Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Mencari Anaknya Ibu Wati


__ADS_3


 


Keesokan harinya, sekitar jam 8 pagi, Taufiq menempati janjinya untuk mengajak sang istri bertemu dengan anaknya Ibu Wati di tempat kerjanya.


"Mas, jadi kan hari ini?" tanya Cinta.


"Jadi dong sayang, kamu sudah siap?" tanya Taufiq.


"Sudah mas, Ayo berangkat."


"Ayo."


Setelah itu mereka berdua pun segera masuk ke dalam mobil.


"Mas, tau alamat tempat kerjanya dimana?" tanya Cinta.


"Iya tau sayang, Ibu Wati dulu kan pernah bilang ke aku tempat kerja putranya itu. Dan aku masih ingat." jawab Taufiq.


"Jauh gak mas, tempat kerjanya?" tanya Cinta.


"Enggak kog, 45 menit sudah nyampek." jawab Taufiq tersenyum.


Setelah itu Cinta diam dan tak lagi bersuara. Hingga akhirnya mereka tiba di depan perusahaan besar yang kini sedang maju pesat.


"Kayaknya aku pernah ke sini." gumam Taufiq.


"Mas, kenapa bengong ayo." ucap Cinta yang sudah membuka pintu mobil tapi suaminya malah bengong menatap gedung tinggi yang ada di depannya.


"Iya, bentar." Taufiq pun segera turun dari mobil. Saat mereka mau masuk, mereka di hadang oleh pak satpam.


"Maaf pak, ada keperluan apa?" tanya Pak Satpam itu dingin.


"Maaf, saya boleh nanya sesuatu?" ujar Taufiq sopan karena melihat wajah satpam yang gak bersahabat.


"Mau nanya apa?" tanya Satpam itu masih dengan wajah dinginnya.


"Yank, nama anaknya Bu Wati siapa ya?" tanya Taufiq yang bingung karena ia sendiri lupa dengan nama putranya Ibu Wati itu.


"Aku juga gak tau mas, lupa." jawab Cinta dengan berbisik.


"Bapak tau gak, anak seorang pekerja yang ibunya namanya Ibu Wati, maaf, saya lupa namanya." ujar Taufiq yang masih berusaha untuk tetep sopan.


"Saya tak tau." jawab Satpam itu dingin yang membuat Cinta geram dengan satpam yang tak tau sopan santun itu.


Namun tak lama kemudian, sebuah mobil mewah datang dan berhenti di depan Taufiq dan juga Cinta.


"Ayah, bunda. Ngapain di sini?" tanya Ani, ya itu Ani yang turun dari mobil mewah bersama sang suami.


"Kami mencari anaknya Ibu Wati sayang, tapi pak satpam ini di tanya wajahnya dingin dan judes." jawab Cinta kesal. Ani yang melirik ke arah Pak Satpam itu dengan wajah menakutkan.


"Bapak silahkan pulang dan jangan kembali lagi." ujar Ani dingin. Pak Satpam itu pun gemeteran karena sudah berurusan dengan orang yang salah.


"Tapi, nyonya......."


"Bapak tau, perusahaan ini milik suami saya. Dan bapak perlu tau, kedua orang tua yang ada di hadapan bapak ini adalah kedua orang tua saya. Dan perlu Anda tau, perusahaan yang saya pimpin selama ini adalah milik ayah saya bahkan resto tempat bapak makan bersama keluarganya itu adalah resto milik bunda saya. Bapak tau, selamam ini ayah dan bunda saya sangat di hormati oleh orang lain dan tak pernah ada orang yang beraninya membuat ayah dan bunda saya jengkel. Dan Anda yang hanya sebagai pegawai biasa dengan gaji rendahan berani bersikap tak sopan kepada kedua orang tua saya. Siapapun dia, walaupun dia adalah bukan orang tua saya, tapi saya tak suka mempunyai karyawan sombong  seperti Anda. Silahkan Anda angkat kaki dari sini karena saya sudah muak dengan wajah orang orang sombong seperti Anda." ujar Ani yang sangat dingin sedangkan suaminya hanya tersenyum melihat sang istri yang begitu tegas. Bahkan kedua orang tuanyaa, Taufiq dan Cinta tak menyangka putrinya yang masih belasan tahun itu bisa bersikap layaknya orang dewasa bahkan sangat tegas.


