinta untuk mengurus Pram dan jua Jay apalagi mereka seringkali menanyakan Taufiq dan Cinta beserta Will. Aisyah juga gak bisa menenangi mereka berdua jika mereka menangis menanyakan sang budan.
Untunglah mama dan papanya Taufiq selalu mempunyai cara yang jitu dan membuat mereka lupa dengan keuda orang tuanya serta saudara kembarnya. Ayah dan bundannya Cinta juga selalu membawakan mereka mainan dan membuatkan kue kesukaannya, mereka akan melakukan apapun agar Pram dan Jay gak sedih lagi karena harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan juga saudara kembanya. Cinta juga sudah menghubungi Elsa dan memberitahu keadaan putranya. Cinta juga menitipkan RESTO miliknya selama Cinta ada di Singapure. Ia juga meminta tolong Elsa memberi tahu keadaannya kepada Bunga Inah karena Cinta tidak bisa menghubunginnya. Entahlah kenapa lagi dengan hp nya sampai sampai Cinta sulit menghubungi bunda Inah.
__ADS_1