"Bunda, bunda sedang apa ke sini?" tanya Ani lembut setelah Pak Satpam yang sombong itu pergi dengan wajah lusuhnya.


"Saya mau mencari anaknya Ibu Wati nak, tapi kami lupa dengan namanya. Hanya tau wajahnya saja." jawab Cinta.


"Tapi ada apa bunda, sampai mencarinya ke sini?" tanya Ani.


"Yank, bawa masuk aja dulu ayah sama bunda, gak enak jika ngobrol disini." ujar Rachel.


"Iya mas. Ayah, bunda. Ayo ikut kami masuk ke dalam." ucap Ani lembut.


Merekapun masuk ke dalam kantor dan masuk ke ruangan Rachel yang sangat luas sekali.


"Sekarang, ayah dan bunda ceritakan apa yang terjadi sampai ayah dan bunda datang ke sini." ujar Ani sedangkan Taufiq dan Rachel memilih untuk diam.


"Nak, Ibu Wati sudah meninggal."


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Bunda tau dari mana kalau Ibu Wati sudah meninggal?" tanya Ani kaget.


"Kemaren bunda ke rumahnya dan rumah nya sangat sepi. Terus bunda tanya ke tetangga dan dia bilang Ibu Wati sudah meninggal. Makanya bunda ke sini untuk mencari anaknya Ibu Wati dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi." jawab Cinta.


"Anaknya Ibu Wati?" gumam Rachel. Jangan jangan........


"Apakah namanya Putra?" tanya Rachel.


"Iya mungkin nak, karena kami lupa namanya siapa." jawab Cinta.


"Bentar, saya akan mencari fotonya terlebih dahulu." ujar Rachel, Rachel meminta sekertarisnya untuk mencari data bernama Putra karena di sana ada fotonya.


"Apakah orangnya ini?" tanya Rachel karena memang dirinya belum pernah bertemu dengan Ibu Wati dan anaknya,. Sedangkan Ani tak pernah mengurus karyawan suaminya, karena ia sendiri sibuk mengurus perusahaannya sendiri jadi mereka berdua gak ada yang tau kalau Anaknya Ibu Wati itu kerja di perusahaan Rachel.

__ADS_1


"Iya benar nak. Ini orangnya, bunda masih ingat dengan wajahnya." ucap Cinta.


"Ya Allah bunda, dia juga sudah meninggal." ucap Rachel sedih.


"Apa?" tanya Taufiq dan Cinta kaget.


"Kamu beneran yank?" tanya Ani tak percaya.


"Iya yank kejadiannya sekitar satu setengah bulan yang lalu. Beberapa bulan yang lalu dia seringkali minta cuti karena ibunya yang sakit, dia juga sempat meminjam uang perusahaan sekitar 100 juta buat berobat ibunya. Ia juga jarang masuk kerja bahkan beberapa kali selalu pulang terlebih dahulu padahal waktu itu belum waktunya pulang, setiap kali di tanya, kenapa pulang duluan? karena ibunya sedang sakit dan membutuhkan dirinya. Sedangkan sang istri hanya asyik main hp dan gak mau bantu dia buat jaga ibunya.


Hingga akhirnya aku denger denger ibunya  meninggal dan di makamkan di kampung halamannya, banyak pegawai sini yang ikut ke kampung karena pas meninggal itu adalah hari Sabtu sore kalau gak salah, jadi para pegawai urunan agar mereka bisa pergi ke kampung ibunya Putra, kebetulan juga esoknya kan hari MInggu jadi mereka semua libur kerja.


 


Dan setelah itu, beberapa hari kemudian, aku denger gosip Putra menceraikan istrinya karena ia menganggap istrinya adalah istri durhaka karena ia gak mau membantu dan merawat ibunya di kala ibunya sakit dan butuh bantuan.


Dan sejak ia bercerai dengan istrinya itu, Putra seperti orang linglung. Dia kerja juga gak semangat seperti dulu lagi, Putra seperti kehilangan semangat hidupnya. Dan setelah itu, yang aku tau, dia kecelakaan setelah pulang kerja dan langsung meninggal di tempat Jenazahnya juga di makanmkan di kampung halamannya. Ada yang mengurus saudara jauh dari ibunya." ucap Rachel menjelaskan panjang lebar. Yang membuat Cinta, Taufiq dan Ani menitikkan air mata.


Rachel walaupun dia seorang CEO dan juga direktur utama di perusahannya, tapi ia selalu tau kabar setiap pegawainya karena bagi Rachel itu penting. Karena bagaimana pun jika tak ada pegawai maka perusahaan ini tak akan bisa berdiri sampai sekarang. Jadi karyawannya adalah orang orang penting yang harus Rachel jaga dan di lindungi. Rachel tak akan segan segan memberikan bantuan langsung jika ada karyawannya yang kenapa napa.


"Aku gak akan menyangka kehidupan Ibu Wati dan putranya akan setragis itu. Padahal selama ini aku mengira hidupnya sudah bahagia dan enak banget tapi gak aku sangka malah kayak gini. Andai aku gak ke rumah Ibu Wati kemaren, mungkin aku tak akan tau apa yang terjadi." ucap Cinta menangis yang langsung di peluk oleh Taufiq agar bisa menenangkannya. Taufiq tau betul bagaimana perasaan istrinya itu. Karena Cinta sudah menyayangi Ibu Wati sebagaimana ibunya sendiri.


Ani pun juga tak kalah sedihnya karena ia juga tak menyangka bahwa Ibu Wati akan meninggal secepat itu dan bahkan putranya meninggal di depan perusahaan suaminya namun Ani malah gak tau apa apa. Suaminya juga gak ngasih tau, mungkin ia fikir gak ada gunanya juga memberi tau Ani mengingat Ani juga tak kenal dengan karyawan suaminya.


"Sabar sayang, pasti ada hikmahny di balik musibah ini." ucap Taufiq menenangkannya.


"Iya apa yang ayah katakan itu benar, mungkin memang ada hikmah di balik setiap kejadian. Aku yakin Ibu Wati dan putranya sudah hidup bahagia di alam sana." ujar Ani yang juga ikut menenangkan bundannya.


Cinta pun berusaha untuk bisa mencoba untuk sabar, ia yakin memang semua ini sudah takdir mereka. Bukankah setiap manusia ada garis hidup masing masing.


Keimanan seorang mukmin yang benar harus mencakup enam rukun. Yang terakhir adalah beriman terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk.  Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang


Dalam pembahasan takdir, kita sering mendengar istilah qodho’ dan qodar. Dua istilah yang serupa tapi tak sama. Mempunyai makna yang sama jika disebut salah satunya, namun memiliki makna yang berbeda tatkala disebutkan bersamaan. Jika disebutkan qodho’ saja maka mencakup makna qodar, demikian pula sebaliknya. Namun jika disebutkan bersamaan, maka qodho’ maknanya adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan, maupun perubahan terhadap sesuatu. Sedangkan qodar maknanya adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Dengan demikian qodar ada lebih dulu kemudian disusul dengan qodho’.


Perlu kita ketahui bahwa keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip. Keempat prinsip ini harus diimani oleh setiap muslim.


Pertama: Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui dengan ilmunya yang azali dan abadi tentang segala sesuatu yang terjadi baik perkara yang kecil maupun yang besar, yang nyata maupun yang tersembunyi, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah maupun perbuatan makhluknya. Semuanya terjadi dalam pengilmuan Allah Ta’ala.


Kedua: Mengimanai bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfudz catatan takdir segala sesuatu sampai hari kiamat. Tidak ada sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat.


Dalil kedua prinsip di atas terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,


“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70).


“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59).


“… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”[3]


Ketiga: Mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluknya.


Keempat: Mengimani dengan penciptaan Allah. Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu baik yang besar maupun kecil, yang nyata dan tersembunyi. Ciptaan Allah mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya. Perkataan dan perbuatan makhluk pun termasuk ciptaan Allah.


Dalil kedua prinsip di atas adalah firman Allah Ta’ala,


“.Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Az Zumar 62-63)


“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu“.” (QS. As Shafat:96).[4]


 


 


 


Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan kehendak dan kemampuan manusia untuk berbuat. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang ada menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu.


Dalil dari syariat, Allah Ta’ala telah berfirman tentang kehendak makhluk,


“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (QS. An Nabaa’:39)


“Isteri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. …”(Al Baqoroh:223)


Adapun tentang kemampuan makhluk Allah menjelaskan,


“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghobun :16)


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….”(QS. Al Baqoroh:286)


Sedangkan realita yang ada menunjukkan bahwa setiap manusia mengetahui bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan. Dengan kehendak dan kemampuannya, dia melakukan atau meninggalkan sesuatu. Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya (seperti berjalan), dengan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya, (seperti gemetar atau bernapas). Namun, kehendak maupun kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak dan kemampuan Allah Ta’la karena Allah berfirman,


“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwiir:28-29). Dan karena semuanya adalah milik Allah maka tidak ada satu pun dari milik-Nya itu yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh-Nya.[5]


Macam-Macam Takdir


Pembaca yang dirahmati Allah, perlu kita ketahui bahwa takdir ada beberapa macam:


[1] Takdir Azali. Yakni ketetapan Allah sebelum penciptaan langit dan bumi ketika Allah Ta’ala menciptakan qolam (pena). Allah berfirman,

__ADS_1


“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallaam bersabda, “… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”[6]


[2] Takdir Kitaabah. Yakni pencatatan perjanjian ketika manusia ditanya oleh Allah:”Bukankah Aku Tuhan kalian?”. Allah Ta’ala berfirman,


“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?” (QS. Al A’raaf 172-173).


[3] Takdir ‘Umri. Yakni ketetapan Allah ketika penciptaan nutfah di dalam rahim, telah ditentukan jenis kelaminnya, ajal, amal, susah senangnya, dan rizkinya. Semuanya telah ditetapkan, tidak akan bertambah dan tidak berkurang. Allah Ta’ala berfirman,


“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al Hajj:5)


[5] Takdir Hauli. Yakni takdir yang Allah tetapkan pada malam lailatul qadar, Allah menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam satu tahun. Allah berfirman,


“Haa miim . Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah , (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul” (QS. Ad Dukhaan:1-5)


[5] Takdir Yaumi. Yakni  pnentuan terjadinya takdir pada waktu yang telah ditakdirkan sbelumnya. Allah berfirman,


“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan . “ (QS. Ar Rahmaan: 29).


Ibnu Jarir meriwayatkan dari Munib bin Abdillah bin Munib Al Azdiy dari bapaknya berkata, “Rasulullah membaca firman Allah “ Setiap waktu Dia dalam kesibukan”, maka kami bertanya: Wahai Rasulullah apakah kesibukan yang dimaksud?. Rasulullah bersabda :” Allah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan meninggikan suara serta merendahkan suara yang lain”


Sikap Pertengahan Dalam Memahami Takdir


Diantara prinsip ahlus sunnah adalah bersikap pertengahan dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, tidak sebagaimana sikap ahlul bid’ah. Ahlus sunnah beriman bahwa Allah telah menetapkan seluruh taqdir sejak azali, dan Allah mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah tetapkan.


Adapun orang-orang yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah, mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qodariyyah, mereka mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah terhadap amal hamba.


Kelompok yang lain adalah yang  terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Mereka dikenal dengan kelompok Jabariyyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah. Jadi seolah-olah hamba dipaksa dalam perbuatannya.[8]


Kedua kelompok di atas telah salah dalam memahai takdir sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla,


“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. At Takwiir:28-29)


Pada ayat (yang artinya), “ (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menempuh jalan yang lurus” merupakan bantahan untuk Jabariyyah karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi hamba. Hal ini bertentangan dengan keyakinan mereka yang mengatakan bahwa hamba dipaksa tanpa memiliki kehendak. Kemudian Allah berfirman (yang artinya), “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam.” Dalam ayat ini terdapat bantahan untuk Qodariyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh hamba tanpa sesuai dengan  kehendak Allah karena Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.[9]


Takdir Baik dan Takdir Buruk


Takdir terkadang disifati dengan takdir baik dan takdir buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang dimaksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknnya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang merupakan perbuatan Allah, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah yang buruk. Seluruh perbuatan Allah mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah. Untuk lebih jelasnya bisa kita contohkan sebagai berikut.


Seseorang yang terkena kanker tulang ganas pada kaki misalnya, terkadang membutuhkan tindakan amputasi (pemotongan bagian tubuh) untuk mencegah penyebaran kanker tersebut. Kita sepakat bahwa terpotongnya kaki adalah sesuatu yang buruk. Namun pada kasus ini, tindakan melakukan amputasi (pemotongan kaki) adalah perbuatan yang baik. Walaupun hasil perbuatannya buruk (yakni terpotongnya kaki), namun tindakan amputasi adalah perbuatan yang baik. Demikian pula dalam kita memahami takdir yang Allah tetapkan. Semua perbuatan Allah adalah baik, walaupun terkadang hasilnya adalah sesuatu yang tidak baik bagi hambanya.


Namun yang perlu diperhatikan, bahwa hasil takdir yang buruk terkadang di satu sisi buruk, akan tetapi mengandung kebaikan di sisi yang lain. Allah Ta’ala berfirman :


“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum:41). Kerusakan yang terjadi pada akhirnya menimbulkan kebaikan. Oleh karena itu, keburukan yang terjadi dalam takdir bukanlah keburukan yang hakiki, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan.[10]


Bersemangatlah, Jangan Hanya Bersandar Pada Takdir


Sebagian orang memiliki anggapan yang salah dalam memahami takdir. Mereka hanya pasrah terhadap takdir tanpa melakukan usaha sama sekali. Sunngguh, ini adalah kesalahan yang nyata.  Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas? Apabila kita sudah mengambil sebab dan mendapatkan hasil yang tidak kita inginkan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya sudah merupakan ketetapan Allah.  Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah\, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah\, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”[11] [12]


Faedah Penting


Keimanan yang benar terhadap takdir akan membuahkan hal-hal penting, di antaranya sebagai berikut :


Pertama: Hanya bersandar kepada Allah ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada takdir Allah.


Kedua: Seseorang tidak sombong terhadap dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Allah. Kekaguman terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat tersebut.


Ketiga: Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah yang menimpa dirinya, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan ketentuan Allah. Allah berfirman,


“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al Hadiid:22-23).[13]


 


(Artikel ini saya ambil dari muslim.or.id yang berjudul memahami takdir dengan benar)


 


 


\=================


Setelah tau kebenerannya tentang Anaknya ibu Wati, Cinta dan Taufiqpun pamit pulang karena tak ingin mengganggu Ani dan Rachel yang sedang sibuk bekerja. Di perjalanan Cinta masih aja menangis karena ia merasa bersalah karena dirinya tak ada di saat Ibu Wati dan anaknya butuh support dan juga butuh dukungan dari orang orang terdekatnya.


\===============


Oh ya untuk namanya anaknya Ibu Wati, aku sedikit lupa. Apakah sebelumnya sudah pernah aku sebutkan atau gak, aku bener bener lupa. Jadi, jika ada yang tau, tolong komen di bawah ya. Biar nanti akan akau ubah. Terima kasih sebelumnya karena sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini.


Karena aku tidak terlalu mahir dalam hal agama, jadi untuk penejelasannya saya ambil dari mbah google, saya juga sudah menulis dari blog mana saya dapat artikel itu.


Terima kasih


 


__ADS_1


__ADS_2